Mohon tunggu...
Ika Nur Aini
Ika Nur Aini Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga

Belajar itu menyenangkan. Bisa dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cerita Tari Gandrung Banyuwangi

3 November 2019   10:45 Diperbarui: 3 November 2019   10:54 370 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerita Tari Gandrung Banyuwangi
travel.detik.com

Tari Gandrung adalah tarian dari daerah Banyuwangi. Tarian ini seringkali digunakan dalam berbagai acara, misalnya pembukaan acara-acara resmi, hiburan rakyat dan pentas-pentas seni. Ada yang tahu arti dari kata "Gandrung"?

Kata "Gandrung" itu memiliki arti suka atau sangat menyukai, bisa juga diartikan terpesona. Nah, ada cerita yang menarik dari tarian daerah Banyuwangi ini.

Pada zaman dahulu, daerah Banyuwangi terkenal dengan sebutan Blambangan. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani karena tanah di Blambangan sangat subur. Pada masanya, terkenal juga seorang Dewi Sri atau Dewi Padi yang membawa kesejahteraan masyarakat Blambangan, karena melimpah hasil tanaman padi pada waktu itu.

Tari Gandrung pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang membentuk kelompok. Para penari ini adalah penduduk Blambangan yang masih tersisa usai terjadinya Perang Puputan Bayu, yaitu rakyat yang melakukan perlawanan terhadap tantara VOC. Tanah Blambangan yang sangat subur dan rakyatnya hidup makmur tiba-tiba didatangi pasukan VOC yang memporak-porandakan bumi Blambangan. Tentara VOC ingin menguasainya. Rakyat pun mulai hidup sengsara. Mereka semua berjuang keras melawan tantara VOC untuk mempertahankan bumi Blambangan. Berbekal senjata yang ada bagi rakyat Blambangan untuk melawan pasukan VOC dengan perlengkapan senjata yang lebih canggih. Namun, hal tersebut tidak membuat pudar semangat para pejuang mempertahankan tanah Blambangan.

Perlawanan dilaksanakan di bawah pimpinan Pangeran Rempeg Jogopati. Suasana menjadi sangat panas. Suara tembakan terdengar mengerikan, rintihan pasukan yang terserang membuat seluruh alam menangis, anak-anak kecil, ibu, dan rakyat lainnya yang tidak tergabung dalam perang berharap anggota keluarganya kembali dengan kondisi masih bernyawa. Pertempuran sangat keras. Banyak korban tewas khususnya dari tanah Blambangan. Jumlah rakyat semula ada puluhan ribu kini hanya tersisa sangat sedikit. Akibat perlawanan tersebut hidup rakyat semakin menderita. Tanah mereka yang mulanya di tempati sebagai rumah dan tanah untuk bercocok tanam kini telah hancur. Sebagian anak-anak kecil sudah tidak mempunyai bapak ataupun ibu. Mereka banyak yang gugur dalam perjuangan.

Selain ditinggal gugur anggota keluarganya saat peperangan, rakyat Blambangan mengalami kesedihan yang mendalam karena pimpinannya yaitu Pangeran Rempeg Jogopati ikut gugur dalam peperangan waktu itu. Demi mempertahankan kehidupan mereka pun menyebar ke beberapa daerah. Ada yang pergi ke hutan, daerah pegunungan ataupun ke desa-desa yang jaraknya lebih aman dari serangan VOC. Mereka hidup seadanya. Mengambil makanan dari tanaman yang ada. Rakyat yang masih tersisa tersebut ada yang berjuang kembali menghidupkan bumi Blambangan. Dari beberapa jiwa yang masih hidup tercipta sekelompok laki-laki untuk berkeliling menampilkan sebuah tarian yang dinamakan Gandrung. Pada waktu itu tarian Gandrung digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan kembali rakyat Blambangan yang tersisa.

Setelah musim panen sekelompok penari laki-laki menjalankan aksinya. Berkeliling membawa alat musik kendang dan beberapa rebana. Mereka datang ke daerah-daerah ditempatinya para rakyat yang masih bertahan hidup usai peperangan. Sekelompok penari itu juga tidak lupa menghampiri tempat para tentara VOC tinggal. Tujuannya untuk mengetahui keberadaan VOC saat ini dan kekuatannya, sehingga rakyat Blambangan bisa mengatur strategi merebut kembali tanah Blambangan. Sebagai imbalan berkeliling memberikan hiburan, rakyat memberikan sedikit hasil panen bagi penari Gandrung. Para penari mengumpulkan hasil kelilingnya itu dan dibagikan kembali kepada rakyat korban perang yang kehidupannya masih sengsara.

Ternyata usaha sekelompok penari gandrung itu membuahkan hasil yang baik. Para rakyat yang hidup menyebar kini kembali bersatu untuk merebut tanah Blambangan. Penari gandrung dan rakyat mengatur rencana yang dirahasiakan dari tentara VOC. Pada saat kelompok gandrung menampilkan tariannya, dengan iringan musik dan gerakan indah membuat para tentara terlena. Para VOC terbawa ke dalam iringan Gandrung. Pada saat itulah rakyat yang sudah Bersatu melakukan aksinya kembali melawan tentara VOC. Berkat kesabaran dalam mengumpulkan rakyat yang masih tersisa dan mengatur rencana, serta kesabaran dalam menerima perlakuan VOC dan keikhlasannya untuk mempertaruhkan nyawa demi tanah Blambangan akhirnya berbalas kebaikan dari Yang Maha Kuasa.

Kini bumi Blambangan sudah kembali ke tangan rakyat. Para tentara VOC mundur karena banyak yang kalah dalam perang.  Demi menjaga perjuangan rakyat, maka tarian Gandrung dilestarikan oleh rakyat Blambangan atau yang kini dikenal dengan sebutan Banyuwangi. Tarian Gandrung saat ini sudah ditarikan oleh perempuan. Pada waktu itu ada seorang anak gadis kecil bernama Semi yang sedang sakit parah. Sang ibu berharap anaknya bisa sembuh kembali. Beliau pun berkata kepada anaknya dalam bahasa Osing, "Kadhung sira waras, sun dhadekaken seblang, kadhung sing yo sing" jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia maksudnya adalah apabila anaknya sembuh dari penyakitnya itu, maka ia akan dijadikan sebagai penari.

Berkat kekuatan do'a ibu, Semi pun sembuh dari penyakitnya. Seiring waktu berjalan pada saat itu bertepatan dengan kepergian penari gandrung laki-laki yaitu Marsan. Marsan adalah seorang penari Gandrung laki-laki yang terkenal pada masanya. Beliau menjadi penari Gandrung laki-laki yang terkahir. Tarian Gandrung akhirnya terus dijaga dengan adanya penari perempuan yakni Semi. Tidak hanya Semi saja, adik-adiknya pun ikut belajar bersama. Berjalannya waktu, kini tari Gandrung semakin dikenal dan menjadi ciri khas kota Banyuwangi.

VIDEO PILIHAN