Syamsurijal Ijhal Thamaona
Syamsurijal Ijhal Thamaona belajar menulis dan meneliti

Subaltern Harus Melawan Meski Lewat Tulisan Entah Esok dengan Gerakan Fb : Syamsurijal Ad'han

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Toleransi Mengesankan dari "Tana Lepongan Bulan"

15 Maret 2019   18:01 Diperbarui: 16 Maret 2019   09:35 101 8 4
Toleransi Mengesankan dari "Tana Lepongan Bulan"
ilustrasi. sumber: kompas.com/reny sri ayu

Gelap baru saja jatuh ke bumi, saat rombongan kami mendekat ke gerbang perbatasan Tana Lepongan Bulan, kini disebut Tana Toraja, salah satu kabupaten di ujung utara Sulawesi selatan.

Gapura berwujud tongkonan (rumah adat yang berwujud rumah panggung; simbol kekerabatan) samar-samar menjulang gagah di keremangan senja yang terlihat semakin kelam. Sinar lampu kendaraan menolong kami untuk tetap bisa melihat jelas keberadaan pintu gerbang tersebut.

Begitu melewati gerbang, suasana gelap dan hujan berinai-rinai yang tiba-tiba runtuh dari langit membuat kami kesulitan untuk melihat suasana sekeliling. Tetapi sekali dua kali, kami masih bisa menikmati rumah ibadah yang tegak menjulang sepanjang kami melewati perbatasan Toraja. Gereja dan juga masjid, terlihat berdiri di sisi jalan. Tak jarang letak antara masjid dan gereja terasa tidak berjauhan, sebab baru beberapa jenak kami melihat gereja, tak berselang lama kami juga sudah menyaksikan masjid yang berdiri anggun.

Kedatangan kami ke Tana Lepongan Bulan dalam rangka pembuatan film pendek bertema toleransi beragama. Judulnya Tondok Solata (Kampung Persahabatan).

Film ini adalah salah satu proyek Litbang Agama Makassar untuk menyambungkan moderatisme agama ke kalangan milenial. Kaum milenial ini, sama kita tahu, memiliki dunianya sendiri. 

Dunia yang sedikit banyaknya ditentukan oleh internet dan media sosial. Karena itulah kampanye soal moderatisme agama harus bisa dinikmati melalui media sosial pula, seperti youtube, whatsapp, instagram ataupun facebook. Salah satu bentuk penyajiannya adalah film-film pendek atau film dokumenter. Jika para pengusung moderatisme agama tidak melakukan itu, maka percayalah kalangan milenial akan diterkam oleh ekstremisme agama di media sosial.

Sudah barang tentu memilih Toraja sebagai lokasi pembuatan film pendek tentang toleransi bukan tanpa sebab. Tidak hanya kabar lisan, tapi juga beragam tulisan telah melukiskan indahnya kerukunan beragama di daerah ini. 

Saya sendiri telah berkali-kali berkunjung ke Toraja dan setiap kali kunjungan itu, saya dapat merasakan kehangatan masyarakat Lepongan Bulan. Sebagai seorang muslim, saya diterima di kampus Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STKN-tempat yang paling sering saya kunjungi), layaknya kerabat dan sahabat yang sangat dekat.

Dalam kunjungan kali ini pun saya merasakan pengalaman toleransi yang mengesankan tersebut. Di mulai saat subuh hari mulai merayap. Dari tempat saya menginap di Rantepao, azan terdengar berkumandang dari Mesjid Agung.

Panggilan untuk melaksanakan salat subuh bagi kaum muslim berkumandang menembus dinding rumah, mengelus kalbu agar segera bangkit dari peraduan. Tak berselang lama, lonceng gereja pun terdengar bertalu-talu. Suara ritmisnya merayap-rayap di udara, mengingatkan kaum Nasrani, baik Kristen maupun yang Katolik untuk bangun beribadah pagi. Di Katolik diistilahkan dengan tuguran (ibadat subuh) atau laudes (ibadat pagi).

Panggilan syahdu dari azan subuh, diikuti tak lama kemudian oleh irama lonceng yang ritmis. Perpaduan dua irama spiritualitas yang memukau. Kata orang yang tinggal di sekitar tempat itu, peristiwa itu telah berlangsung lama. Tak ada yang merasa terganggu. Tak pernah menimbulkan masalah, bahkan terasa sebagai perpaduan rohani yang menawan. 

Dan benarlah..., cerita azan dan lonceng gereja yang terdengar beriringan itu adalah penanda awal, bahwa warga Toraja hidupnya selama ini memang selalu seiras-seirama, meski mereka tidak harus satu agama. 

Imam Mesjid Agung Rantepao, Ustaz Mujahidin, yang telah berdiam lebih kurang tiga puluh tahun di Toraja ini merasakan betapa hangatnya kekerabatan di tempat ini. Bukan hanya karena orang Nasrani yang berada di sekitarnya selalu ramah padanya, tapi juga orang Nasrani itu selalu menjaga umat Islam saat menjalankan ibadah.

"Saat lebaran Idulfitri, saudara-saudara dari Nasrani ikut menjaga ibadah kami, sebaliknya jika perayaan natal kami pun terlibat menjaga suasana aman." kata Ustaz ini dengan paras yang semringah. 

Tentu pandangan Ustaz Mujahidin dalam menggambarkan keragaman di Tana Lepongan Bulan ini sangat terkait dengan apa yang Ia rasakan; Bagaimana keberadaan dia saat berada di komunitas yang mayoritas beragama berbeda dengannya. 

Bagaimana Ia diperlakukan, dan seterusnya. Singkatnya Ia melihat keragaman dan kehidupan di dalamnya berdasarkan bagaimana dia berada. Baru dari situlah ia bisa melihat konteks keberagaman itu apa adanya. "We don't see things (diversity) as they are, we see things as we are". Begitu lebih kurang kata Kenan Malik.

Hari berikutnya dalam kunjungan ke Tana Lepongan Bulan, kami berkunjung ke salah satu tongkonan yang bernama Tongkonan Ne'Leppe To' Karau Nek Fany. Di tempat ini kami menyaksikan orang Muslim dan Kristen berdiam di sekitar tongkonan tersebut dengan damai. 

Keduanya bahkan menyambut kami dengan ramah. Dua tokoh adat yaitu Yunus Tajuddin beragama Islam dan Cornelius Pasulu dari Kristen menyambut kami dengan ramah. Yang muslim datang dengan kopiah hitam, berkaus hitam dan bersarung, sementara yang Kristen mengenakan sarung, tapi tak berkopiah. 

Ketika waktu salat tiba, Cornelius memberi isyarat kepada Yunus Tajuddin untuk menyiapkan tempat salat kepada kami. Yunus bergegas menyiapkan sajadah, sementara Cornelius meminta kepada beberapa anak muda untuk membersihkan lantai di bawah tongkonan untuk salat. 

Ibu Naomi, seorang Nasrani dan dosen di STKN yang ikut dalam rombongan, menawarkan bila ingin salat di atas tongkonan tidak jadi soal. Tawaran yang terlihat bersungguh-sungguh, bukan sekedar basa-basi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2