Mohon tunggu...
Iik Nurulpaik
Iik Nurulpaik Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Akademisi, Pemerhati Pembangunan Bangsa

Edukasi jalan literasi peradaban

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pergeseran Peran Dominasi Pria atas Wanita

6 Desember 2022   17:42 Diperbarui: 6 Desember 2022   17:54 44
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Patricia Aburdence dalam bukunya Megatrend for Woman, mengemukakan pula adanya bukti pergeseran peran dominasi kaum pria atas wanita. Kasus Amerika Serikat  menunjukan bahwa ternyata lebih dari setengah jumlah pejabat, manajer, dan profesional di 50 bank di negeri itu adalah wanita. Demikian pula di dunia rekayasa manufacturing yang dulu didominasi kaum pria, kini kiprah wanita semakin menonjol.

Jika pada tahun 1983 jumlah wanita yang menduduki posisi administrator, eksekutif, dan manajer berjumlah sekitar 403.000 orang, pada tahun 1988 meningkat pesat menjadi 647.000 orang.

Secara potensi, perempuan menunjukan kemampuan yang tidak kalah oleh kaum pria bahkan lebih unggul. Penelitian yang dilakukan Psacharopoulos (1987), dari world bank, mengemukakan, bahwa wanita yang mampu mencapai partisipasi pendidikan yang tinggi  di sektor usaha menunjukan prestasi yang cukup kompetitif (dengan menjadikan pendapatan sebagai tolak ukurnya).

Penelitian yang dilakukan di Inggris tersebut menunjukan rasio pendapatan wanita sarjana dengan seluruh pekerja adalah 2:6 (pendapatan 2 orang wanita sebanding dengan pendapatan 6 orang pria), sedangkan pria hanya 2:3. Di Amerika menurut penelitian itu, seorang wanita yang menyelesaikan pendidikan tertinggi memperoleh pendapatan rata-rata 40% lebih tinggi daripada rata-rata pendapatan pria. 

Wanita yang pernah menempuh pendidikan selama 5 tahun di perguruan tinggi penghasilanya lebih besar 60% daripada rata-rata penghasilan pria. Potensi perempuan tergambar dari prestasi mereka.

Fenomena ini menunjukan bahwa perempuan memiliki potensi yang tidak kalah oleh pria jika dia mau berkiprah dan mampu melepaskan dirinya dari kungkungan kultur yang tidak meguntungkan dirinya sendiri.  

Kalau kita cermati, fenomena subordinasi perempuan oleh pria dalam berbagai peran kehidupan banyak pula disebabkan oleh kontruksi sosial (socially constructed) yang dikembangkan yang tidak menguntungkan bagi akselerasi perempuan itu sendiri.

Posisi dan peranan perempuan dikontruksi secara sosial atau mewarisi tradisi sosiologis-kultural yang menempatkan dirinya pada posisi yang lemah, tradisi seperti ini telah mengakar dan membentuk konsep diri (self concept)  tentang perempuan. 

Walau demikian faktanya, pada akhirnya beradab tidaknya perempuan bergantung pada sejauh mana masyarakat (termasuk kaum pria) dan kaum perempuan itu sendiri dalam menghormati, menghargai, memberdayakan dan menempatkan perempuan  pada posisi yang terhormat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun