Mohon tunggu...
Teknologi Pilihan

Teknologi adalah Kunci Kemajuan Bangsa

2 September 2018   10:03 Diperbarui: 2 September 2018   10:19 818 0 0 Mohon Tunggu...

Ketika kita menelisik kebelakang, maka bisa kita lihat bagaimana suatu bangsa dapat mencapai titik keemasannya di kala pendidikan dan teknologi menjadi perhatian utama. Kita bisa melihat bagaimana bangsa roma dan persia saat masa keemasannya melahirkan banyak pemikiran dan ilmuwan. Kita juga bisa melihat bagaimana rezim kekhalifahan islam mampu menjadi penguasa dunia pada saat lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd, Ibn Haytam, Imam Al-Ghazali, dan banyak lagi. 

Tak perlu menelaah lebih jauh, kita bahkan bisa melihat kemajuan bangsa pada abad-abad yang dekat dengan kita. Lihat saja Eropa dan Amerika yang saat ini bahkan menjadi pusat pusat bagi peradaban dunia. Ilmuwan-ilmuwan berpengaruh juga terlahir dari sana, sebut saja Thomas Alva Edison, Albert Einsten, dan masih banyak lagi. Jepang, sebagai negara adidaya yang dekat dengan Indonesia, juga mampu memanfaatkan teknologi hingga seperti saat ini, mereka kuat dalam segala aspek.

Indonesia sendiri saat ini menurut Badan Program Pembangunan di bawah PBB (United Nations Development Programme/UNDP) dalam laporan Human Development Report 2016 mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014. Hal ini menunjukan suatu kemerosotan yang signifikan dari aspek pembangunan di Indonesia.

Kita coba menilisik aspek lebih dalam lagi, masalah alokasi anggaran terhadap perkembangan teknologi di Indonesia. Anggaran LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk 2016 hanya Rp 1,1 triliun, sementara itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rp 914 miliar. Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Rp 799 miliar, Badan Informasi Geospasial Rp 865 miliar, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Rp 700 miliar, dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Rp 190 miliar. Total keseluruhan anggaran lembaga penelitian ini sekitar Rp 4,5 triliun. Alokasi ini masih sangat minim dibandingkan alokasi anggaran lainnya.

Pada era Jokowi, ada sebuah terobosan baru terhadap sistem riset dan teknologi dari segi kementrian yang terbentuk. Pada era Jokowi, urusan pendidikan tinggi disertakan dengan urusan riset dan teknologi. Maka dari itu, terbentuklah suatu kementrian baru yaitu Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). 

Hal ini dimaksudkan agar terbentuknya sinergi antara 2 sektor tersebut serta meningkatkan kapasitas riset pada lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Penggabungan ini juga dilakukan oleh beberapa negara maju seperti Jepang. Namun, nyatanya kementrian ini masih banyak tugas yang perlu dilakukan karena umur kementrian ini yang masih baru.

Minimnya kepedulian kita semua yaitu rakyat indonesia, menjadi hal utama bagi kurang terperhatikannya teknologi di Indonesia. Masalah berkaitan kependudukan, kesehatan, energi nasional, infrastruktur, dan banyak lagi akan berkurang dengan riset yang mendalam dan komprehensif. Aspek kesejahteraan ilmuwan juga perlu diperhatikan. Nyatanya, banyak dari mereka malah pergi ke luar negeri dan banyak penelitian mereka malah diakuisisi oleh lembaga-lembaga luar negeri. Hal-hal ini tak akan terjadi jika kita semua peduli akan peneliti dan penelitian mereka.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin tutup dengan sebuah pertanyaan mendasar. Perlukan teknologi itu menjadi penunjang bagi kehidupan bangsa? Jika ya, apakah pendidikan itu bisa menjadi pondasi untuk memajukan teknologi? Jika ya, maka setidaknya kita yang masih berstatus sebagai siswa, mahasiswa, dan bahkan yang sudah bekerja sekalipun harus mampu mendukung kemajuan pendidikan dan teknologi bagi kemajuan bangsa ini. Maju terus Teknologi Indonesia.

Sumber :

http://lipi.go.id/berita/sumber-daya-iptek-dan-posisi-kita-sekarang-/1196  diakses tanggal 02/09/2018 pukul 10:12

http://lipi.go.id/lipimedia/menggugat-anggaran-riset/12341  diakses tanggal 02/09/2018 pukul 10:13

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN