Mohon tunggu...
Ihda Aniqoh
Ihda Aniqoh Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Kontroversi Penerbitan Kartun Nabi Muhammad dan Seruan Boikot Produk Perancis

21 November 2020   07:30 Diperbarui: 21 November 2020   07:41 57 3 0 Mohon Tunggu...

Penerbitan kartun Nabi Muhammad di Perancis membuat kontroversi dan menimbulkan berbagai kecaman dari dunia muslim. Beberapa insiden serangan terjadi di Perancis diduga terkait dengan penerbitan kartun. Perancis menegaskan posisinya memperbolehkan penerbitan kartun dan menentang Islam radikal, sebaliknya dunia muslim meminta Perancis menjunjung tinggi toleransi beragama.

Awal mula kronologi kontroversi penerbitan kartun Nabi Muhammad yang dimulai dari ulah Charlie Hebdo adalah pada awal September Charlie mengemukakan penerbitan ulang kartu Nabi Muhammad menandai persidangan awal Serangan yang terjadi pada tahun 2015, persidangan kasus serangan pada 2015 di kantor Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang pun dimulai. Pada akhir september, seorang pria memakai pisau daging menyerang dan melukai 2 orang di depan bekas kantor Charlie, pelaku adalah pria 18 tahun keturunan Pakistan.

Mendagri Jerman menganggap penyerangan dilakukan terorisme Islam, kemudian pada awal Oktober Presiden Macron di dalam pidatonya menegaskan akan mempertahankan nilai sekuler Perancis, dia menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis. Kemudian pada pertengahan Oktober seorang pria 18 tahun keturunan Chechnya memenggal seorang guru 47 tahun yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad ke muridnya. Sehingga otoritas Perancis menyebut akan menutup masjid Paris untuk memerangi radikalisme Islam menyusul pembunuhan seorang guru tersebut. Presiden Turki Erdogan menilai Macron membutuhkan pemeriksaan kejiwaan kalau dilihat dari sikapnya terhadap Muslim. Lalu 24 Oktober ramai seruan boikot produk Perancis meluas dan membuat Charlie mempublikasikan kartun Presiden Erdogan yang kemudian mendapat banyak kecaman dari Turki.

Boikot produk Prancis sudah terjadi di beberapa negara Timur Tengah sebagai bentuk protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron atas hak untuk menunjukkan kartun Nabi Muhammad. Pemerintah Prancis pun telah meminta aksi pemboikotan diakhiri. Beberapa toko di Kuwait juga menurunkan produk-produk buatan Prancis. Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan seruan yang tidak berdasar untuk boikot itu didorong oleh kelompok minoritas radikal. Pengumuman di sebuah supermarket di ibu kota Yordania, Amman, memberitahu konsumen bahwa barang-barang Prancis diboikot. Penggambaran Nabi Muhammad dapat sangat menyinggung bagi umat Islam karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah.

Seruan boikot terhadap produk Perancis sangat luas. Produk-produk Prancis diturunkan dari beberapa rak supermarket di Yordania, Qatar, dan Kuwait beberapa minggu lalu. Produk kecantikan dan perawatan rambut buatan Prancis tidak lagi dipajang di toko-toko. Di Kuwait, serikat pengecer besar telah memerintahkan pemboikotan barang-barang Prancis. Serikat Masyarakat Koperasi Konsumen, yang merupakan serikat non-pemerintah, mengatakan telah mengeluarkan arahan sebagai tanggapan atas penghinaan berulang terhadap Nabi Muhammad.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis mengakui langkah tersebut, dia mengatakan seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, beserta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh kelompok minoritas radikal. Seruan boikot terhadap produk Prancis telah tersebar lewat dunia maya di negara-negara Arab.

Di dunia maya, seruan untuk boikot serupa di negara-negara Arab lainnya, seperti Arab Saudi, telah beredar. Tagar yang menyerukan boikot jaringan supermarket Prancis, Carrefour, adalah topik paling tren kedua di Arab Saudi, ekonomi terbesar di dunia Arab. Sementara itu, unjuk rasa anti-Prancis berskala kecil digelar di Libia, Gaza, dan Suriah utara, tempat yang dikuasai milisi yang didukung Turki. Tetapi Macron menegaskan kembali pembelaannya terhadap nilai-nilai Prancis, dia berkata : "Kami tidak akan menyerah, selamanya."

Di tengah serangan dari sejumlah negara, Prancis mendapat dukungan dari Jerman. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas mengatakan : "Serangan pribadi Presiden Erdogan kepada Presiden Macron menurut saya adalah momen buruk dan tidak dapat diterima. Yang penting kami menunjukkan solidaritas kepada Prancis dalam memerangi ekstremis Islam, khususnya sesudah aksi terorisme mengerikan yang terjadi minggu lalu."

Seruan Presiden Erdogan untuk memboikot produk Prancis dikeluarkan sesudah terjadi ketegangan selama berbulan-bulan antara Prancis dan Turki. Walaupun kedua negara adalah anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mereka mendukung pihak-pihak yang berlawanan dalam konflik antara Armenia dan Azerbaijan, dan juga dalam perang saudara di Libia. Presiden Macron juga telah berselisih dengan Presiden Erdogan terkait dengan eksplorasi minyak dan gas oleh Turki di wilayah perairan yang diperebutkan di Laut Tengah. Prancis lantas menerjunkan pesawat tempur dan kapal fregat pada bulan Agustus di tengah ketegangan. Seruan boikot ini juga dikeluarkan sehari setelah Erdogan mengatakan bahwa Macron memerlukan "pemeriksaan kesehatan mental" terkait pandangannya yang keras terhadap Islam. Komentar Erdogan itu mendorong Prancis memanggil duta besarnya di Ankara untuk konsultasi.

VIDEO PILIHAN