Mohon tunggu...
Ifonny Pasongli
Ifonny Pasongli Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis

Psikolog Klinis Puskesmas Sawahan Surabaya, berfokus ke penanganan kasus klinis remaja dan dewasa. Pernah bercita-cita menjadi penulis.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Skizofrenia, Hidup dengan Teman Khayalan?

8 November 2022   14:56 Diperbarui: 9 November 2022   18:35 350
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi.klikdokter.com

Beberapa waktu yang lalu, saya berbelanja di minimarket dekat tempat kerja saya. Saya memperhatikan seorang wanita paru baya duduk santai di depan minimarket tersebut. Dia terlihat sedang berbicara sambil sesekali tertawa cekikian. Saya berpikir, mungkin wanita itu sedang telponan dengan seseorang menggunakan earphone.

Seminggu kemudian saya kembali melihat wanita tersebut, masih dengan aktivitas yang sama, berbicara sambil sesekali tertawa. Saya memperhatikan penampilannya seperti tidak terawat, memakai pakaian lusuh dan tidak menggunakan masker.  Setelah selesai berbelanja, saya mendekat dan duduk di sebelah wanita tersebut. Saya melirik telinganya, tidak ada earphone atau sejenisnya. Dia juga tidak membawa handphone. Diam-diam saya mendengar pembicaraannya, ternyata dia berbicara sendiri dan pembicaraannya juga tanpa makna, tidak berhubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Saya pun basa-basi menyapanya.

            “Halo mbak, ngapain?” tanya saya.

            “Iniloh aku lagi cerita sama temenku.” Jawabnya.

            “Mana temennya?”

“Itu loh temenku, daritadi ngajak cerita” (sambil menunjuk ke depan, tetapi tidak ada siapa pun disitu).

Akhirnya saya mencari tahu tentang wanita tersebut lewat tukang parkir depan minimarket. Wanita tersebut bernama Happy dan kebetulan alamatnya masih berada di wilayah kerja saya. Saya menghubungi keluarganya dan mendapat informasi bahwa dia memang sudah lama “gila” karena masalah rumah tangga. Keluarga menceritakan bahwa setiap pagi dia pamit dari rumah dengan alasan berangkat kerja dan pulang ke rumah pada sore hari. Tapi kenyataannya dia tidak punya pekerjaan, hanya berkeliling kampung atau nongkrong di depan beberapa minimarket dekat rumah. 

"Happy sering terlihat seperti sedang berbicara dengan orang lain lewat telpon, tangan diletakkan di kuping, sambil berjalan mondar-mandir sambil ngomong tapi yang diomongkan tidak jelas."

“Kalo diajak ngobrol, kadang nyambung kadang enggak, tapi lebih banyak gak nyambungnya. Tapi dia gak ngganggu orang lain.”

Ternyata keluarga dan tertangga sudah lama mengetahui kondisi Happy tetapi tidak berpikir untuk membawa Happy periksa karena menurut mereka tidak ada masalah karena kondisi Happy tidak membahayakan orang sekitar. Oleh karena itu, saya berusaha memberikan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi Happy dan perlunya pengobatan untuk mengurangi gejala yang muncul. Saya juga meyakinkan keluarga untuk tidak khawatir mengenai biaya karena untuk pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ditanggung oleh pemerintah. Jadi dari pihak puskesmas membantu pengajuan BPJS PBI untuk Happy, membuatkan surat rujukan dan selanjutnya keluarga membawa Happy untuk berobat ke poli kesehatan jiwa RS.

Apa itu Skizofrenia?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun