Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Bukan Hanya untuk Guru Penggerak

13 November 2021   01:49 Diperbarui: 13 November 2021   02:23 155 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Program Guru Penggerak (GP) merupakan salah satu satu paket Merdeka Belajar yang saat ini digulirkan oleh Kemendikbudristek saat ini. Guru-guru yang lolos program pelatihan calon GP sebelumnya harus melalui sejumlah seleksi, mulai dari seleksi administratif, seleksi penulisan essai, seleksi simulasi mengajar, hingga seleksi wawancara. Inti dari program GP adalah guru dilatih selama 9 bulan dengan muaranya kepada peningkatan mutu pembelajaran. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa sebuah pembelajaran yang bermutu adalah hasil karya seorang guru yang bermutu. Guru adalah ujung tombak pembelajaran. Apapun kurikulum yang digunakan, kuncinya ada pada kemampuan guru merancang, melaksanakan, dan menilai hasil belajar peserta didik.

Peserta didik harus merasakan manfaat atau dampak positif dari program tersebut. Istilahnya, jangan hanya gurunya saja yang makin pintar. Muridnya pun harus terkena imbas dari kepintaran guru. Bahkan harus menjadi tujuan utama dari implementasi strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan jargon "pendidikan yang berpihak kepada murid" yang saat ini dikampenyekan oleh Kemdikbudristek.

Salah satu materi yang modul yang wajb dipelajari oleh para peserta pelatihan Calon GP adalah filosofi pendidikan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Setelah mempelajari modul, peserta pelatihan calon GP diminta untuk membuat refleksi yang disajikan dalam bentuk power point, video,  atau media lainnya. Hal ini bertujuan agar gagasan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara terinternalisasi dalam hati sanubari para peserta diklat calon GP.

Nama asli Ki Hadjar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir di Pakualaman tanggal  2 Mei 1889. Beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922. Beliau meninggal di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 pada usia 69 tahun. Tanggal lahirnya (2 Mei) kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sejak zaman penjajahan Belanda, Ki Hadjar Dewantara banyak menulis gagasan terkait pendidikan yang memanusiakan. Sebagai pejuang, Beliau pun pernah ditangkap dan dipenjara oleh Belanda. Semboyannya yang paling dingat oleh masyarakat umum adalah kalimat "Ing Ngarso Sung Tulodho (di depan menjadi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun kemauan), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memotivasi)". Bahkan kalimat "Tut Wuri Handayani" menjadi tulisan yang ada pada logo Kemdikbudristek. Hal ini sebagai bentuk penghargaan atas pemikiran-pemikiran besar Bapak Pendidikan Nasional sekaligus Menteri Pengajaran (Pendidikan) ke-1 RI tersebut.

Selain semboyan-semboyan tersebut, tentunya banyak sekali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara terkait pendidikan dan kebudayaan. Inti dari pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara seperti; sekolah harus menjadi taman belajar bagi siswa, pembelajaran harus berpusat kepada siswa (student center), guru harus mengajar sesuai dengan kodrat anak, pembelajaran yang menghargai perbedaan individual anak (pembelajaran terdiferensiasi), pembelajaran untuk membangun karakter siswa, pembelajaran yang memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa, pembelajaran yang bersifat kontekstual, pembelajaran yang terbebas dari paksaan, dan pembelajaran yang terbebas tindakan kekerasan dan perundungan (bullying). Dengan kata lain, sekolah harus menjadi ekosistem pendidikan yang kondusif untuk siswa.

Para calon GP yang saat ini mengikuti pelatihan tentunya beruntung karena dapat mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Walau demikian, menurut saya, secara substantif, pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara terkait pendidikan bukan hanya untuk GP saja, tetapi untuk semua guru, baik yang berstatus sebagai GP maupun Non-GP, karena seorang guru memiliki tugas yang sama yaitu memberikan layanan pembelajaran yang bermutu dan humanis kepada para siswanya. Oleh karena itu, dikotomi GP dan Non-GP tidak perlu menjadi polemik di kalangan guru, tetapi alangkah baiknya jika para guru mendaftar menjadi GP karena banyak manfaat yang dapat dirasakan baik untuk diri sendiri maupun imbasnya untuk guru lain, siswa, dan sekolah.

Bagi guru yang saat ini belum mendaftar atau berstatus sebagai GP jangan sampai kurang peduli atau merasa kurang berkepentingan terkait pemahaman filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Sebagai seorang guru, mereka mereka tetap diharapkan perannya sebagai pengamal pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Mereka dapat belajar baik secara mandiri seperti membaca buku karya Ki Hadjar Dewantara, membaca referensi lain, diskusi dengan rekan sejawat, diskusi dengan peserta pelatihan calon GP, atau diskusi dengan pakar/praktisi pendidikan lainnya. Intinya, mari hidupkan dan lestarikan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tanpa mempersoalkan sebagai GP atau Non-GP.

Oleh: IDRIS APANDI

(Pemerhati Pendidikan)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan