Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berguru kepada Abah Udju

18 Mei 2017   21:38 Diperbarui: 18 Mei 2017   22:09 443 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Abah Udju mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta sebagai Tokoh Literasi Purwakarta 2017. (Foto : Dok. Heri Kusnandar)

Nama Abah Udju muncul sejak dua tahun yang lalu ketika Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menemuinya di kediamannya di Kecamatan Darangdan. AbahUdju adalah seorang warga biasa yang kesehariannya dihabiskan untuk mengabdi kepada masyarakat dengan cara berkeliling kampung menggunakan sepeda tua membawa buku-buku untuk dibaca secara gratis oleh masyarakat. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk kepeduliannya untuk meningkatkan budaya baca masyarakat di daerah tempat tinggalnya.

Jauh-jauh hari sebelum booming gerakan literasi yang saat ini digaungkan oleh pemerintah, Abah Udju telah melakukan kampanye literasi di kampungnya, tanpa gembar-gembor, tanpa selfie dan tanpa publikasi. AbahUdju tidak pernah mengikuti diklat literasi seperti yang didapatkan oleh para pegiat literasi, tidak tahu cara membuat pohon literasi,  tidak tahu cara membuat review buku, tidak tahu cara membuat fish bone analysis,dan berbagai hal yang saat ini diperkenalkan dan dimunculkan seiring dengan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Hal yang diketahui oleh Abah Udju adalah membaca itu penting dan berharap wawasan masyarakat meningkat seiring dengan meningkatnya minat baca masyarakat. Abah Udju secara nyata telah mengamalkan Iqra,ayat pertama dari QS Al  Alaq, wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.

Dalam konteks peran serta masyarakat dalam pembangunan, hal yang dilakukan oleh Abah Udju adalah bentuk nyata dari partisipasi masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tengah keterbatasan, bersama sepeda onthelnya, dia terus bergerak, menebar kebaikan, dan menebar manfaat bagi masyarakat.

Abah Udju mungkin tidak pernah berpikir membuat proposal, mengemis-ngemis, melobi pihak pemerintah atau pengusaha memberikan bantuan buku padanya. Saya yakin, Abah Udju tidak pernah berpikir untuk mendapat penghargaan atau diundang ke kantor Bupati, walau tentunya senang kalau mendapatkan perhatian dari pemerintah, hingga karena aksinya tersebut, Bupati Dedi Mulyadi mengunjunginya sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap aksi nyatanya selama ini. Abah Udju yang terampil bermain suling pun diminta untuk melatih suling di Pendopo.

Bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional, tanggal 17 Mei yang lalu, Abah Udju mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta sebagai Pegiat Literasi. Hal ini tentunya sangat membanggakan karena seorang masyarakat biasa, yang aktivitas kesehariannya jauh dari hirup pikuk dunia akademik, begitu peduli dengan pembangunan minat baca masyarakat.

Hal ini sebenarnya menjadi “tamparan” bagi kalangan akademisi yang baru bergerak tentang pentingnya budaya literasi setelah gembar-gembor GLS tahun 2015. Tapi itu pun jauh lebih baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali. Idealnya memang kalangan akademisi yang menjadi  penggagas, pelopor, dan penggerak literasi, tetapi nyatanya justru kalangan masyarakat biasa yang menjadi ikon-ikon pejuang literasi.  Selain Abah Udju di Purwakarta,  ada Robby di Cirebon dengan Pedati Pustakanya, dan Elis Ratna di Kabupaten Bandung dengan Angkot Literasi dan perpustakaan kelilingnya.

Kemana saja kalangan akademisi selama ini? Apakah hanya terlena dengan kesibukannya? Apakah hanya mementingkan dirinya sendiri? Pertanyaan ini bukan hanya tertuju kepada orang lain, tetapi juga tertuju kepada diri Saya sendiri, yang baru sadar pentingnya literasi setelah bergulirnya Gerakan Literasi. Oleh karena itu, sangat wajar para pegiat literasi tersebut mendapatkan kehormatan diundang oleh Presiden Joko Widodo ke istana negara beberapa waktu yang lalu.

Secara pribadi, Saya harus banyak berguru terhhadap dedikasi dan loyalitas tanpa batas yang mereka tunjukkan untuk membangun, membumikan, dan menggerakkan budaya literasi di wilayahnya masing-masing. Tidak ada formalitas, tidak ada seremonial, tidak ada kegaduhan yang mereka tunjukkan. Mereka bekerja dalam diam terus bergerak turut mencerdaskan bangsa.

Saya yakin mereka melihat budaya literasi sebagai sebuah jihad membangun bangsa, sebagai bentuk kepedulian, ada atau pun tidak ada sorot kamera kepada mereka. Ada atau tidak ada program gerakan literasi seperti saat ini. Saya yakin mereka memosisikan gerakan literasi bukan sebagai proyek yang dapat diambil keuntungan materi darinya.

Terima kasih Abah Udju dan pegiat literasi lainnya yang telah mengajarkan kepada Saya tentang nilai sebuah kepedulian, pengabdian, rela berkorban, dan tanggung jawab sebagai warga negara, serta kebermanfaatan bagi masyarakat. Hakikat bahagia bagi Abah Udju mungkin bukan bergelimangnya harta, tetapi ketika masyarakat semakin literat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan