Mh Firdaus
Mh Firdaus karyawan swasta

Penulis dan Traveller amatir. klick: www.nyambi-traveller.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Artikel Utama

"Maskulinitas" dalam KDRT

17 Mei 2018   10:33 Diperbarui: 17 Mei 2018   20:02 1940 2 1
"Maskulinitas" dalam KDRT
ilustrasi. (pixabay.com)

Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terutama di ranah domistik, tidak turun. Komnas Perempuan mencatat sejak tahun 2012 hinggi kini kasusnya meningkat. Itu terlihat dari tahun 2012 terdapat 216.156 kasus, terus menjadi 263.285 kasus tahun 2013, 293.220 kasus tahun 2014, dan tahun 2017 mengalami sedikit penurunan berjumlah 259.150 kasus. 

Ini dikarenakan perubahan pola pendokumentasikan, dan tidak meratanya akses layanan di beberapa daerah, serta sulitnya akses keadilan. Bahkan menurut catatan Rifka Annisa -- lembaga pendamping kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta -- 1 dari 3 orang perempuan dipastikan mengalami kekerasan dalam hidupnya.

Parahnya, kasus kekerasan terbanyak di rumah tangga, biasa dikenal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut data tahun 2017, terdapat KTI (kekerasan terhadap istri) menempati urutan paling besar. 

Dalam kekerasan di ranah rumah tangga/relasi personal (KDRT/RP), kekerasan terhadap istri (KTI) menempati urutan teratas berjumlah 5.784 kasus, disusul kekerasan dalam pacaran (KDP) 2.171 kasus, dan kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus, sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Apa akibatnya?

Kekerasan dalam rumah tangga berdampak langsung kepada kaum perempuan, anak-anak, keluarga, teman-temannya, pekerja rumah tangga, dan terkadang menjauhkan kepada sumber ekonomi, sosial dan kesehatannya. 

Perempuan yang terkena kekerasan di KDRT/RP mengalami berbagai tantangan kesehatan fisik dan mental, sebagaimana ia juga mengalami kesulitan aktivitas keseharian. Sealur dengan itu, anak-anak yang menjadi saksi akan "terguncang" perkembangan kehidupan dan masa remajanya.

Di banyak kasus KDRT, ada kesamaan pola yang membentuk kondisi KDRT. Dengan pemahaman yang baik, orang sekitar diharapkan bersiap atau curiga terhadap KDRT yang menimpa korban (perempuan dan anak). Informasi pola ini, bagi korban perempuan, berguna untuk mempersiapkan diri dengan situasi apa yang bakal terjadi.

Ada sisklus umum dalam kekerasan yang disebut "the cycle of violence". Pertama, permulaan atau pembangunan. Di sini perilaku pelaku (biasanya laki-laki) mulai lepas kontrol dan kasar, bahkan menuju ancaman. Hal ini bisa meningkat kepada kekerasan dan menyakiti korban. Situasi ini biasanya terjadi lebih dari sehari atau bahkan beberapa jam. 

Dia (sang pelaku) sering mengatakan bahwa pasangannyalah yang memprovokasi (atau memulai duluan). Kedua, tahap pemuncakan (the explosion). Inilah waktu paling membahayakan, dimana KDRT betul-betul memuncak di level tinggi dan meledak. 

Peledakan biasanya terjadi intensif dan mengarah kepada kekerasan kepada pasangan atau anak dengan anggota tubuh atau benda tajam, bahkan senjata. 

Dari pengalaman, laki-laki pelaku kekerasan mengaku bahwa ia lepas kontrol. Ia tidak bisa menjaga emosinya. Terkadang, meminum minuman keras (atau mabuk) dan menenggak obat-obatan, dijadikan alasan untuk menggambarkan kelakuan buruknya.

Namun begitu, -- menurut psikolog dan ahli hukum -- itu tidak bisa dijadikan alasan pelaku, karena ia merusak hak asasi korban (perempuan) dan bahkan telah "mengontrol" perempuan.    

Ketiga, setelah ledakan emosi kekerasan (after the explosion). Meski pria terkadang melakukan kekerasan dengan cara yang berbeda-beda, namun ada tiga tipe respon setelahnya. Yaitu; penyesalan (remorse), penyalahan (blame), dan penyangkalan (denial). 

Dalam kondisi penyesalan, pelaku merasa tidak berdaya (helplessness) dan seringkali menyalahkan diri sendiri. Ia berusaha meyakinkan pasangannya bahwa hal itu tidak terulang kembali. Janji pun dibuat dengan diiringi pemberian hadiah dan memperbaiki berbagai hal yang dihancurkan. Namun itu sepertinya "lipservice", untuk menutupi keteledorannya.

Sementara dalam kondisi penyalahan (blame), pelaku tak jarang menyalahkan pasangan. Ia beralasan bahwa berbuat demikian karena pasangan "memprovokasi"nya melalui alasan anak yang menyusahkan atau problem keuangan keluarga. 

Kemudian di dalam periode penyangkalan, beberapa pelaku tidak mengakuinya. Ia hanya sedikit mendorong. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Ia mengelak dan berujar bahwa itu hanya kehilangan control.

Keempat, kekerasan itu ternyata berulang karena tidak ada perubahan perilaku pelaku. Meski begitu, ada satu periode dimana sesuatu terlihat tenang dan kondisi berubah. Di sinilah korban perlu hati-hati dengan situasi ini. Apalagi pelaku tidak datang dengan rencana yang meyakinkan tentang agenda perubahan setelah tindakan kekerasan. 

Siklus diatas mungkin berbeda untuk kasus kekerasan tertentu. Namun secara umum -- ini hasil informasi lembaga konseling dari korban -- siklus kekerasan terjadi. Diharapkan korban khususnya dan orang sekitarnya mengetahui siklus tersebut untuk bersiap bila KDRT meledak.   

Kekerasan Berbasis Gender

Menurut Dr. Dallas colley, ahli dan trainer "Domestic Violence" Australia, ada sejumlah faktor penyebab KDRT. Diantaranya; budaya yang memberikan "preference" kepada laki-laki (partriarki), mindset masyarakat yang belum bertindak setara dan adil, diskriminasi, ketidakmandirian ekonomi, dan penggunaan minuman keras serta penggunaan obat-obatan pada pelaku.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2