Mohon tunggu...
Ida Nurbagus
Ida Nurbagus Mohon Tunggu... An ordinary mom with extraordinary hope

Everybody's not gonna like me, everybody's not gonna love what I've got to write - that doesn't mean I gotta stop being who I am

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Nasib Ekskul ke Depan Setelah Peristiwa Susur Sungai Sempor

27 Februari 2020   02:56 Diperbarui: 27 Februari 2020   12:46 32 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasib Ekskul ke Depan Setelah Peristiwa Susur Sungai Sempor
23-5e56cca3097f3648d4426f73.jpg

Dengan adanya tragedi kegiatan Pramuka Susur Sungai SMPN 1 Turi yang  menyeret IYA (36), R(58) dan DDS (58) sebagai tersangka, saya berharap, peristiwa ini tidak menyurutkan "kakak-kakak" pembina Pramuka lain - juga pihak sekolah,  untuk tetap melaksanakan kegiatan outdoor yang positif. Bagaimanapun juga, setelah siswa  belajar, belajar  dan belajar rutin  di dalam kelas, aktifitas outdoor akan  selalu menyenangkan dan me-refresh otak anak yang sudah jenuh.

Dari pengalaman saya, sebagai ibu tiga anak, ketika anak-anak mendengar akan ada kegiatan di luar sekolah mereka sudah gembira bukan kepalang. Ini baru mendengar saja. Tak jarang mereka dengan exciting akan mempersiapkan sendiri perbekalan apa yang harus mereka bawa.  Pada  Hari H, tentu  lebih mengasikkan lagi. Bisa jalan bareng, guyon-guyon  dengan teman-teman plus guru, rileks sejenak, makan di tenda bareng, pengalaman ini akan terukir dalam benak mereka selamanya.  Dengan destinasi yang sama, pergi dengan teman sebaya - apalagi rombongan- sepertinya menimbulkan sensasi yang berbeda bagi anak dibanding  ketika mereka "jalan" dengan kita orantuannya.  

Saya pribadi, selalu berusaha untuk bisa menyertakan anak saya dalam berbagai kegiatan outdoor yang diadakan di sekolah anak. Baik itu fieldtrip ke berbagai tempat,   Jamran (Jambore Ranting) di bumi perkemahan bahkan hanya sekedar berenang bersama teman-teman (satu kelas bareng), karena saya percaya dengan berkegiatan di luar sekolah, anak akan dilatih untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan beradaptasi, selain menambah wawasan baru buat mereka.

img20181110092518-5e56cacdd541df45a20cced3.jpg
img20181110092518-5e56cacdd541df45a20cced3.jpg
Ketika  hari Pahlawan tahun lalu, tim Paskib sekolah anak bungsu saya, mengadakan Patriotsm Trip ke Museum Kepresidenan Balai Kirti di Istana Bogor. Pelaksanaanya, kami  mengenalkan moda transportasi Commuter Line sambung jalan kaki menuju lokasi, Kebun Raya Bogor. Selain melatih agar  terbiasa dengan transportasi umum, Tim Paskib  juga diharap bisa  kompak dengan sesama anggota Tim Paskib yang lain, jika ada yang nampak kelelahan -karena berjalan kaki dari Stasiun Bogor menuju Balai Kirti-, sambil diguyonin dan khas anak-anak, tim yang di depan harus mengurangi kecepatan, atau malah menghentikan jalan, untuk menunggu yang di belakang. Alhamdulillah, acara berlangsung lancar sesuai yang diharapkan.  

    



www.rumahkedua-angga.blogspot.com/2018/11/patriotism-trip.html 

Tentu tak ada seorangpun yang membayangkan kejadian yang menimpa anggota Pramuka  di SMPN 1 Turi, tidak para siswa, orangtua, juga  guru/pembina yang terlibat. Saya percaya tak ada niat untuk mencelaki peserta didik. Mungkin mereka memang lalai,  sehingga harus dihukum karena menyebabkan orang lain meninggal dunia  (Pasal 359 KUHP) atau kelalaian yang menyebabkan orang lain luka-luka (Pasal 360 KUHP), tapi melihat perlakuan pemeriksaan pada tiga guru yang seperti dipertontonkan di televisi, pakai baju orange dangan kepada digunduli.  Sebagai orangtua, saya miris melihatnya.

Kesalahan yang dilakukan guru tersebut, menurut kacamata saya yang awam, jelas berbeda dengan kasus kekerasan seksual/fisik yang juga (sedihnya) kerab terjadi di dunia pendidikan.  Dan oknum guru-guru yang seperti ini (melakukan kekerasan seksual pada anak didik) memang  harus "dihukum" seberat-beratnya. Sedang kepada tiga guru pembina SMPN 1 Turi ini, saya tidak tahu hukuman apa yang akan mereka terima,  5 Tahun penjara sesuai UU yang yang dilanggar, atau ada Penangguhan Penahan, atau adakah  sanksi berupa "Tahanan Sekolah" saja?

Apapun yang akan terjadi, kembali ke awal tulisan ini, semoga proses pemeriksaan ketiga guru pembina yang "sedemikian" dan menyusul putusan hukuman apa yang akan mereka terima, tidak menyurutkan  para guru/pembina untuk tetap bersedia mendampingi anak-anak untuk berkegiatan ekskul. Kesalahan yang ada bisa ditutup dan terus disempurnakan dengan menghitung risk reduction dari segala kegiatan yang akan dilaksakanan. Masing-masing pihak,  baik sekolah maupun orangtua dan siswa harus sigap dan siaga mengantipasi resiko yang ada  dalam setiap kegiatan yang akan berlangsung. Setelah didiskusikan bersama baru bisa dilaksanakan sebagai kegiatan sekolah.
Dengan ini, semoga kegiatan outdoor anak-anak ke depan, tetap bisa berlangsung.

VIDEO PILIHAN