Mohon tunggu...
Mercy
Mercy Mohon Tunggu... Ibu dua anak remaja, penggiat homeschooling, berlatarbelakang Sarjana Komunikasi, Sarjana Hukum dan wartawan

Pengalaman manis tapi pahit, ikutan Fit and Proper Test di DPR.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Rp 549,5 Triliun RAPBN Pendidikan 2020/2021, Saatnya Pemerintah Serius Berpihak pada Siswa Miskin dan 3T

14 Agustus 2020   17:30 Diperbarui: 14 Agustus 2020   18:05 112 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rp 549,5 Triliun RAPBN Pendidikan 2020/2021, Saatnya Pemerintah Serius Berpihak pada Siswa Miskin dan 3T
Sumber gambar: hasil screenshot

Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi hari ini menjanjikan banyak hal. Sebagai penggiat pendidikan, ijinkah saya menagih janji, kapan mulai mereformasi pendidikan, kapan "melompat"  bersama jutaan siswa miskin dan siswa di Daerah 3T  (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal Indonesia).  RUU APBN 2020/2021 masih memberi anggaran melimpah ruah untuk pendidikan. Namun mengapa kualitas pendidikan terutama di Daerah 3T tidak bertambah baik (untuk tidak menyatakan, makin terpuruk) ?  

Bagaimana kualitas pendidikan Indonesia

Sejak Covid-19, begitu banyak tantangan yang kita hadapi sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat khususnya sebagai pelaku, penggiat, dan pemerhati pendidikan Indonesia. Perhatian kita saat ini adalah mengantisipasi kualitas pendidikan Indonesia, khususnya bagi siswa setara SD, SMP, SMA di masa Covid-19 dan selanjutnya, masa New Normal.

New Normal adalah masa yang baru bagi setiap manusia yang masih diberi kesempatan hidup dan bertahan dari serangan virus Covid-19. Suka atau tidak, mau atau tidak, sejak Februari 2020, telah terjadi perubahan perilaku yakni tetap menjalankan aktivitas normal dan ditambah menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Dalam dunia pendidikan, New Normal membuat sistem belajar yang rutin ratusan tahun dijalani sejak masa Revolusi Industri 1.0 harus berubah. Sistem belajar bertatap muka, berkumpul dengan belasan bahkan puluhan orang dalam satu sesi belajar, dan konsep belajar massal menjadi masa lalu. Selamat datang masa New Normal Pendidikan yang berarti :

  1. Pembelajaran jarak jauh, luar jaringan dan dalam jaringan

  2. Pembelajaran mandiri, guru / dosen / mentor tidak lagi menjadi subyek. Karena sekarang yang menjadi subyek adalah sang siswa sendiri.

  3. Faktor tempat belajar yang sering disebut ruang kelas dalam sekolah tidak mutlak lagi, karena siswa semestinya sudah bisa belajar dari rumahnya masing-masing.

  4. Peranan orangtua dan keluarga untuk mendukung pendidikan menjadi jauh lebih signifikan menentukan kesuksesan anak-anaknya ketimbang guru dan sekolah.

Sehubungan dengan New Normal Pendidikan khususnya di Indonesia, beruntunglah masyarakat yang mampu mengantisipasi pembelajaran online. Punya gawai yang mumpuni, kuota internet yang gemuk, dan jaringan yang stabil. Beruntung sekali jika siswa tersebut tinggal di rumah yang nyaman dan punya keluarga  yang mendukung aktif proses Home Learning (baik langsung turun tangan maupun membayar guru les). Kabarnya maksimal  hanya 5 % siswa dari 50 jutaan data siswa usia sekolah yang punya keberuntungan tersebut.

Sebutlah siswa yang bersekolah di dengan sistem internasional atau nasional seperti

  • Pelita Harapan, Dian Harapan, BPK Penabur, Al Azhar, Al Izhar, Sekolah Cikal, PSKD Mandiri, dan Sekolah-sekolah Katholik; Kanisius, Santa Ursula, dll.

  • HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    3. 3
    4. 4
    VIDEO PILIHAN