Mohon tunggu...
Ibnu Wahyudi
Ibnu Wahyudi Mohon Tunggu... Salesman Militan dan Gerilyawan :)

Cara terbaik suatu karya bisa menjadi abadi adalah dengan 2 (dua) cara, pertama mewujudkannya, kedua menuliskannya. Jika kenyataannya tidak abadi, maka minimal niatkanlah agar bermanfaat untuk orang lain, maka karya mu akan abadi secara turun temurun dari zaman ke zaman. Jangan menilai orang dari menjadi apa dia nya saat ini, tetapi nilai lah seseorang dari menjadi apa dia nya suatu saat nanti, karena banyak orang dicemooh saat ini, tetapi menjadi orang besar saat nanti. Banyak orang yang sangat VISIONER, namun dipandang sebelah mata dan diremehkan. Semua pembuktian kebenaran tentang VISI seseorang ditentukan setelah VISI nya terwujud dan kita hanya bisa bilang: WOW, tahu gitu saya ikut dia dulu

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dari Seorang "Salesman" hingga Menjadi CEO Perusahaan Multinasional

21 Oktober 2017   17:14 Diperbarui: 5 November 2017   17:42 1173 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Seorang "Salesman" hingga Menjadi CEO Perusahaan Multinasional
images-7-59feeb0bc226f95ceb4a5402.jpeg

Tahu Starbucks? Kalau yang tinggal diperkotaan pasti tahu yang namanya Starbucks, hampir di setiap mall/pusat perbelanjaan ada Starbucks. Namun tahukah anda kalau yang sekarang memimpin Starbucks adalah dulunya seorang salesman yang meniti karir dan akhirnya berhasil menjadi CEO Starbucks, perusahaan multinasional bernilai jutaan dolar? Simak kisahnya sang CEO Starbucks yang bernama Howard Schultz

Kisah sukses Howard Schultz tidak datang begitu saja. Ada perjuangan serta kerja keras yang mengiringi langkah Howard Schultz sehingga menjadi pemiliki waralaba kedai kopi terbesar Starbucks.

Kehidupan Howard Schultz dimulai pada tahun 19 juli 1953 di New york dimana dia dilahirkan. Masa kecil Howard Schultz dihabiskan dengan cara yang sederhana. Hal ini dikarenakan ayahnya merupakan mantan tentara Amerika Serikat yang kemudian menjadi supir truk bernama Fred Schultz.

Lingkungan tempat tinggal Howard Schultz pada masa kecil pun masuk ke dalam masyrakat yang berpenghasilan rendah. Hal inilah yang menjadikan Howard Schultz harus ikut banting tulang membantu perekonomian keluarganya. Pada umurnya yang ke 12 tahun, Howard itu bekerja menjadi loper koran dan pada umur 16 tahun ia harus menjadi seorang penjaga toko.

Dalam pendidikan pun keluarganya hanya mampu menyekolahkan Howard sampai dengan bangku SMA karena terkendala biaya. Namun Howard berhasil memperoleh beasiswa di Northen Michigan University karena mahir dalam bidang berolahraga.

Kisah Sukses Howard Schultz dimulai setelah ia lulus kuliah dan melanjutkan bekerja sebagai seorang Sales Manager di Xerox dan kemudian bekerja di Hamamaplast sebagai tenaga penjual peralatan rumah tangga.

Sebagai tenaga penjual peralatan rumah tangga di Hamamaplast, Howard Schultz pun menjual mesin pembuat kopi ke Starbucks. Dari sinilah awal mula Howard bertemu dengan tiga orang pendiri Starbucks yaitu Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker.

Howard pun mencoba cita rasa kopi yang ditawarkan oleh Starbucks dan berkata bahwa ini merupakan kopi yang sangat nikmat. Howard sangat terkesan dengan apa yang dia rasakan dan mulai berpikir bahwa ini merupakan bisnis yang bagus untuk dijalankan.

Memiliki pandangan yang jauh kedepan dan keyakinan bahwa bisnis ini sangat menjanjikan, akhirnya Howard segera melamar kerja di Starbucks. Butuh waktu satu tahun bagi Howard untuk dapat bekerja di Starbucks dan mendapatkan posisi Manager Retail Operations dan MarketingSetelah bekerja di Starbucks, tahun 1983 Howard pergi ke Milan, Italia dan menyaksikan apa yang tidak ia lihat di tempatnya bekerja. Howard melihat cafe di pinggiran jalan Italia yang menawarkan konsep yang nyaman. Dimana pengunjungnya betah untuk duduk berlama-lama hanya dengan meminum kopi dan bercengkerama dengan koleganya.

Melihat hal tersebut membuka pikiran Howard Schultz untuk melakukan pembaruan dan inovasi pada Starbucks. Ia meyakini bahwa ide membuat cafe yang nyaman sehingga pengunjung betah berlama-lama disana merupakan ide yang sangat cemerlang.

Ia pun segera menawarkan idenya tersebut kepada pendiri Starbucks dan mencoba untuk meyakinkan mereka dengan gagasannya. Namun Howard gagal meyakinkan para pendiri Starbucks karena mereka beranggapan hal tersebut akan menghilangkan ciri khas Starbucks.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN