Mohon tunggu...
Ian Kassa
Ian Kassa Mohon Tunggu...

Seorang guru. Juga Penikmat kopi yang sekali-kali meluangkan waktu untuk membaca dan menulis. Percaya bahwa tak ada eksistensi tanpa perbedaan. Serta percaya pada proses, bukan pada mitos.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Komunikasi Simbolik Jokowi

9 Desember 2018   22:44 Diperbarui: 9 Desember 2018   23:15 0 0 0 Mohon Tunggu...
Komunikasi Simbolik Jokowi
Aku Facebook Resmi Presiden Joko Widodo

Ada yang bilang Jokowi itu lemah dalam hal komunikasi verbal. Tolak ukurnya berdasarkan nada bicara Jokowi yang kurang tegas. Namun, apakah parameter seperti itu cukup? Tidak sepenuhnya salah, walaupun juga tidak totalitas benar.

Pada dasarnya, setiap orang memang memiliki gaya yang berbeda soal komunikasi. Jika tegas itu suara harus berapi-api layaknya Bung Karno, atau katakanlah itu Prabowo, maka tentu kita sudah tahu Jokowi tidak seperti itu.

Gaya komunikasi verbal mungkin bisa disebut sebagai kelemahan Jokowi. Tapi, ceritanya menjadi lain ketika memperhatikan Jokowi dari segi komunikasi simbolik. Untuk yang satu ini, suka atau tidak, Jokowi jagonya.

Contohnya seperti apa? Ada banyak. misalnya mengenai keseringan Jokowi menampilkan keharmonisan keluarganya. Entah itu bersama istri, anak atau Jan Ethes, cucunya.

Dari pihak kompetitor sebelah mungkin ada yang berkata, "Pencitraan!"

Masalahnya tidak ada politisi yang tidak mencitrakan dirinya. Pencitraan merupakan salah satu modal berpolitik.

Bisa jadi ada juga yang berpendapat seperti ini, "Ah, itu kan kebetulan saja. Kebetulan karena Jokowi itu kepala keluarga. Wajar dong Jokowi seperti itu."

Apa iya, dalam politik itu ada yang namanya 'kebetulan'? Saya mengasumsikan bahwa, Jokowi sedang "menyerang" lawan tandingnya. Jokowi seolah berkata, "Saya bisa begini dengan keluarga saya. Kamu bisa tidak? Saya bisa mesrah dengan istri, kamu bisa tidak? Saya bisa gendong cucu, kamu bisa tidak?"

Contoh lain, di tengah guyuran hujan yang deras, Jokowi lansung mendatangi dan menembus kerumunan massa aksi 212. Uniknya, Jokowi bersama sejumlah menteri menggunakan payung biru. Kenapa payung biru? Kenapa tidak warna lain saja? Entahlah. Saya kurang tahu pasti. Walau pun ada beberapa teman yang Menghubungkanny dengan Partai Demokrat.

Uniknya lagi, Jokowi sama sekali tidak pernah menyampaikan secara spesifik makna dibalik gaya komunikasi simboliknya. Ia membiarkannya saja. Mempersilahkan siapa saja yang ingin memberikan interpretasi. Efeknya Jokowi selalu menjadi tema perbincangan.

Salam damai, mari bersulang kopi.

VIDEO PILIHAN