Mohon tunggu...
Humaniora Aesthetic
Humaniora Aesthetic Mohon Tunggu... Mengikat ilmu dengan menulis

pegiat literasi pemula, menuliskan segala hal tentang pernak-pernik kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sekolah Bengkel "Anak Buangan"

29 Februari 2020   00:24 Diperbarui: 29 Februari 2020   00:34 123 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sekolah Bengkel "Anak Buangan"
Gambar ilustrasi. Sumber: buanaindonesia.com

Tulisan Abdul Mukti berjudul Sekolah Muhammadiyah: Sekolah Bengkel "Ngopeni" Anak Duafa, menarik dan patut menjadi renungan bersama. Lembaga pendidikan, pendidik, dan mendidik memiliki banyak problem kronik yang mungkin akan panjang.

Uraian dalam tulisan Abdul Mukti adalah bagian kecil dari problem kronik itu. Dimana Abdul Mukti menguraikan "Sekolah Bengkel" (bengkel dalam arti memperbaiki anak didik bermasalah) yang mau menerima murid apa adanya dengan segala kurang dan problemnya. Mulai bermasalah di mental anak, ekonomi, hingga latar belakang keluarga.

Banyak yang menilai "Sekolah Bengkel" adalah tempatnya sekolah anak buangan, ya anak-anak yang kurang cerdas, nakal, dan istimewa (berkebutuhan khusus). Semua itu diterima saja asal bentuknya masih manusia.

Dilansir dari IBtimes.com (29/02/2020), Abdul Mukti menguraikan mengisahkan perjuangan SMP Musade yang rela menjadi sekolah bengkel.

 Tak terbayangkan ketika itu, kami harus siap menjadi sekolah bengkel. Kami pernah memandikan anak di sekolah (karena anak kami tidak pernah mandi di rumahnya). Kami pernah jadi tukang ojek antar jemput siswa. Karena tak berdaya dan mogok ke sekolah ndak ada yang antar dari orangtuanya. Kami pernah dan bahkan sering menggratiskan siswa karena sangu sang anak hanya seteguk air putih. Anak multi talen di bidang olahraga sepakbola, karena nilainya minim dan keuangannya yang minim, tidak diterima di SMP Negeri Olahraga. Kemudian oleh sekolah dibuat kreasi mengadakan hari gizi siswa. Pernah juga harus penuh kesabaran menjemput siswa yang mogok belajar dan hampir tidak berangkat ujian sekolah karena seolah hidupnya tak berdaya karena situasi keluarga yang hancur berkeping keping, bahkan mendamaikan orangtua yang hampir bercerai karena siswa kami mengalami depresi.

Pernah suatu ketika kami di bel khusus Sleman 1. Karena siswa ini pernah terkena kasus tawuran ditolak di sekolah manapun. Atas permohonan Sleman 1, kami merem saja, tersisa 6 bulan menjelang UN. Namun dengan sekuat tenaga, kesabaran, ketekunan, keuletan guru karyawan kami yang super tangguh, siswa ini didampingi penuh maksimal, kasih sayang dan motivasi. Alhamdulillah anak super istimewa ini berhasil lulus dan nilainya 10 besar di SMP kami. Sleman 1 pun menitikkan air mata haru, kagum dan takjub. Anak-anak duafa pun mereka berhak menikmati kesempatan yang sama, mimpi yang sama, bahkan masa depan yang sama. Anak kami yang sangunya seteguk air putih itu, bahkan Jawara Olimpiade dan bertengger di UGM. Anak kami yang memiliki talenta sepakbola telah merumput di Ibukota dengan beasiswa sekolah karena merumput sebagai pemain sepakbola.

Untuk menjadi sekolah seperti yang dilukiskan Abdul Mukti di atas, sudah barang tentu membutuhkan tenaga dan semangat yang ekstra bagi para pendidiknya.

Guru-guru hebat kerap sekali lahir dari sekolah-sekolah seperti di atas karena mereka mendidik dari hati dan untuk hati. Mereka menyentuh sisi kelembutan anak, memotivasi anak, membantu belajar anak bersama problemnya. Di sisi lain banyak sekali sekolah unggulan karena memang dihebatkan oleh muridnya.

Dimana input siswa memang sudah baik ataupun hampir baik. Namun demikian ketika sistem zonasi sitem zonasi diterapakan mereka mendapat beban baru dan ketidaksiapan menerim segala bentuk potensi anak yang "istimewa" itu.

Sekolah-sekolah bengkel banyak tersebar di pelosok negeri ini. Keberadaan sekolah seperti ini haruslah di dukung dan diapresiasi. Mengapa demikian? Karena sekolah-sekolah model ini berperan besar untuk merubah status quo seseorang. Sekolah ini memberikan kesempatan dan ruang bagi siapapun untuk merubah kehidupannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN