Mohon tunggu...
Muhammad FaiqulHumam
Muhammad FaiqulHumam Mohon Tunggu... Wiraswasta - Cah Pekalongan

Mahasiswa UIN Walisongo Prodi Pendidikan Matematika tahun 2018

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pancasila dalam Majelis Selawat

4 Juli 2019   17:21 Diperbarui: 4 Juli 2019   17:30 33 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
stihzainulhasan.ac.id

Agama dan budaya menjadi sebuah pengantin dalam hirarki masyarakat.  Walaupun ada sebagian golongan yang menolak dan memisahkan hubungan keduanya,  bahkan menolak ritual kebudayaan. Namun,  setiap elemen masyarakat mempunyai ritme tersendiri dalam melaksanakan ibadah agamanya bahkan menjadi ciri khas kebudayaan tersendiri.

Di Indonesia dijumpai ribuan kebudayaan dalam setiap penjuru dan lapisan masyarakat. Ada yang memang asli dari nenek moyang bangsa pelaut ini, ada pula yang berasal dari akulturasi budaya bangsa lain yang direlevankan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Di antara budaya dari luar bangsa yang masuk ke Indonesia adalah majelis sholawat. Meskipun berawal dari landasan agama Islam dimana mengajak seluruh umat untuk bersholawat atas Nabi Muhammad SAW., tetap saja menjadi ciri khas yang berbeda dengan ritual asli dari bangsa Arab itu.Tanpa disadari majelis sholawat yang penuh keanggunan spiritual itu juga terkandung unsur nasionalisme bangsa ketika sudah terlarutkan bersama identitas kebudayaan bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Tujuan awal yang menjadi landasan kegiatan majelis sholawat yaitu Taqorrub ilalloh melalui perwujudan syukur atas datangnya Sang Petunjuk umat dari kegelapan merupakan implementasi dari manusia yang berketuhanan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Kemudian, bentuk pengagungan kepada Sang Pujaanya adalah peneladanan akan perilaku dan pelaksanaan nasihat -  nasihatnya menjadi nilai estetika khusus di dalamnya. 

Penekanan sila yang kedua--kemanusiaan yang adil dan beradab--terasa kentara dan diperjelas lagi unsur keadilannya dengan adanya persamaan hak dalam satu majelis tersebut tanpa memandang kaya atau pun miskinnya.

Ketiga,  tentulah persatuan menjadi hal yang tak perlu dipertanyakan lagi.  Semua dalam satu tujuan yang diarahkan para pengiring sholawat (grup hadroh)  disertai syair- syair kalbu dalam menyampaikan rindu kepada Sang Nabinya.  Dalam satu tempat semua umat duduk bersama dari anak-anak, remaja,  dewasa, dan yang tua. Tanpa memandang latar belakang ekonomi, dari yang kaya sampai rakyat jelata. Bahkan belakangan, majelis-majelis sholawat mengundang serta para pejabat dan eselon-eselon kepemerintahan sampai aparat penegak hukum dan tentara nasional. Beberapa grup hadroh juga memasukkan syair-syair berjiwa nasionalisme yang dibalut dalam nada sholawat.

Keterpaduan tujuan baik dari pengundang maupun para tamu menjadi korelasi yang setara dengan permusyawaratan. Mereka tentunya bersepakat dalam satu ikatan rohaniyah yang sama yaitu ritual pemuliaan lahirnya Sang Utusan. Imbas dari berkumpulnya seluruh elemen adalah pandangan perspektif yang sama tanpa mengenal tingkatan kasta masyarakat itu sendiri. Dari para pejabat duduk bersama rakyat, hingga majikan yang berdampingan dengan buruhnya bersama dalam satu tahun tujuan mengharap syafaat dan keberkahan sholawat. Persamaan inilah sebagai bentuk dari unsur keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terakhir, selain menambah keimanan dan nasionalisme umat, berkumpulnya masyarakat merupakan kesempatan bagi para pedagang asongan dan pedagang sekitar tmpat berkumpul untuk mendapatkan cipratan barokah rezeki dari "para tamu Rasulullah".

Humam, 2019

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan