Mohon tunggu...
Deddy Huang
Deddy Huang Mohon Tunggu... Digital Marketing Enthusiast | Blogger | Food and Product Photographer

Memiliki minat di bidang digital marketing, traveling, dan kuliner. Selain itu dia juga menekuni bidang fotografi sebagai fotografer produk dan makanan. Saya juga menulis di https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Inspirasi Keberagaman Lewat Film "Cahaya dari Timur"

13 April 2020   11:50 Diperbarui: 13 April 2020   11:47 57 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Inspirasi Keberagaman Lewat Film "Cahaya dari Timur"
Film Cahaya dari Timur Beta Maluku (image : beritamalukuonline.com)

Film Cahaya dari Timur Beta Maluku ini membuat saya membuka kembali kenangan ketika mengunjungi Kota Ambon dua tahun lalu. Kota Ambon yang mendapat julukan The City of Music ini memang terasa nyaman. Orang-orang yang ramah sekaligus sangat membantu itu yang saya rasakan ketika traveling ke sana.

Sosok Glenn Fredly yang juga ikut bermain di dalam film ini seperti mengenang kebaikan yang sudah dia lakukan semasa hidup. Film berdurasi dua setengah jam ini mengangkat kisah konflik yang pernah terjadi di Maluku antara etnis islam dan kristen pada tahun 1999. Ternyata berhasil diredam lewat sepak bola.

Dibintangi oleh Chicco Jericho sebagai Sani Tawainella, mantan pemain sepak bola yang pulang kampung setelah gagal merintis karir sebagai pesepakbola profesional dan kemudian menghidupi keluarganya dengan mengojek.

Dalam situasi konflik agama yang terjadi di Maluku, Sani berkeinginan untuk menyelamatkan anak-anak kampungnya melalui sepakbola.Bercerita tentang Sani Tawainella, hidup dengan istrinya Harpa dan dua anaknya. 

Mantan pemain sepak bola kelahiran Tulehu ini berniat mengajak anak-anak Tulehu untuk berlatih sepak bola setiap petang. Sani melihat bagaimana kerusuhan membuat anak-anak menjadi terdistraksi dan ikut berlari untuk menonton setiap tiang listrik dibunyikan.

Gejolak konflik kerap kali terjadi kerusuhan pecah di perbatasan. Sani yang sebagai tukang ojek melihat anak-anak Tulehu harus dihindari dari konflik. Bahkan ada anak yang karena orang tuanya kena peluru nyasar.

Anak-anak yang dilatih oleh Sani sudah remaja. Sani tidak melatih seorang diri melainkan dibantu oleh sahabatnya dari kecil yaitu Rafi. Namun, pemikiran Rafi bertolak belakang dengan Sani. Diam-diam Rafi membuat Sekolah Sepak Bola Tulehu Putra tanpa sepengetahuan Sani. Konflik tersebut membuat hubungan Sani dan Rafi renggang.

Salah satu utusan dari Sekolah Paso yang merupakan sekolah kristiani meminta Sani melatih tim SSB Paso untuk menghadapi John Mailoa Cup. Awalnya keputusan untuk merekrut Sani ditolak oleh pemilik SSB karena Sani seorang muslim. 

Cuma langkah ini berhasil diyakinkan oleh Josef Matulessy kalau merekrut Sani dilihat berdasarkan kapabilitas dan terbatasnya waktu persiapan turnamen.

Dalam Final John Mailoa Cup, tim SSB Tulehu Putra bertemu SSB Paso di lapangan hijau. Sani dan Rafi pun menjadi rival. Namun Sani gagal mengalahkan Tulehu dan harus rela menjadi juara dua John Mailoa Cup.

Nasib baik berpihak pada Sani ketika dipercaya untuk memimpin anak-anak Maluku bersama Rafi untuk mengikuti kejuaran nasional Medco Foundation U-15 di Jakarta. 

Hanya saja gengsi Rafi tinggi sehingga dia mundur untuk menjadi asisten Sani dengan alasan ialah yang berhak menjadi pelatih karena berhasil membawa SSB Tulehu.

Konflik pun tak berhenti sampai disitu, Sani harus menyatukan konflik antara anak-anak SSB Tulehu Putra dan SSB Paso yang berasal dari latar belakang agama berbeda. Selain itu juga berhadapan dengan anak-anak Jakarta yang pernah mengalahkan mereka sebelumnya.

Sani sempat turun motivasi karena merasa apa yang ia kerjakan sia-sia. Sampai akhirnya Sufyan Lestaluhu yang diperankan oleh Glenn Fredly memberikan motivasi yang sangat tinggi kepada Sani. Hadirnya peran Sufyan sangat penting dalam karakter Sani.

Alhasil, Sani bersama tim Malukunya berhasil memenangkan kompetisi PSSI U-15 setelah mengalahkan wakil DKI Jakarta di partai final lewat drama adu penalti. Dalam pertandingan, siaran langsung sempat berhenti. Di sinilah magis terjadi yang membuat masyarakat Maluku cemas untuk mendengar pertandingan.

Scene film terus berlanjut. Pertandingan masih tetap bisa didengar dengan cara telepon. Lewat masjid dan gereja, mereka menyuarakan situasi pertandingan adu penalti. Terlihat beberapa umat muslim pun bergabung ke gereja untuk ikut mendengar.

Sani mengingatkan kembali tujuan anak-anak Maluku datang ke Jakarta adalah karena bukan mereka islam, kristen, Tulehu ataupun Paso melainkan mereka adalah Beta Maluku.

Film ini kental dengan pesan keberagaman. Suatu euforia kemenangan dapat meredam konflik yang terjadi. Suasana antar etnis agama pun kembali hangat.

Berlatar syuting di Ambon, Tulehu membuat film ini dikemas dengan manis. Saya suka sekali dan layak direkomendasikan buat kalian. Apalagi di dalam film ini pun diajarkan mengenai Pela Gandong, ale rasa beta pun rasa. Sekarang, tak seorang pun tak mengenal Tulehu, tempat lahirnya pemain sepak bola berbakat dari Maluku. Meski terdengar klise, sepak bola mungkin jadi jalan keluar sebagai hiburan dan pembelajaran pribadi.

Seperti apa Tulehu? Simak di tulisan saya selanjutnya.

Kompal (dok : kompal)
Kompal (dok : kompal)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x