Mohon tunggu...
Deddy Huang
Deddy Huang Mohon Tunggu... Blogger

I am a traveller, storyteller and blogger who loves different cultures and heritage. I love to share about all the magnificent and beautiful destinations in the world. Visit my travel blog at https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Lambaian Tenun Tajung, Blongsong dan Jumputan dari Tepian Musi

6 Desember 2018   10:55 Diperbarui: 6 Desember 2018   10:55 0 14 15 Mohon Tunggu...
Lambaian Tenun Tajung, Blongsong dan Jumputan dari Tepian Musi
Dermaga belakang Tuan Kentang dari muara sungai

Di tengah kepopuleran kain Songket, tak banyak orang tahu masih ada jenis kain Palembang lain tengah bangkit. Sekitar 15 menit ke selatan dari Jembatan Ampera, persis di lorong kiri sebelum Jembatan Kertapati, terdapat sebuah perkampungan warga keturunan Jawa. Kampung Tuan Kentang namanya. Di sana sudah dibangun dermaga karena lokasinya di tepian Sungai Musi. Konsep waterfront ini untuk menarik wisatawan datang melalui sungai.

Masih misteri mengapa perkampungan ini dinamakan Tuan Kentang. Konon, ada seorang saudagar Cina, memiliki bisnis besar di sepanjang muara sungai. Makamnya berada tak jauh dari kampung itu. Teori lain mengatakan area ini dulu dipenuhi tanaman kentang. Namun saat ini tak terlihat satupun tanaman kentang. 

Pagi itu di kampung Tuan Kentang masih sepi. Tak terlihat tanda aktivitas warga. Nampak berjajar tiang tiang jemuran kain dengan jepitan masih bergelantungan.

Pusat kain tenun Tuan Kentang Palembang
Pusat kain tenun Tuan Kentang Palembang
Saya bertemu dengan Syarif, seorang warga asli Kampung Tuan Kentang yang aktif dalam kegiatan UMKM. Meski sebagian besar warga kampung ini berdarah Jawa, namun sudah tak terdengar logat asli mereka. Saya bersama tiga teman diajak Syarif  berkeliling melihat proses tenun kain tajung, blongsong sekaligus pembuatan kain jumputan. Kain sudah menjadi penopang ekonomi warga.

Menenun Hidup dengan Kain Tajung dan Blongsong

Lorong sempit di perkampungan Tuan Kentang
Lorong sempit di perkampungan Tuan Kentang
Bunyi riuh alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar memenuhi lorong sempit yang membelah di antara rumah panggung. Kampung ini sejak 1970-an memproduksi tenun kain tajung dan blongsong. Teras rumah umumnya menjadi tempat penenunan. Nampak penenun lansia lincah menggerakan kaki dan tangan dengan irama teratur.

"Di belakang sano nah dek lebih banyak lagi kalau mau lihat," seru ibu penenun saat saya sedang terpesona menyaksikan kelihaiannya memindahkan benang. Ia sibuk menghitung langkah tenunannya.

Seorang lansia menolak berhenti berkarya
Seorang lansia menolak berhenti berkarya
Motif patut bunga
Motif patut bunga
Bu Woro sedang menunjukkan indahnya Blongsong yang ia kenakan
Bu Woro sedang menunjukkan indahnya Blongsong yang ia kenakan
Rona warna kain Tajung dan Blongsong umumnya cerah dengan beragam motif. Mulai dari motif patut, kembang kecil, hingga lepus. Setiap motif memiliki gintir atau tingkatan. Tingkatan yang lebih rumit adalah motif dobi atau tenun timbul. Semakin tinggi tingkatan, semakin lama waktu pengerjaanya, makin tinggi nilainya. Yang membedakan kain Tajung dan Blongsong dengan Songket terletak pada benang yang digunakan tidak menggunakan benang emas seperti Songket. Kain Tajung dan Blongsong sebenarnya sama, hanya berbeda peruntukannya. Tajung lebih maskulin karena untuk digunakan oleh pria sebagai sarung. Sedangkan Blongsong digunakan oleh perempuan sebagai sarung atau selendang.

Menjemput Jumputan

Warna-warni kain jumputan Palembang
Warna-warni kain jumputan Palembang
Tak butuh waktu lama untuk pandangan saya tergoda oleh lambaian kain warna-warni yang tengah dijemur. Rona warna jumputan Palembang memang tampak berbeda dengan kain jumputan daerah lain, seperti kain Shibori dari Jepang.  

"Mau foto, Dek? Tapi hanya bisa sendiri ya. Soalnya rumah kecil. Masuklah ke dalam!" seru si bapak. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan menyaksikan proses pewarnaan kain jumputan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x