Deddy Huang
Deddy Huang Blogger. Traveller. Freelancer.

I am a traveller, storyteller and blogger who loves different cultures and heritage. I love to share about all the magnificent and beautiful destinations in the world. Visit my travel blog at https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Bolehkah Saya Non Muslim Merindukan Malam "Lailatul Qadar"?

12 Juni 2018   11:49 Diperbarui: 12 Juni 2018   12:06 487 2 3
Bolehkah Saya Non Muslim Merindukan Malam "Lailatul Qadar"?
Lailatul Qadar (sumber : pixabay.com)

Saya tahu merindukan Ramadan bukan hanya untuk umat muslim. Setiap tahun saya selalu mendengar kalian akan bilang semoga saja bisa dipertemukan Ramadan kembali, yang kalau saya artikan umur masih panjang dan bisa beribadah Ramadan kembali.

Tulisan pertama saya di #THRKompasiana adalah murni yang memang saya rindukan dari Ramadan. Suasana yang damai, tenang dan rukun antar warga. Faktanya, bulan Ramadan tahun ini bukanlah menjadi bulan yang saya rindukan lagi, mungkin.

Musibah Datang Tanpa Pemberitahuan

Selama Ramadan cuaca panas sekali, bagai ujian panas dunia bukan panas neraka. Bahkan tedmond air bisa saya gunakan sebagai shower air panas setiap harinya. Biasanya saya di rumah saja untuk menyelesaikan tulisan-tulisan di blog dan tantangan THRKompasiana. Untuk menyelesaikan satu tulisan lengkap siap baca saya butuh waktu bisa 6 hingga 8 jam karena harus menyeleksi foto dan mendesain kembali. 

Teman-teman pasti tahu sendiri jam kerja seorang penulis lepas. Untung saja untuk tema Ramadan menulis di Kompasiana tidak sampai berat, jumlah kata yang banyak dan desain gambar yang wah. Saya sangat terbantu dengan kemudahan menulis opini di Kompasiana. Sehingga bisa saya selesaikan tulisan tema Kompasiana sekitar 2 atau 3 jam.

Sore itu, selesai saya menyelesaikan satu tulisan sampai jam 3 sore. Saya merasakan gerah dan penat. Biasanya saya menghubungi mbak Tika untuk bertanya dia sedang di mana, ya salah satunya untuk menghilangkan jenuh dengan bertemu teman supaya bisa sharing. 

Selepas itu dapat energi kembali. Akhirnya saya pacukan motor untuk keluar ke mall sebentar, hanya untuk keliling, jajan Takoyaki dan menikmati sejuknya AC dalam mall. Selepas itu saya pulang ke rumah karena jalanan Palembang macetnya sudah diprediksi.

Ketika di pertengahan jalan mau pulang, ibu telepon minta saya panggilkan taksi online untuk pulang ke rumah juga selepas dia berdoa di vihara. Saya tiba duluan di rumah, namun alangkah kaget ketika melihat rumah saya ada 2 orang di dalamnya dengan ciri-ciri penjahat yang biasa kalian tonton di berita kriminal.

Masih di atas motor menyala, saya sadar rumah saya kemasukan dua orang asing, pemuda berandal, badan kurus, dan satunya keluar rumah sambil mengacungkan saya pistol. Saya kira pistol itu hanya ada di saku polisi ternyata orang sipil pun juga bisa dapat pistol.

"Diam kau, pergi!"

Saya melirik ke samping rumah saya ada motor mereka yang diparkir. Namun penjahat tetaplah penjahat mereka lebih pintar sebab niat awal mereka sudah merencanakan. Gigi motor segera saya injak, saya panik tapi berusaha tenang. Saya pacukan motor keluar komplek rumah. Inilah yang saya sesalkan sekarang, kenapa saya tidak langsung masuk ke halaman panti asuhan depan rumah saya. Saya justru berlawanan arah dan mencoba menghubungi kakak saya untuk memberi kabar namun dia tidak mengangkat telepon.

Setelah saya agak tenang itu, saya langsung memutar arah masuk ke dalam panti asuhan dan meminta pertolongan. Saya segera mencari polisi terdekat. Namun, sekali lagi saya tidak menemukan polisi di waktu buka puasa, tidak ada polisi yang stand by di kawasan lampu merah dekat rumah saya. 

Saya memacukan gas kembali dan ingat ada kawasan kavaleri TNI. Motor saya tabrakkan pembatas masuk, saya langsung berteriak meminta pertolongan. Satu anggota TNI bersenapan laras panjang langsung meloncat ke atas motor dan kami segera melaju ke rumah.

Kondisi rumah saya gelap, karena sudah lewat jam buka puasa. Warga sudah banyak. Seorang TNI itu coba mendekati rumah saya, namun hati kecil saya dalam hati bilang "percuma penjahat sudah kabur" setelah melihat motor mereka tidak ada di samping. Rasa khawatir, panik, cemas, dan takut jadi satu. Ibu dan kakak saya baru tiba di rumah setelah saya berhasil mengabarin mereka.

Rumah saya bagai adegan penangkapan teroris yang sedang merajalela. Rombongan Polsek dan TNI datang. Hal yang saya khawatirkan adalah ibu saya, sempat saya merasakan tangannya dingin karena cemas. Tentu saja kami cemas. 

Saya sudah terbayang perangkat kerja saya sudah berhasil mereka ambil. Dan benar, Macbook, kamera mirrorless dan lensa serta ransel kerja saya berhasil dibawa kabur oleh pemuda berandal itu. Hal yang membuat saya lemas lagi adalah unit laptop review yang dipinjamkan sebuah brand untuk saya ulas di blog juga ikut diambil. Ya mereka berhasil mendapatkan dua laptop dan kamera saya. Modal kerja saya untuk mencari nafkah di dunia kepenulisan.

Belajar Ilmu Ikhlas

Pada akhirnya, semua yang kita miliki bakal hilang. Kalau tidak diambil oleh orang, ya diambil Tuhan. Tapi tetap saja ikhlas itu susah. Bunyi status Arako yang sempat saya baca di timeline facebook.

Waktu kejadian rumah Pak Dues disantroni penjahat bulan lalu dan dia juga kehilangan laptop milik anaknya yang sedang skripsi. Saya sempat bilang ke mbak Tika kalau saya akan sulit berkata-kata kalau mengalami hal yang sama. Ternyata, now its my turn. Saya kehabisan kalimat ketika dua perangkat kerja utama saya diambil oleh berandalan itu. Saya tidak nangis, saya berusaha untuk tenang dan saya pun belajar ikhlas.

Ikhlas bagaimana mengingat perjuangan saya mendapatkan kamera dan laptop tersebut. Kamera mirrorless saya didapat dari klien saya yang meminta saya untuk foto produk. Dengan kamera pocket standar saya membuat foto produk dan syukur klien saya suka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2