Mohon tunggu...
H. Alvy Pongoh
H. Alvy Pongoh Mohon Tunggu... Traveller & Life Learner

I am a very positive person who love to do the challenge things and to meet the new people. I am an aviation specialist who love to learn, share, discuss, write, train and teach about aviation business and air transport management.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Potensi Bahaya di Balik Baterai Lithium-Ion

30 Januari 2017   19:18 Diperbarui: 30 Januari 2017   21:03 2257 4 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Potensi Bahaya di Balik Baterai Lithium-Ion
Baterai Li-Ion pada iPhone 3gs. Maxresdefault

Melalui situs resminya Samsung pada tanggal 13 Oktober 2016 lalu mengeluarkan press release yang berjudul “Samsung Perluas Penarikan Semua Perangkat Galaxy Note7”, pasca kejadian meledak dan terbakarnya baterai Lithium-ion dari telepon pintar keluaran terbaru Samsung tersebut. 

Samsung akhirnya mengumumkan penarikan secara sukarela yang diperluas pada semua perangkat Galaxy Note 7 yang dijual di Amerika Serikat bekerja sama dengan Komisi Keamanan Produk Konsumen AS. 

Karena baterai Lithium-ion yang digunakan dalam telepon pintar tersebut dapat menjadi terlalu panas dan menimbulkan risiko keselamatan. Ternyata tidak hanya Samsung Galaxy Note 7 yang mengalami kejadian terbakar, selama bertahun-tahun baterai Lithium-ion juga telah menyebabkan kebakaran di hoverboard, laptop, di ponsel merk lain, dan bahkan dalam sistem listrik dari pesawat jumbo jet Boeing 787 Dreamliner. 

Meskipun banyak kejadian terbakarnya baterai Lithium-ion, bila melihat data statistik ternyata perangkat bertenaga Lithium-ion tersebut relatif aman. Menurut K.M. Abraham, seorang pelopor dari baterai Lithium-ion dan profesor di Northeastern University, Amerika Serikat mengatakan bahwa terdapat lebih dari satu miliar ponsel dan komputer yang digunakan di dunia setiap hari dan baterai Lithium-ion memiliki tingkat kegagalan yang rendah yaitu kurang dari satu kasus dalam satu juta perangkat (1:1.000.000). Angka ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kesempatan seseorang disambar petir pada seumur hidupnya yaitu sekitar satu dari tiga belas ribu (1:13.000) menurut data National Oceanic and Atmosphe

Mengapa baterai Lithium-ion dapat terbakar? 

Sebuah baterai Lithium-ion memiliki kepadatan energi hingga sekitar 160 watt jam per kilogram (Wj/kg), kira-kira dua kali lipat dari baterai alkalin baru atau baterai isi ulang NiCad. Untuk menghasilkan tenaga, baterai Lithium-ion bergantung pada tiga komponen utama, yaitu: katoda bermuatan positif (yang terbuat dari oksida logam), anoda bermuatan negatif (yang terbuat dari grafit), dan elektrolit-cairan pelarut yang mengandung lithium garam, yang memungkinkan muatan listrik mengalir antara dua kutub. 

Katoda dan anoda tersebut harus benar-benar dipisahkan secara fisik. Di mana baterai Lithium-ion menggunakan pemisah (separator) berupa polyethylene permeabel yang tebalnya 10 mikron atau 0,001 sentimeter. Para ahli baterai di dunia telah berusaha untuk menciptakan ukuran baterai sekecil mungkin sehingga mendorong terciptanya pemisah plastik antara katoda dan anoda semakin tipis. 

Ketika pemisah plastik dilanggar atau mengalami kebocoran, maka hal itu akan menyebabkan arus pendek, yang memicu proses yang disebut pelarian termal (thermal runaway). Peristiwa inilah yang membuka jalan utama mulai terjadinya kebakaran. 

Bahan kimia dalam baterai mulai memanas sehingga menyebabkan degradasi lebih lanjut dari pemisah plastik. Baterai tersebut akhirnya dapat meningkatkan suhu menjadi lebih dari 1.000 derajat Fahrenheit atau lebih dari 537 derajat Celcius. Pada saat itulah elektrolit yang mudah terbakar dapat terbakar atau bahkan meledak bila terkena oksigen di udara. 

Teknologi baterai yang aman 

Untuk meningkatkan tingkat keamanan dan keselamatan dari perangkat yang menggunakan baterai Lithium-ion, para ahli baterai telah mengembangkan generasi terbaru dari baterai Lithium-ion yang menggunakan pemisah polimer yang memiliki titik leleh lebih tinggi pada saat terjadi thermal runaway. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN