Husni Fatahillah Siregar
Husni Fatahillah Siregar Corporate Communication Professional

Menetap di Praha (untuk sementara), karena ke Jakarta aku kan kembali :-)

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Sistem Transportasi Terintegrasi untuk Jabodetabek

4 Maret 2019   18:21 Diperbarui: 5 Maret 2019   03:14 386 4 1
Sistem Transportasi Terintegrasi untuk Jabodetabek
Dok. Pribadi

Belakangan ini berita mengenai MRT Jakarta makin santer terdengar, karena jika saya tidak salah, ditargetkan Maret tahun ini sudah bisa beroperasi.

Berbicara mengenai MRT, rasanya memang sudah sejak dulu seharusnya Jakarta memiliki moda transportasi terpadu yang menyambungkan masyarakat dari Jakarta dan wilayah sekitar Jakarta.

Rasanya menjadi aneh ketika pemerintah membangun infrastruktur transportasi massal, namun malah dikritik dan dianggap tidak berguna.

Buat saya kalau bukan sekarang, kapan lagi Jakarta dan wilayah sekitar Jakarta memiliki moda transportasi terpadu. Saya memang bukan pakar transportasi, tapi sebagai masyarakat awam yang sehari-hari menggunakan angkutan umum untuk beraktivitas rasanya kok miris melihat Jakarta sedemikian besarnya tapi keberdaan angkutan umumnya masih jauh tertinggal dibanding negara kecil Singapura.

Saya ingin berbagi sedikit mengenai sistem transportasi di Praha, karena kebetulan saat ini hingga 3.5 tahun ke depan saya akan menjadi "warga Ceko" yang akan menggunakan angkutan umum, rasanya ingin sekali berbagi melalui tulisan ini.

Kota Praha secara administratif terbagi ke dalam 22 distrik, dimana guna menghubungkan warganya dari satu distrik ke distrik lain pemerintah Ceko menggunakan sistem transportasi yang terintegrasi (Prague Integrated Transport atau PIT). PIT ini mencakup metro, tram, bis, kereta api, dan feri. Dari satu distrik ke distrik lain terhubung baik dengan metro, tram atau bis. 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, wilayah Praha terbagi ke dalam 22 distrik: Praha 1, Praha 2, Praha 3 dst sampai Praha 22. Praha 1 sampai 6 masih berada di tengah-tengah atau pusat kota. Namun sistem transportasi yang tersedia menjangkau semua wilayah.

Untuk Metro terdiri dari 3 jalur atau line yang dibedakan dalam 3 warna, yaitu: jalur A (hijau), jalur B (kuning) dan jalur C (merah). Jalur metro membelah pusat kota hingga ke wilayah selatan kota Praha. Dan jaringan metro di Praha merupakan jaringan metro tersibuk ke 5 di wilayah Eropa. Untuk tram, kota Praha memiliki 22 jalur yang menghubungkan distrik-distrik di Praha.

Sementara untuk bis, terdapat 130 jalur bis. Dengan keberadaan sistem transportasi terpadu tersebut menjadikan Praha sebagai salah satu kota yang masyarakatnya banyak menggunakan angkutan umum di dunia, sekitar 1.2 juta penumpang per tahun (sumber: wikipedia.org). 

Dan, yang makin membuat menarik adalah pemberlakuan annual ticket untuk seluruh moda transportasi. Jadi, untuk di wilayah administratif kota Praha, penggunaan angkutan umum menggunakan kartu, kalau di Jakarta seperti e-money.

Yang menguntungkan adalah kita bisa membeli tiket tersebut untuk satu tahun seharga 3600 CZK tanpa perlu mengisi (top up) saldo kartu tersebut, dan bebas menaiki semua angkutan umum yang beroperasi di kota Praha tanpa perlu khawatir saldo kurang.

Untuk anak-anak harga tiketnya setahun hanya 200 CZK. Dengan tiket seharga 3600 CZK, jika dirupiahkan (dengan kurs Rp 14.500) artinya ongkos naik angkutan umum di Praha dalam 1 hari sekitar 6 ribuan dan bebas naik turun angkutan umum apapun dalam 1 hari selama 1 tahun. Contoh kartunya seperti ini:

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Untuk pembuatannya, hanya dengan membawa paspor (untuk warga pendatang) dan uang 3600 CZK, dalam 10 menit kartu pun jadi :-).

Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah sudah saatnya pemerintah Jakarta dan wilayah di sekitar Jakarta duduk bersama untuk mengintegrasikan sistem transportasi di Jabodetabek.

Saat ini sudah ada KRL, bus Transjakarta, APTB yang menghubungkan Jakarta dan kota di sekitar Jakarta. Tentunya keberadaan 3 angkutan umum tersebut masih belum cukup, karena setiap hari masih saja kita lihat kondisi di KRL atau bis transjakarta atau bis APTB penumpang berdesak-desakan karena kurangnya armada khususnya di jam-jam sibuk baik pagi atau sore hari.

Kondisi ini perlu menjadi concern dan komitmen para pembuat kebijakan tentunya, karena apabila ingin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, aturan ganjil genap saja tidak cukup apabila jumlah angkutan umum yang aman dan nyaman terbatas sehingga orang harus menunggu cukup lama. 

Pengalaman saya di Praha, misalkan dengan metro atau tram, 5 menit merupakan waktu tunggu. Sehingga kita bisa memperkirakan dengan tepat waktu keberangkatan dari rumah untuk beraktivitas. Tentunya penambahan jumlah armada dan keragaman jenis angkutan bisa menjadi solusi untuk mengurai kepadatan jumlah penumpang khususnya di jam-jam sibuk.

Akhir 2018, Pemerintah Kota Bekasi meluncurkan kembali -- setelah sempat mangkrak -- bis Patriot Bekasi yang menghubungkan jalur-jalur di wilayah kota Bekasi yang bisa menjadi feeder bagi angkutan umum lain seperti KRL.

Tentunya tidak hanya feeder bagi KRL semata, tapi harus ditingkatkan lebih luas lagi secara terintegrasi dengan bis Transjakarta, bahkan dengan MRT dan LRT nantinya. Kondisi seperti inilah yang harus dikembangkan oleh pemerintah kota di sekitaran wilayah Jakarta berkoordinasi dan bekerjasama dengan pemerintah Jakarta sehingga sistem transportasi terintegrasi Jabodetabek bisa terwujud.

Dengan keberadaan sistem transportasi yang terintegrasi dan nyaman, maka bisa menurunkan penggunaan kendaraan bermotor. Saya yakin selama kondisi angkutan umum tersebut bersih, aman dan nyaman dengan waktu tunggu yang tidak terlalu lama, masyarakat mau menggunakan angkutan umum.

Sebagai contoh ketika PT KAI merombak besar-besaran wajah KRL, memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan jumlah pengguna KRL. Walaupun masih ada kekurangan di sana sini, saya rasa kita harus terus mendukung upaya-upaya yang dilakukan PT KAI untuk membuat angkutan umum lebih manusiawi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2