Mohon tunggu...
Hizbul Wathan Pratama
Hizbul Wathan Pratama Mohon Tunggu... Pengamat Dunia Pertambangan

Mining Engineering Scholar who loves writing

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Rare Earth, Logam Jarang tetapi Melimpah di Alam

11 Juni 2019   08:09 Diperbarui: 11 Juni 2019   09:10 0 2 1 Mohon Tunggu...

Logam tanah jarang atau REE (Rare Earth Element) merupakan kumpulan dari 17 logam yang jarang ditemukan di alam. Ketujuh-belas logam ini adalah: Sandium (Sc), Yttrium (Y), Lanthanum (La), Cerium (Ce), Praseodymium (Pr), Neodymium (Nd), Promethium (Pm), Samarium (Sm), Europium (Eu), Gadolinium (Gd),Terbium (Tb), (Dysprosium (Dy), Holmium (Ho), Erbium (Er), Thulium (Tm), Ytterbium (Yb), dan Lutetium (Lu). Dalam tulisan ini selanjutnya, ke-17 logam REE, sebagaimana biasanya, dituliskan simbolnya saja, yaitu: Sc, Y, La, Ce, Pr, Nd, Pm, Sm, Eu, Gd, Tb, Dy, Ho, Er, Tm, Yb, dan Lu.

Kegunaan Rare Earth

Kegunaan REE sangat beragam, umumnya pada teknologi tinggi atau canggih. mulai dari kebutuhan industri keramik, pupuk, bahan bakar, baterai, elektronik, komputer, komunikasi, otomotif dan lainnya hingga teknologi nuklir. REE banyak digunakan dalam industry karena unsurnya relatif tidak beracun. Jika dikaitkan dengan pengembangan mobil hibrid, komoditas REE menjadi sangat strategis. Semisal, kelompok logam Nd, Pr, Dy dan Tb merupakan bahan penting dalam pembuatan motor listrik dan generator mobil hybrid. Adapun kelompok logam La, Nd dan Ce merupakan bahan penting dalam pembuatan batere mobil hibrid NiMH

Pemanfaatan REE sebagaimana skema pada gambar, dibagi menjadi kelompok fosfor dan pendaran (phosphors and luminescence), yaitu: efisiensi energi pencahayaan (energy efficient lighting), semikondutor LED (lightemitting diode), media kristal cair penampil, LCD (liquid crystal display), bagian inti dari penampil (plasma display), laser; penggunaan lain: pengolah air (water treatment), pewarna (pigments), pupuk (fertiliser), teknologi nuklir, pertahanan (defence); dan sebagai katalis, yakni: katalis dalam otomotif (automotive catalysts), katalis pada proses penyulingan dan kimia (catalysts in refining and chemical processing), bahan tambahan pada mesin diesel (diesel additive).

Penggunaan lainnya terdapat pada kelompok gelas, pemolesan, dan keramik (glass, polishing, ceramics), yaitu: bahan campuran untun pemoles (polishing compounds), agen pewaran dan anti warna pada gelas (colouring and decolouring agent in glass), penstabil pada keramik (stabilizer in ceramics), kapasitor berbahan keramik (ceramic capacitors), penyerap sinar ultra violet (UV adsorption); kelompok logam campuran dan batere (metal alloys/ batteries): logam campuran untuk pelapis baja dan dan besi (alloys for steel and iron casting), logam campuran super (super alloys), peralatan penyulut api (flint ignition device), batere NiMH (NiMH-battery), sel bahan bakar (fuel cell), penyimpan H2 (H2 sotrage), bahan untuk konstruksi ringan (light weight construction); dan penggunaan pada kelompok magnet, yaitu: motor dan generator, seperti pada turbin angin, peralatan listrik, dan peralatan hibrid (motors and generators, wind turbines, electric vehicles, hybrid vehicles), hard disc, pencitraan resonansi magnetik, MRI (Magnetic Resonance Imaging), pengeras suara (speakers), dan magnet pendingin (magnetic cooling).

 Melimpah tetapi sebarannya sedikit

Meskipun kelimpahannya di kerak bumi jauh lebih banyak dibandingkan emas maupun logam dasar. Keterdapatan REE umumnya tidak dijumpai secara tunggal dalam sebaran dengan jumlah besar, tetapi ditemukan kecil-kecil sebagai ikutan pada mineral lain sehingga Logam-logam REE disebut jarang karena di alam logam-logam ini memang jarang ditemukan secara besar-besaran. Logam tanah jarang (LTJ) tidak selangka seperti namanya. Keberadaan logam tersebut tersebar secara tidak merata, tidak dalam konsentrasi tinggi, dan tercampur dengan mineral lain sehingga membutuhkan proses yang panjang.

Menurut sebuah Survei Geologi Amerika Serikat yang dikutip dari laman CNBCIndonesia,  diperkirakan tahun 2018 lalu ada 120 juta ton cadangan logam tersebut di seluruh dunia, termasuk 44 juta di China dan 22 juta di Brasil dan Vietnam. Kendati begitu, negeri Tirai Bambu menjadi yang terbesar dalam masalah ekspor Rare Earth. Di mana selain Amerika Serikat, Jepang juga pernah mengimpor Rare Earth dari negara China tersebut. Negeri Tirai Bambu kabarnya mengendalikan 95% pasokan logam rare earth atau tanah jarang di dunia. Berikut sebaran Rare Earth dikutip dari CNBCIndonesia :

Rare Earth di Indonesia

Direktur Mining and Metals Industry Indonesia, lembaga riset yang dinaungi Inalum, Ratih Amri mengungkapkan, salah satu contohnya, rare earth dapat digunakan sebagai bahan magnet permanen yang diaplikasikan pada sektor energi baru terbarukan dan industri elektronik.

Ia menuturkan, unsur rare earth dan cobalt yang ditemukan dalam penambangan yang dilakukan oleh anggota holding pertambangan BUMN, PT Timah Tbk dan PT Antam Tbk dapat digunakan sebagai salah satu materi pembuatan baterai untuk kendaraan listrik dan magnet dalam pembangkit listrik tenaga bayu.

Ratih mengatakan, PT Timah Tbk (TINS) saat ini memang sedang mengupayakan eksplorasi untuk menambah cadangan timah, tetapi selain itu juga sekaligus melakukan upaya diversifikasi dari produk timah itu sendiri.

Sampai sekarang belum diketahui secara pasti berapa jumlah potensi REE sebagai ikutan pada mineral timah tailing atau buangan dari sisa pemrosesan endapan timah plaser pada setiap penambangan yang ada. Namun, mengutip majalah Stannia (Juli 2012), jumlah potensi REE dalam mineral monasit, xenotim dan zircon ditunjukkan oleh cadangan REE berupa kumpulan REE ( REE) dalam mineral tailing mencapai 742.835 ton. 

Dengan masih berlangsungnya kegiatan penambangan timah plaser di Bangka-Belitung dan Singkep-Kundur, baik di darat maupun di laut, muncul pertanyaan, seberapa besar cadangan REE yang masih belum/akan ditambang sebagai bakal mineral tailing? Dengan kata lain, seberapa besar cadangan REE pada endapan plaser yang ada? Berdasarkan data yang dikompilasi PSDG, Badan Geologi (2012) potensi REE dalam endapan plaser di wilayah darat untuk Bangka-Belitung tidak cukup besar dibanding potensinya pada mineral tailing, yaitu diperkirakan sekitar 17.785 ton

Jadi, berdasarkan data hingga saat ini, total REE sebagai produk sampingan dari tambang timah plaser dan endapan plaser yang ada adalah 760.620 ton (742.835 ton + 17.785 ton). Sementara itu, dari tiga kali tahap penyelidikan yang dilakukan di Daerah Parmonangan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, telah dianalisis seanyak 15 unsur tanah jarang. Hasilnya, diperoleh nilai kandungan REE yang cukup penting, yang ditunjukkan oleh Ce sebesar 600 ppm hingga 1400 ppm, La (400 ppm -- 1000 ppm), dan Pr (600 ppm -- 1400 ppm). Ada pun kandungan unsur REE lainnya umumnya kurang dari 100 ppm. Hasil perhitungan sumber daya hipotetis REE di Tapanuli Utara tersebut berkisar 8.852 ton hingga 20.803 ton atau 14.827 ton bila dirata-ratakan. Dengan demikian, bila dijumlahkan dengan hasil perhitungan sebelumnya, diperoleh bahwa total angka sumber daya REE Indonesia mencapai 775.447 ton.