Mohon tunggu...
Hilman Fajrian
Hilman Fajrian Mohon Tunggu...

Founder Arkademi.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Mengapa Perusahaan Gagal Berinovasi?

23 Mei 2017   12:50 Diperbarui: 23 Mei 2017   13:46 4608 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Perusahaan Gagal Berinovasi?
(gambar via cgsociety.org)

Bila McDonald menemukan bahwa roti prata yang diolah dengan kismis, cabe dan es krim ternyata jauh lebih lezat dibanding Big Mac, apakah mereka akan menjualnya?

Mari kita meninjau Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) yang berada di bawah Departemen Pertahanan AS adalah salah satu institusi paling inovatif di muka bumi. Mereka yang memperkenalkan kita pada internet, GPS, drone, Siri, cloud computing, peluru kendali, hingga pesawat siluman. Hampir semua yang kita kenal dalam revolusi teknologi digital berasal dari DARPA. Pekerjaan ribuan orang di sana hanya satu: berinovasi mengubah dunia.

Kita (atau seseorang di Cina) mungkin bisa meniru dan memodifikasi apa yang sudah diciptakan DARPA. Tapi untuk menjadikan perusahaan kita sebagai institusi yang tak pernah berhenti berinovasi seperti DARPA, kita mesti mereplikasi proses yang ada di dalamnya.

Mungkinkah proses inovasi DARPA direplikasi dengan mudah? Tidak sama sekali.

Steve Andriole, profesor bidang business technology di Villanova Univeristy menceritakan pengalaman hidupnya beberapa tahun di DARPA dan mengungkapkan mengapa perusahaan gagal berinovasi, apalagi meniru DARPA. Mari kita kesampingkan dulu faktor pembiayaan dimana DARPA merupakan institusi pemerintah yang didanai oleh pembayar pajak sehingga tidak kenal laba-rugi. 

Andriole menegaskan bahwa inovasi lebih sebagai kultur ketimbang produk atau kegiatan. Dari sini sudah mulai tampak keganjilan: tujuan utama bisnis adalah menciptakan keuntungan dari distribusi produk, sehingga fokus utama perusahaan adalah produksi dan distribusi. Perusahaan-perusahaan yang berhasil menjawab keganjilan ini antara lain Apple, Google, Amazon, dan Samsung.

Mengapa perusahaan gagal berinovasi?
Karena makin kaya Anda, makin pula Anda takut mengambil risiko. Anda takut gagal dan jadi miskin. Bila Anda miskin dan kelaparan, pilihan Anda makin sedikit dan siap untuk gagal mencoba ketimbang mati. Itu sebabnya banyak kisah sukses seseorang yang pernah mengalami keterpurukan hebat dalam hidupnya -- karena ia tak punya pilihan selain mencoba dan gagal tampaknya tidak terlalu buruk. Steve Jobs punya nasihat fenomenal: stay hungry, stay foolish.

Di perusahaan besar dimana para pemegang saham dan eksekutif sudah kaya raya, tim inovator yang dulu membuat mereka tajir telah lenyap. Perusahaan berjalan secara auto pilot. Yang mereka lakukan sehari-hari hanya merepetisi yang itu-itu saja. 

Ada semacam keyakinan bahwa tugas utama orang-orang dalam perusahaan besar adalah melanjutkan kebesaran itu sendiri. Kenyamanan seperti ini membuat perusahaan besar lebih sering mengekor dibanding mencipta. Mereka baru panik ketika penerimaan dan laba berguguran. RIM, Kodak, Olympus, Nokia, Sunoco, JC Penny, McDonalds adalah beberapa contohnya.

Setiap perusahaan sukses tidak sama. Tapi setiap perusahaan gagal punya kesamaan: mereka hanya sibuk dengan yang hari ini dan tak mau repot menciptakan masa depan. 

"Perusahaan kita terlalu besar untuk ide-ide kecil."
"Kita tak boleh menoleransi kesalahan."
"Perusahaan kita baik-baik saja."
"Atasan dan rekan kerja saya selalu sinis pada inisiatif baru."
"Terakhir kali seseorang punya usul, dia dihabisi."

Kesamaan lain: mereka biasanya delusional dan beranggapan masa depan itu statis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN