Mohon tunggu...
Hilman Fajrian
Hilman Fajrian Mohon Tunggu...

Founder Arkademi.com

Selanjutnya

Tutup

Internet Artikel Utama

Distorsi Kebenaran di Era Internet of Things

27 Mei 2015   12:14 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:33 0 6 5 Mohon Tunggu...
Distorsi Kebenaran di Era Internet of Things
1432703442805850995

[caption id="attachment_420643" align="aligncenter" width="560" caption="Ilustrasi (Comsoc)"][/caption] Generasi Millenial adalah adalah pemakai sekaligus pelaku dari hampir semua film fiksi sains yang kita dulu tonton di era 80 dan 90-an. Bahkan, tidak sedikit dari film-film itu yang ketinggalan zaman. Karena benda yang mereka 'prediksikan' hadir 50-100 tahun dari saat itu, sekarang sudah ada dan dipakai bebas. Atau, bayangkan betapa jadulnya teknologi yang 'diprediksikan' oleh film-film fiksi sains era 70-an seperti Flash Gordon atau Star Trek. Di era Internet of Things (IoT) sekarang ini manusia tak cukup lagi terkoneksi dengan manusia lain. Manusia harus terkoneksi juga dengan barang mati, dan barang itu harus bisa 'berpikir'. Untuk rumah tangga saja, sudah ada lampu yang bisa dioperasikan jarak jauh. Ada juga lemari es yang bisa otomatis mengorder pesanan ke toko ketika isinya habis. Untuk hidup sehari-hari tidak sedikit manusia yang sudah diatur lewat gadget seperti smartwatch atau ponsel: kapan harus tidur, kapan harus bangun, pergi ke kantor lewat mana, siang ini makan apa. Hidup memang semakin mudah, tapi ia diwujudkan dengan cara-cara amat kompleks sekaligus terbuka. Silakan anda hitung sendiri berapa jumlah IoT di keluarga anda. Mulai dari smart phone, tablet, komputer, laptop, smart tv, ipod, smart watch, pelacak hewan peliharaan, GPS mobil, CCTV, sampai lampu atau lemari es yang saya sebut di atas. Era orangtua kita dulu cukup mengetahui kondisi anaknya lewat telepon atau pager. Sekarang tak cukup. Orangtua harus tahu posisi anak lewat GPS, tahu apa yang sedang ia lakukan lewat CCTV atau monitoring ponsel, bahkan menyadap ponsel anak. Hasilnya adalah hyper connected dan air bah big data. Hyper connected membuat cara komunikasi, distribusi dan otoritas informasi berubah. Big data membuat kita dihujani berbagai informasi tak terkategori dan harus bisa kita 'sunting' sendiri. Dalam banjir big data dalam ekosistem yang hyper connected, pandangan kita akan kebenaran jadi kabur -- bahkan nyaris hilang. Kebenaran digantikan oleh popularitas. Popularitas adalah segala sesuatu yang kita suka. Dan bukan cerita baru bahwa kebenaran itu pahit -- dan tidak disukai. IoT pada akhirnya melahirkan situasi paradoks. Satu sisi ia mengkoneksikan, di sisi lain ia menurunkan kualitas informasi. Kita banyak mendapat informasi, tapi belum tentu pengetahuan. Kita makin terhubung, tapi justru menggerus kualitas keintiman atau kedekatan. Sebuah informasi bisa begitu populer, tapi belum tentu ia benar. Simaklah isi social media anda yang belakangan ramai tentang peredaran beras plastik di Indonesia. Jumlah yang mengatakan beras plastik memang betul beredar, sama jumlahnya dengan yang menyebutkan itu cuma hoax. Jadi, mana yang benar? Pergulatan mencari kebenaran soal beras plastik ini makin terdistorsi oleh sikap dan keberpihakan politik. Mereka yang tidak mendukung pemerintahan Jokowi, menggunakan isu ini untuk menyerang. Para pendukung Jokowi melakukan counter dengan bilang bahwa isu ini digunakan untuk menjatuhkan citra pemerintah. Padahal masyarakat cuma ingin tahu apakah beras plastik itu benar-benar ada atau tidak. Tapi susahnya bukan main. Begitu pula dengan isu imigran Rohingya yang sudah tercampuraduk antara isu agama, ras, kedaerahan dan politik. Yang akhirnya kita temukan akhirnya adalah pendukung, bukan pengusung kebenaran. Alangkah sulitnya mencari kebenaran di era IoT. IoT memang membuat kebenaran tak bisa dimonopoli oleh pemerintah atau media mainstream. Ia berada di tangan khalayak. Namun bukan berarti kebenaran ini tak bisa dikontrol dan diarahkan. 'Kebenaran' era IoT difabrikasi lewat citra, menciptakan suara nyaring dan lebar sekaligus gaduh, serta didorong agar populer. Itu sebabnya kita sekarang akrab dengan kata 'pencitraan'. Kata 'pencitraan' sebenarnya adalah salah satu refleksi nyata dari IoT. Khalayak sadar bahwa mereka adalah target dari operasi fabrikasi popularitas, sehingga mereka jadi hilang kepercayaan -- bahkan kepada fakta sekali pun. Pokoknya kalau ada informasi yang positif, langsung dibilang pencitraan. Sehingga, informasi baik kerap dianggap bagian dari pencitraan yang justru bersinonim dengan manipulasi. Bila yang baik otomatis dianggap bagian manipulasi, maka yang buruk dianggap bukan manipulasi. Akhirnya kita otomatis percaya dan menvalidasi informasi negatif sebagai kebenaran -- yang akan menjadikan kita sebagai masyarakat yang pesimistis dan pemarah. Berbagai perangkat IoT dikerahkan untuk memperkaya dan menciptakan banjir Big Data. Mulai dari gadget, drone, CCTV lalu lintas, pelacak pesawat terbang -- dan semua perangkat lain yang bisa menyediakan data untuk memperkuat informasi (yang berpihak).

Kita tak lagi mengenal media yang kredibel, melainkan media yang populer karena punya banyak pendukung. Menciptakan popularitas dan kegaduhan (share) saja tidak cukup, informasi difabrikasi agar bisa mencapai kedalaman (depth) yang dikelola secara intens lewat interaksi (engagement). Bangun tidur setiap pagi tak cukup lagi baca berita dari Kompas, tapi harus juga baca tulisan terbaru Jonru. Kalau sehari saja tidak nyinyir di social media, hidup tak terasa lengkap.

IoT memang membuat kebenaran tak bisa lagi dimonopoli satu-dua pihak, ia diserahkan kepada khalayak. Namun kita mengenal istilah 'individu itu pandai, tapi kerumunan itu bodoh'. Ketika kerumunan itu sudah sebegitu bodohnya dan makin membuat kebenaran sulit ditemukan, maka tiba saatnya 'mesin yang berpikir' mengambil alih. Yang kemudian kita lihat adalah cerita di film Terminator atau Matrix menjadi kenyataan. (*)

*Tulisan ini adalah versi Kompasiana dari versi aslinya di Blog Social Lab oleh penulis yang sama.