Mohon tunggu...
Hijrah
Hijrah Mohon Tunggu... Mahasiswi

Assalamualaikumussam wr.wb haloo, nama saya hijrah.

Selanjutnya

Tutup

Media

Realitas Semu Citra Perempuan, Citra Maskulin, dan Citra Kemewahan Produksi Iklan Televisi

23 Mei 2020   15:46 Diperbarui: 23 Mei 2020   15:38 74 0 0 Mohon Tunggu...

Secara umum diketahui bahwa iklan dibuat untuk memasarkan suatu produk agar terlihat menarik dan laku di pasaran. Namun, sebagian orang tidak sadar mereka telah terjebak oleh pencitraan dari iklan televisi tersebut. Mereka menganggap apa yang mereka lihat di iklan adalah sesuatu yang normal atau sesuatu yang sudah semestinya. Anggapan seperti itu mungkin agak keliru karena iklan dibuat dengan bumbu-bumbu pencitraannya. Pencitraan dari iklan televisi tersebut kemudian dapat membentuk suatu realitas sosial dan yang nantinya akan menjadi konstruksi sosial di msayarakat. Berbagai pencitraan diciptakan oleh iklan televisi.

Citra pertama yang ditampikan iklan adalah citra perempuan. Kita senantiasa menjumpai sosok perempuan dengan tampilan cantik, menarik, anggun, memiliki kulit putih, rambut hitam dan panjang. Selain itu, perempuan di iklan televisi seringkali terlihat berada di dapur, karena konsep dapur sudah melekat pada perempuan.

Citra perempuan seperti itu dapat mempengaruhi ataupun mengubah realitas yang ada. Kini iklan menjadi patokan para perempuan dalam menentukan standar kecantikan. Tak jarang kita jumpai perempuan-perempuan membeli kosmetik dan meniru style make up dari iklan televisi, terkadang juga perempuan-perempuan yang tidak memiliki kulit putih atau gelap berusaha mengubah warna kulit mereka menjadi putih agar terlihat lebih menarik seperti yang sering ditampilkan dalam iklan televisi.

Citra kedua yaitu citra maskulin. Citra yang menampilkan otot laki-laki, kejantanan, ketangkasan, keberanian menantang bahaya, keuletan, kewibawaan, yang dianggap menjadi daya tarik laki-laki. Citra maskulin ini dipertegas oleh iklan melalui realitas media meskipun keadaan tersebut bukan sesuatu yang benar-benar nyata ataupun hanya kepalsuan saja. Sehingga sebagian laki-laki juga meniru atau mengikuti konsep yang dicitrakan maskulin dalam iklan televisi di kehidupan real-nya.

Selanjutnya citra ekslusif dan kemewahan. Kehidupan yang mewah dan ekslusif tentunya adalah kehidupan yang didambakan oleh banyak orang. Sehingga orang-orang bekerja keras untuk mendapatkan realitas kemewahan dan ekslusif. Di lain sisi iklan membuat suatu realitas sosial baru dimana di dalamnya menampilkan simbol-simbol yang dianggap sebagai simbol kemewahan, seperti iklan-iklan mobil. Secara tidak sadar, citra kemewahan yang ditampilkan iklan akan menjadi pilihan-pilihan masyarakat dalam memaknai kemewahan.

Citra-citra semacam itu telah mengkonstruk kesadaran masyarakat yang mengonsumsi iklan televisi. Iklan membentuk suatu realitas sosial baru dan menyeret masyarakat masuk ke dalam dunia hiper-realitas.

Seperti yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard, kemampuan teknologi media eletronika memungkinkan perancang agenda-setting media dapat menciptakan realitas dengan satu model produksi yang disebut simulasi, yaitu penciptaan model-model nyata tanpa realitas awal. Inilah yang disebut hiper-realitas. Manusia terseret ke dalam ruang semu atau khayalan dan terjebak di dalamnya sehingga sulit membedakan mana realitas yang nyata dan palsu. Diperlukan kesadaran masyarakat untuk tidak mengonsumsi iklan mentah-mentah agar tidak terperangkap dalam ilusi buatan iklan televisi. Masyarakat harus lebih pintar memilah-milah antara realitas nyata dan realitas semu di era teknologi yang semakin maju ini.

Penulis,

Nur Afifah Taufiqah

Universitas Negeri Makassar

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x