Mohon tunggu...
Hany Ferdinando
Hany Ferdinando Mohon Tunggu... Penikmat buku dan musik yang suka tentang teknologi, psikologi, pendidikan, flora dan fauna, kebudayaan, dan hubungan antar manusia.

Belajar menulis dengan membaca, belajar kritis dengan menulis

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Aquaplaning dan Faktor-faktor Lain yang Harus Anda Indahkan saat Berkendara

10 Januari 2020   00:05 Diperbarui: 10 Januari 2020   14:16 419 4 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aquaplaning dan Faktor-faktor Lain yang Harus Anda Indahkan saat Berkendara
needpix.com

Baru-baru ini viral video sebuah mobil yang selip ketika jalan tol tergenang air yang lumayan tinggi. Sebenarnya itu video lama, tetapi menjadi kontekstual karena banjir yang melanda jakarta juga merendam jalan tol.

Tidak lama setelah itu muncullah penjelasan ilmiah yang dikenal dengan sebutan aquaplaning atau hydroplaning. Saya merasa tidak perlu menjelaskan hal ini karena pembaca bisa menemukan informasinya dengan mudah. Pertanyaannya adalah mengapa hal penting seperti ini baru muncul setelah ada kecelakaan?

Pengetahuan berkendara di jalan
Beberapa hari yang lalu saya sempat menulis tentang kunci berkendara di Finlandia yang mengutamakan masalah kesabaran dan mewaspadai blind spot. Pada bagian awal saya menyoroti mekanisme mendapatkan SIM yang terkesan kurang serius. Maksud saya, pencari SIM hanya perlu lulus ujian teori dan praktik untuk mendapatkannya. Kalau zaman old ketika ada calo, maka hampir dipastikan semua pencari SIM sukses mendapatkan SIM yang diinginkannya. Zaman now sudah terjadi perubahan dan kita mesti angkat topi untuk jajaran kepolisian yang telah mewujudkannya.

Dalam tulisan tersebut saya membandingkan cara Finlandia mengelola urusan SIM. Dimulai dengan mengikuti sekolah mengemudi, di mana siswanya belajar teori dan praktik, hingga ujiannya. Di Indonesia, pencari SIM tidak perlu membaca aturan berlalu lintas. Semua diarahkan untuk mengikuti rambu yang harus dipelajari sendiri. Kursus mengemudi tidak bertanggung jawab memberikan teori berlalu lintas.

Akibatnya, pengendara hanya menggunakan norma dan rambu (jika masih bisa taat). Kemungkinan lain adalah pengendara tidak peduli dengan norma dan rambu sehingga terjadi kecelakaan atau paling tidak mengganggu pemakai jalan yang lain.

Ketika saya mencari dan akhirnya mendapatkan SIM A di 2001, tidak pernah terdengar istilah aquaplaning seperti yang marak akhir-akhir ini. Istilah ini justru saya ketahui ketika membaca buku teori berlalu lintas. Penjelasannya kurang lebih sama dengan yang beredar di berbagi medsos kita saat ini.

Kejadian tersebut membuat saya bertanya-tanya, adakah hal penting lain yang terlewatkan dalam urusan berkendara? Saya bisa memastikan bahwa semuanya bermuara pada keselamatan bersama.

Aquaplaning
Sepertinya selama ini kita hanya menggunakan logika bahwa jalanan yang basah pasti licin sehingga kita harus mengurangi kecepatan, apalagi basa karena oli yang tumpah. Saya pribadi belum pernah mendapatkan penjelasan tentang aquaplaning ketika masih berada di Indonesia.

Ketika hujan, air yang berada di bawah ban pasti masuk ke celah-celah guratan ban. Karena celah tersebut sempit, maka perlu waktu agak lama bagi air untuk mengalir kembali ke jalan. Saat mobil dikemudikan dengan kecepatan tinggi, maka air tidak sempat mengalir dan terjadilah akumulasi air di situ.

Jadi, cara efektif menghindari aquaplaning adalah berkendara dengan kecepatan rendah.

Masalah timbul ketika berada di jalan tol karena ada batas kecepatan minimum. Dengan aturan ini, berarti Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol harus memastikan tidak ada genangan air di jalan tol. Ketika pengelola sudah mencoba bertanggung jawab dengan memelihara saluran air di wilayahnya dan tidak diikuti oleh wilayah lain, maka air kiriman gagal dialirkan dan genangan tidak dapat dihindari lagi.

Hmmm... koq jadi merembet ke mana-mana ya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN