Mohon tunggu...
Hany Ferdinando
Hany Ferdinando Mohon Tunggu... Ilmuwan

Belajar menulis dengan membaca, belajar kritis dengan menulis

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Saat Besarnya Ukuran Menjadi Masalah

24 Mei 2019   10:28 Diperbarui: 24 Mei 2019   10:55 0 0 0 Mohon Tunggu...
Saat Besarnya Ukuran Menjadi Masalah
pixabay.com

Rampung sudah tugas KPU menyelenggarakan pemilu. Saat ini bola panas yg dipegang KPU akan dioper ke MK jika kubu 02 jadi mengajukan gugatan. Masih segar dalam ingatan saya bahwa kubu 02 menyatakan tidak akan mengajukan gugatan ke MK krn dianggap percuma. Sekarang tinggal menunggu waktu, apakah gugatan tersebut benar-benar serius.

Di 17 April yg lalu, lembaga survei yg tergabung dalam PERSEPI telah menayangkan hasil hitung cepat yang mengunggulkan paslon 01. Reaksinya? Ruar biasa! Semua lembaga survei yg melaporkan kemenangan 01 dengan prosentase yang berdekatan diserang habis-habisan oleh pendukung 02. 

Beberapa hari kemudian, lembaga survei yg tergabung dalam PERSEPI tersebut menggelar jumpa pers dengan agenda menjelaskan secara terbuka metode masing-masing. Sayangnya pendukung 02 tidak hadir. Padahal ini saat yang tepat utk mengritisi metode yang menjadi bagian paling rawan dalam hitung cepat ini.

Sebenarnya, kehadiran mereka di sana akan membuat mereka tidak tampil 'planga plongo' dengan berbagai pernyataan dalam talkshow yang ditayangkan di berbagai TV. Hal yang selalu dibanggakan selalu berputar di masalah jumlah sampel. 

Menurut mereka, ukuran jumlah sampel benar-benar penting. Angka yang dibandingkan adalah 2000an TPS (oleh lembaga survei) versus puluhan ribu TPS (oleh tim internal 02).

Lembaga survei berargumen bahwa jumlah sampel tdk menjadi masalah asalkan bisa mewakili populasi (total keseluruhan data). Namun, karena tdk hadir dalam jumpa pers yang mungkin bisa membantu mencerahkan pikiran, argumen ini dianggap tdk masuk akal. Bahkan, makin ngotot bahwa mereka benar dan lembaga survei salah. 

Bagaimana logika sampel yang sedikit tetapi bisa memberikan hasil yang benar?

Sampel harus diacak

stock.adobe.com
stock.adobe.com
Data harus diacak supaya yang terambil bisa benar-benar mewakili populasi. Bagaimana hal ini dijelaskan dalam hidup sehari-hari?

Saat Anda memasak sup atau soto atau rawon, apa yg Anda lakukan saat akan mencicipi masakan tersebut? Ya! Anda akan mengaduknya supaya bumbu yang mungkin mengendap bisa tercampur rata. Selain itu, Anda juga berharap bahwa semua komponen dalam masakan akan tercampur rata sehingga rasa yang dihasilkan akan pas.

Kalau Anda memasak menggunakan garam yang kasar, seharusnya Anda mengaduk lebih lama dibandingkan menggunakan garam yang halus. Bukankah garam yang kasar memerlukan waktu yang lebih lama untuk larut?

Jumlah data yang diambil

pixabay.com
pixabay.com
Apakah Anda mencicipi seluruh kuah dalam panci? Tidak! Anda akan mengambil kira-kira sesendok makan untuk mencicipinya. Kalau Anda mengambil semangkok, itu bukan mencicipi namanya. 

Saat rasa sudah dianggap pas, maka Anda MEYAKINI bahwa masakan tersebut akan memberikan rasa yang sama dengan sedikit sampel dalam sendok yang Anda cicipi. Jadi, Anda tidak perlu mencicipi semuanya untuk mengetahui hasil akhir masakan itu. Jika Anda tidak yakin dan perlu mencicipi semuanya, sudah pasti tidak ada yang bisa dihidangkan untuk orang lain.

Hal yang sama juga terjadi pada tes yang menggunakan darah. Petugas laboratorium cukup mengambbil sekian mililiter darah untuk memastikan positif atau negatif seseorang terkena tipus, hepatitis, aids, dll. Saya teringat ini gara-gara ada cuitan yang dibagikan ke saya terkait dengan sampel yang kecil dan dianggap tidak mewakili populasi.

Penutup

Jika dalam hitung cepat hasil yang diperoleh tidak sama dengan kenyataannya, berarti ada yang salah dengan metode pengacakan dan jumlah data yang diambil. Jika melihat rekapitulasi KPU 21 Mei 2019 dini hari, maka semua lembaga survei yang tergabung dalam PERSEPI memberikan hasil yang mendekati. 

Berarti, metode yang dipergunakan bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kubu paslon 02 yang menyatakan kemenangan 62% kemudian diralat menjadi 54%? Sepertinya dugaan yang disampaikan oleh Yunarto Wijaya, ketua PERSEPI, benar, yaitu sampel diambil dari TPS di mana paslon 02 meraih kemenangan. Namun, ini hanya dugaan saya karena hingga hari ini saya tidak membaca informasi terkati dengan klarifikasi dan adu data seperti yang diharapkan. Saya pikir, publik kini bisa menilai sendiri apa yang sedang terjadi dalam tubuh kubu 02. 

Salam kompasiana!