Mohon tunggu...
Hery The
Hery The Mohon Tunggu...

Berbagi cerita secara lisan dan dalam bentuk tulisan merupakan kegiatan produktif seorang pembelajaran sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perjalanan Internasional Bukan Sekedar Butuh Paspor

9 Agustus 2014   17:54 Diperbarui: 18 Juni 2015   03:58 0 0 0 Mohon Tunggu...

Meskipun saat ini saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan internasional dan menempuh jarak terbang bermil-mil, saya tetap menganggap bahwa perjalanan internasional bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan persiapan matang dan juga kekuatan diri di dalam menghadapi berbagai tantangan yang kadang tidak dapat diprediksi. Selain berbekal pasport, bekal pengetahuan dasar mengenai tempat yang akan dikunjungi dan segala persiapan awal perlu dilakukan sebelum melakukan perjalanan. Paspor Dengan adaya perbaikan sistem pelayanan publik saat ini, pengurusan paspor menjadi lebih singkat, ringkas, dan cepat. Saya bisa mengulas kembali pengamalaman saya mengurus paspor untuk pertama kali di tahun 2008. Pada saat tersebut diperlukan kurang lebih 5 - 6 kali mondar-mandir ke kantor imigrasi Pontianak (kurang lebih 2,5 bulan) untuk sampai akhirnya mendapatkannya. Lebih celaka lagi, ketika paspor saya dinyatakan selesai dan akan diserahkan ternyata halaman depannya lupa ditandatangani oleh kepala kantor imigrasi. Untungnya saya sempat melihat sebelum meninggalkan loket pengambilan. Ini adalah salah satu contoh hal yang tidak akan pernah diduga. Visa Perjalanan saya yang pertama adalah menuju ke tempat studi di Amerika, dan sebagai pelengkap paspor saya perlu melampirkan visa. Pengurusan visa saya memang sepenuhnya dibantu oleh East West Center dan juga oleh IIEF. Pada proses ini, biaya SEVIS dibayar oleh East West Center di Amerika dan kuitansinya dikirim ke IIEF untuk disampaikan ke saya sebagai pelengkap aplikasi visa di Jakarta. Ternyata  pada kuitansi SEVIS, nama saya terketik salah oleh petugas di Amerika. Nama depan saya memiliki kelebihan huruf "N", jadi bukan HERY, tetapi tertulis "HENRY". Dengan penjelasan lisan ternyata kesalahan tersebut tidak dipermasalahkan oleh petugas kedutaan pada saat saya melakukan aplikasi, meskipun sempat khawatir juga itu akan menyebabkan aplikasi Visa J-1 ditolak. Satu lagi kecemasan yang terjadi adalah pengambambilan visa. Pada tanggal yang tertera dislip pengambilan VISA, ternyata dokumen tersebut dinyatakan belum selesai, dan paspor saya beserta VISA untuk keberangkatan baru diberikan kepada IIEF yang membantu saya mengambil dua hari sebelum tanggal keberangkatan. Perjalanan Setelah semua dokumen lengkap dan tiket di tangan,  saya tentu saja tinggal berangkat. Naik pesawat - duduk manis - transit - dan pindah pesawat. Perjalanan dari Jakarta-Singapura-Narita-Honolulu berjalan lancar. Tidak ada penundaan penerbangan. Sesampai di Honolulu, ternyata tidak begitu mudah untuk masuk ke Amerika. Pada saat itu masih diberlakukan sistem pemeriksaan tambahan untuk pendatang dari negara tertentu, termasuk Indonesia. Jadi setelah melalui loket masuk di imigrasi, saya kemudian diarahkan menuju ke ruangan khusus.  Saya menunggu di ruangan khusus bersama beberapa pendatang asing lainnya dan secara bergiliran kami ditanya-tanyai. Perlu waktu sekitar 1,5 jam untuk proses inspeksi tambahan tersebut yang disertai dengan pengambilan sidik jari dan juga foto oleh petugas. Perjalanan Menuju Dormitori Perjalanan panjang hampir 20 jam (beberapa ganti penerbangan + layover + inspeksi tambahan) akhirnya berakhir dengan kebahagiaan. Di pintu kedatangan airport Honolulu, saya disambut oleh supervisor beasiswa saya dan seorang teman, penerima beasiswa yang sama yang telah berangkat tiga bulan sebelumnya. Kebahagiaan saya segera saja buyar ketika sang supervisor menyampaikan satu berita yang tidak menyenangkan dalam perjalanan kembali kami ke dormitori. Menurut beliau, dalam satu atau dua hari ini, di Hawaii akan kedatangan "Badai Felicia". Saya diberikan beberapa instruksi mendasar mengenai kesiapan menghadapi bencana jika badai tersebut mampir. Tiba di Dormitori Pada hari yang sama, dalam keadaan jetleg berat, saya dibawa untuk mengenal lokasi tempat belanja kebutuhan sehari-hari oleh teman-teman di Amerika dan sekaligus diberikan beberapa informasi mengenai persiapan yang harus dilakukan untuk kegiatan keesokan hari dan juga selama pekan orientasi. Saya jujur tidak mampu mencernah semua informasi yang diberikan karena terlalu banyak. Perjalanan ini memang memberikan pengalaman yang sangat berarti dan menyisahkan banyak sekali cerita untuk dituliskan. Namun, saya perlu menggarisbawahi bahwa untuk melakukan perjalanan internasional diperlukan kesiapan mental, tidak mudah, namun semua orang akan bisa menghadapinya dengan kesiapan yang berbeda dan juga akan membuat cerita yang berbeda. Jadi memiliki paspor memang mudah, tetapi untuk dapat menggunakan paspor tersebut diperlukan pengetahuan dan juga persiapan. Perlu diingat, setiap orang akan mengalami situasi yang berbeda di dalam perjalanannya. Cerita saya akan berbeda dengan rekan-rekan lain yang mungkin mengalami kemudahan di dalam perjalanannya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x