Mohon tunggu...
hernawati kusuma
hernawati kusuma Mohon Tunggu... guru biasa

ibu yang sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tulis Apa yang Kamu Kerjakan, Kerjakan Apa yang Kamu Tuliskan

12 November 2014   21:02 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:57 937 0 0 Mohon Tunggu...

Pertama kali saya menjadi guru di sekolah formal—SMP Al Hikmah Surabaya-- saya langsung mendapat tugas tambahan sebagai wali kelas. Mungkin para pimpinan di sekolah saya menganggap saya mampu memegang amanah tersebut karena di tempat kerja sebelumnya (kursus bahasa Inggris yang cukup besar di Surabaya) saya merangkap sebagai konselor bahasa yang menangani tidak hanya kesulitan dalam berbahasa saja tetapi juga kesulitan dalam menjalin relasi dengan sesama.

Di sekolah inilah saya belajar menjadi guru penulis karena semboyan: tulis apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu tuliskan. Artinya, semua kegiatan pembelajaran dan layanan memiliki dokumen tertulis. Saya mempunyai agenda guru yang mencatat setiap hal yang saya lakukan dalam proses belajar mengajar. Di kelas berapa, kompetensinya apa, materinya apa, tagihannya apa sampai bagaimana saya memotret kondisi kelas yang saya ajar. Senang sekali rasanya jika materi yang saya sampaikan bisa diterima dengan baik oleh siswa. Sebaliknya, sedih rasanya jika mata siswa yang saya ajar tidak berbinar. Itu artinya, saya belum berhasil menyampaikan materi dengan baik. Catatan kecil di agenda guru inilah yang menjadikan saya terus belajar menjadi guru yang baik. Berdiskusi dengan teman sejawat, “kulakan” pada guru senior, dekat dengan siswa, dan banyak membaca, adalah beberapa contoh yang saya lakukan saat itu.

Sebagai wali kelas, saya juga mempunyai jurnal penanganan khusus siswa. Jurnal ini berisi catatan wali kelas tentang siswa, khususnya siswa bermasalah, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada stake holder sekolah yaitu wali murid. Service excellence, begitu ustad Edy Koentjoro, kepala sekolah kami waktu itu menyebutnya. Bukti fisik ini sangat diperlukan jika ada komplain. Anak tidak naik kelas, misalnya. Wali kelas harus bisa menunjukkan catatan perlakuan yang sudah diberikan sekolah. Bagaimana kondisi anak di kelas selama pembelajaran, ketika interaksi dengan teman di luar kelas, bagaimana catatan dari para guru yang mengajarnya, berapa kali wali kelas menelepon wali murid terkait kondisi si anak, sudah pernah home visit-kah, dan berapa kali wali murid diundang ke sekolah, merupakan beberapa poin penting yang harus digali. Dan itu semua harus tertulis.

Catatan Home Visit saya yang pertama—There’s Always the First Time—adalah kasus pertama saya menjadi wali kelas. Catatan itu bercerita tentang seorang anak perempuan yang tidak diterima teman sekelasnya karena sangat egois dan punya kebiasaan buruk--- ngupil (mengeluarkan kotoran di hidung dengan tangan dan membuangnya di sembarang tempat). Dengan beberapa perlakuan yang melibatkan pihak sekolah dan keluarga akhirnya si anak bisa survive dalam pergaulannya. Catatan tersebut beroleh pujian dari ustad Edy. Katanya, di sekolah lain saya dibayar mahal untuk itu pasalnya saya dapat merekam setiap detail peristiwa dan perlakuan sekolah terhadap gadis tersebut. Sebagai guru baru, pujian itu menjadi reward yang melecut saya melakukan yang terbaik. Do the best, itu yang selalu didengungkan kepala sekolah yang terkenal tegas dan teliti itu.

Saya tetap menulis meskipun terjadi pergantian kepala sekolah. Ustad Edy menjadi kepala SMA Al Hikmah Surabaya dan digantikan ustad Mim Saiful Hadi. Ustad Mim adalah pribadi santun dengan pilihan kata outstanding. Tutur katanya adalah mutiara. Saya belajar banyak hal dari beliau. Tentang kesederhanaan, loyalitas, komitmen, dan penghambaan kepada Allah sepenuhnya. Catatan saya semakin banyak dengan banyaknya anak dan masalah yang singgah di tahun-tahun saya sebagai wali kelas. Komunikasi dengan ustad Mim memperkaya kosa kata saya.

Pada kepemimpinan ustad Mim, saya mendapat reward sebagai wali kelas dengan layanan terbaik. Namun, itu bukan tujuan saya. Itu hanya bonus atas apa yang saya lakukan. Saya tetap mencatat, menulis segala hal yang terjadi di ruang kelas saya, ada atau tidak ada penilaian sekalipun! Saya merasakan menulis telah menjadi sebuah kebutuhan.

Catatan tersebut sangat bermanfaat bagi perkembangan keguruan dan kewalikelasan saya. Saya rajin menulis karena anak-anak adalah sumur inspirasi yang tidak ada habisnya. Catatan tersebut saya arsip sedemikian rupa hingga di tahun ketujuh saya sebagai wali kelas, saya mewujudkannya dalam bentuk kumpulan cerpen berjudul Sepotong Pelangi Di Atas Buku. Tulisan ini saya ikutkan sayembara penulisan buku pengayaan. Sayang, saya belum beruntung.

Ketika Much. Khoiri—penggagas Indonesia Menulis dan pegiat literasi saat ini---mengadakan lomba penulisan untuk guru, saya tinggal memungut salah satu tulisan saya berjudul The Untouchable. Tulisan ini tentang anak didik saya yang menurut teman-teman guru tidak bisa dikendalikan lantaran kenakalannya—pemimpin geng dan indispliner---tetapi saya berusaha mendekatinya dengan bahasa hati sebagai wali kelas, ibu, dan sahabat baginya. Menurut saya, selalu ada kebaikan di balik keburukan. Tulisan yang berasal dari jurnal penanganan khusus siswa tersebut nangkring di posisi kedua dan menjadi salah satu tulisan antologi Empati Guru untuk Bangsa yang terbit 2012. Senang rasanya catatan saya bisa dibaca guru-guru yang lain.

Catatan lain berjudul Nine berkisah tentang bagaimana saya memotret kecemburuan sosial antara anak-anak kelas RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) dan kelas reguler. Konflik akhirnya terselesaikan dengan cantik karena kesadaran mereka berada di jenjang yang sama—sembilan dan harus berjuang untuk kelulusan mereka. Kisah tersebut diterbitkan dalam sebuah antologi berjudul Adam Panjalu bekerja sama dengan IGI (Ikatan Guru Indonesia) pada 2013.

Kedua buku di atas ternyata mempunyai daya ungkit luar biasa bagi perjalanan saya sebagai guru yang suka menulis. Saat itu ustad Gatot Sulanjono menggantikan ustad Mim sebagai kepala SMP Al Hikmah Surabaya. Beliau menginstruksikan setiap guru menuliskan pengalaman pertamanya menjadi guru di SMP Al Hikmah Surabaya dan mengumpulkan tulisan tersebut sebagai antologi guru. Ustad Gatot memberikan ruang seluas-luasnya bagi guru untuk berprestasi. Budaya ilmu mendapat tempat yang baik di masanya. Salah satunya mengundang narasumber untuk memberikan pelatihan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) menjadi kewajiban bagi guru.

Sebagai guru saya juga suka menuliskan pembelajaran yang saya ampu, bahasa Inggris. Pada saat pimpinan memberlakukan homogenitas kelas, saya mendapat amanah kelas bawah. Artinya, kelas dengan perlakuan khusus karena mereka belum optimal secara akademik. Saya berpikir bagaimana agar anak-anak ini dapat menerima pelajaran yang saya sampaikan dan mampu menyelesaikan Ujian Nasional dengan sukses. Bersama-sama dengan guru bahasa Inggris lain kami membuat Glossary Ujian Nasional (UN), semacam kamus khusus yang memuat kosa kata yang pernah keluar di Ujian Nasional selama 5 tahun.

Dengan Glossary UN ini saya mencoba melakukan PTK untuk membantu mereka. Alhamdulillah mereka lulus UN dengan nilai bahasa Inggris yang baik. Perlakuan ini saya tulis laporannya berjudul Meningkatkan Keterampilan Reading Kelas IX-F dengan menggunakan Glossary UN. Laporan PTK ini saya ikutkan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) yang diadakan oleh LIPI dan AJB-Bumi Putera dan menyabet Juara II tahun 2012.

Sepulang dari Jakarta saya harus mensharing pengalaman mengikuti lomba di atas. Saya ceritakan kondisi persaingan di sana dan kenyataan bahwa banyak peserta lomba sudah mengenal sebelumnya dan menjadikan LKIG sebagai ajang reuni. Saya ceritakan pula bagaimana ustad Gatot mendampingi saya selama pameran dan lomba di LKIG, dan mengenalkan saya kepada para pemenang yang dikenalnya tahun-tahun sebelumnya. Beliau dua kali mengantar guru SD Al Hikmah Surabaya di event yang sama.

Meskipun persaingan sangat ketat tetapi kekeluargaan tetap terjaga. Kendati hanya beberapa hari saya di sana saya merasa sangat dekat dengan Pak Kasmal, guru olahraga dari luar Jawa yang menjadi juara I, Pak Imam Suyudi dari Gresik juara III, Bu Keke dari Jakarta yang pantang menyerah padahal beliau sudah 5 kali menjadi finalis dan belum berhasil menyabet juara. Kami saling memberi motivasi dan berbagi pengalaman dalam lomba dan menulis. Kata Pak Kasmal, sebagai guru paling tidak kita harus melakukan penelitian dua kali dalam setahun. Bu Keke akhirnya menerbitkan buku tentang bagaimana guru harus menjadi penulis. Saya menawarkan diri menulis resensi buku yang ditulis guru asal Jakarta tersebut.

Kepada anak-anak, saya sharing di forum Prokarimah (Program Karya Ilmiah). Selain LKIG, ada lomba sejenis tetapi untuk siswa. Saya ceritakan penemuan-penemuan yang dipamerkan di sana berawal dari hal sangat sederhana. Saya tampilkan foto-foto yang saya ambil saat anak-anak SMP dan SMA itu menggelar pameran dan menerangkan sebisanya. Saat pameran, saya aktif berkeliling dan bertanya kepada mereka tentang penemuannya. Saya yakin informasi ini akan bermanfaat bagi anak-anak didik saya di SMP Al Hikmah Surabaya. Ada sepatu antikekerasan seksual yang ternyata terinspirasi oleh sang kakak yang pulang malam karena sering digoda lelaki iseng. Maka adik yang masih SMP ini membuatkan sepatu yang ketika ditendangkan bisa mengeluarkan listrik. Ada setrika yang dilengkapi kipas angin dan radio karena terinspirasi pembantu yang ketika menyetrika berkeringat dan merasa bosan. Sederhana bukan?

Sebagai pemenang kedua, saya tidak bisa mengikuti lomba ini selama dua tahun kemudian. Karenanya, yang bisa saya lakukan adalah memotivasi teman-teman guru mendokumentasikan pembelajaran, melakukan PTK jika menemukan “penyakit” di kelas. Dan ini membuahkan hasil. Tahun 2013 banyak guru mengirimkan PTKnya untuk mengikuti lomba ini dan salah satu guru masuk final. Ustad Gatot meminta saya mengawal penuh guru yang masuk final tadi karena saya punya pengalaman. Dengan senang hati saya lakukan tugas ini: mengoreksi karya ilmiahnya, membantu menyiapkan presentasi, dan sebagainya. Alhamdulillah, ustadzah Asri Fahmiati—sang guru tersebut akhirnya menyabet juara I. Sejak saat itu jika ada guru atau siswa yang hendak presentasi karena maju ke babak final, saya selalu dilibatkan sebagai tim sukses.

Tahun 2013 saya mendapat kelas unggulan, saya mencoba bermain dengan teknologi. Karena kelas unggulan, saya harus melayani mereka dengan enrichment—pengayaan. Saya memanfaatkan software Hot Potatoes yang gratis dan user-friendly. Anak-anak sangat senang dengan strategi pembelajaran yang saya lakukan. Tidak lupa saya merekam semua itu dalam bentuk tulisan. Tulisan tersebut membawa saya menjadi juara III Lomba Presentasi How to Teach English with Technology yang diadakan oleh Longman-Pearson (2013). Saya mendapat hadiah banyak buku berbahasa Inggris dan empat kamus super tebal terbitan Longman-Pearson.

Pengalaman mengajar dan mendampingi anak-anak ini tidak jarang saya tuangkan dalam bentuk opini di berbagai media massa. Beberapa diantaranya pernah nongol di Jawa Pos, Republika, dan internal Al Hikmah. Selain opini saya suka menulis resensi buku. Saya membaca berbagai macam genre buku. Mulai dari komik sampai novel, mulai pendidikan sampai filsafat. Tapi, concern saya tetap pada pendidikan. Saya suka novel-novel Torey Heyden yang berangkat dari ruang-ruang kelas konselingnya tapi saya juga suka novel kartun Jeff Kinney—Diary of Wimpy Kid. Bagi saya semua buku yang baik menawarkan eksotisme.

Nah, saya tidak ingin kehilangan jejak apa yang sudah saya baca sehingga saya harus mengikat makna—meminjam istilah Hernowo, editor Mizan, dengan cara menuliskan apa yang saya baca. Beberapa resensi yang saya buat dimuat di media massa dan saya mendapat honor dan bonus dari Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah. Sebagian besar honor tersebut saya belikan buku. Saya juga sempat memenangi lomba resensi buku yang diadakan perpustakaan Al Hikmah Surabaya.

Tahun kedua ustad Gatot sebagai kepala sekolah, saya mendapat amanah sebagai Koordinator Jenjang yang membawahi para wali kelas sembilan. Tanggung jawab saya tidak hanya siswa tetapi juga memastikan para guru di jenjang kelas sembilan dan wali kelas sembilan menjalankan amanahnya dengan baik. Ustad Gatot adalah kepala sekolah cerdas, tegas, keras, teliti tetapi punya sense of humor tinggi. Berlatar belakang Matematika tetapi kecerdasan linguistik dan sosialnya sangat bagus. Perpaduan unik. Tahun 2013 Ustad Gatot mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala SMP Al Hikmah Surabaya. Saya memberi hadiah sebuah buku karya saya tentang biografi beliau berjudul Gatot Sulanjono, Pendidik Cerdas Pemimpin Tangkas (2014).

Tahun ini saya mengikuti Seleksi Guru Berprestasi dan meraih juara I tingkat kota Surabaya. Saya berhak melaju ke tingkat propinsi tetapi saya belum beruntung. Meski saya gagal tetapi saya senang karena bertemu dengan guru-guru hebat se-Jatim yang punya kepedulian tinggi terhadap pendidikan. Saya yakin suatu saat akan bisa menembus event satu ini. Di sesi wawancara saya sempat memukau juri karena saya satu-satunya dari 32 peserta yang menulis 5 buku dan itu bukan buku LKS (Lembar Kerja Siswa).

Saya memberikan ke 5 buku itu kepada juri: Sepotong Pelangi Di Atas Buku—kumpulan tulisan saya sebagai wali kelas; Menjadi The Inspiring Teachers—kumpulan buah pikiran saya sebagai guru yang dimuat di media massa; Resensi Melejitkan Potensi --- kumpulan resensi buku yang ternyata jumlahnya cukup banyak untuk dicetak sebagai buku; Gatot Sulanjono, Pendidik Cerdas Pemimpin Tangkas—biografi; Celoteh Empat Malaikat—duet tulisan saya dan suami tentang membesarkan keempat buah hati kami. Salah seorang juri tersebut langsung memberi e-mail pribadi agar saya dapat mengirim tulisan di sebuah jurnal ilmiah. Juri ini berpesan: Anda harus tetap menulis karena anda adalah guru langka.

Saya semakin yakin bahwa guru harus menulis. Dengan menulis maka kita dipaksa untuk membaca karena membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang logam yang tak terpisahkan. Dengan membaca maka pengetahuan bertambah, daya analisa terhadap sesuatu menjadi lebih tajam.

Saat Al Hikmah membentuk STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) setahun silam, dengan beberapa teman saya dilibatkan dalam diseminasi terbatas. Kami harus memberikan masukan kepada pengelola STKIP. Mengamati kurikulum yang ada, saya merasa ada yang kurang. Saya menyarankan agar calon guru dibiasakan melakukan Extensive Reading, membaca buku berbahasa Inggris di luar jam kuliah. Dalam seminggu mereka harus membacapaling tidak 2 buku dan menuliskan apa yang sudah mereka baca. Saya sangat berharap agar calon guru ini memiliki budaya literasi yang tinggi.

Dalam sebuah kesempatan fit and proper test yang saya ikuti saya mengajukan program tunggal yaitu membangun budaya literasi sekolah. Isu ini menjadi penting karena wali kota Surabaya—Bu Risma sudah mencanangkan Surabaya sebagai kota literasi pada hari pendidikan yang lalu. Saya berhasil menyuntikkan sistem di SMP Al Hikmah untuk menjalankan program literasi ini. Terhitung mulai 1 Nopember 2014 setiap hari Selasa dan Kamis semua warga sekolah wajib membaca buku selama 15 menit sebelum memulai pembelajaran. Mengapa hanya Selasa dan Kamis? Karena Senin dan Rabu adalah hari membaca Al Qur’an, sementara Jum’at adalah saat disampaikannya mutiara Jum’at oleh wali kelas, Sabtu anak-anak libur dan agenda guru pelatihan. Lima belas menit di awal hari tersebut hanya pancingan untuk membangkitkan kecintaan mereka pada buku.

Dua minggu sebelum pelaksanaan, Ustad Bambang Misdianto, kepala sekolah yang menggantikan Ustad Gatot Sulanjono, meminta saya mensosialisasikan budaya membaca ini di depan anak-anak. Saya melakukan riset kecil-kecilan sebagai bahan presentasi. Karena bertepatan Hari Sumpah Pemuda maka pilihan saya jatuh pada bagaimana literasi para pemuda Indonesia di zaman dulu.

Saya menuturkan bagaimana sang proklamator Soekarno-Hatta itu begitu cintanya pada budaya baca-tulis. Saya menceritakan gelora energi, semangat, dan orasi singa podium ini sebagaimana terekam dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, tentang peran perempuan Indonesia dalam bukunya Sarinah, dan seputar goresan pena Bung Karno yang mencapai 1.200 tulisan.

Saya ceritakan pula kedahsyatan literasi Bung Hatta yang mengoleksi 10.000 judul buku dan tentang tulisan Bung Hatta yang bila dibukukan menjadi 10 jilid yang masing-masing tebalnya 5.000-6.000 halaman, dan seputar otobiografi Untuk Negeriku (diterbitkan Penerbit Buku Kompas). Otobiografi 3 jilid ini membuktikan Bung Hatta sosok detail dalam menceritakan setiap peristiwa yang dialaminya: mulai tanggal, hari, jam bahkan pakaian apa yang dikenakan saat itu.

Saya juga mengupas agamawan sekaligus sastrawan Buya Hamkayang menghasilkan puluhan judul buku dan dua buku yang difilmkan Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Saya kenalkan mereka dengan Muhammad Yamin penulis Sumpah Pemuda yang wajahnya mirip tokoh rekaannya Gajah Mada. Tidak ketinggalan sosok M. Natsir juga Tan Malaka.

Saya menggiring mereka pada satu simpulan mengapa Soekarno, Hatta, Hamka, Natsir atau Tan Malaka senantiasa didiskusikan, diingat, dikenang, dan abadi meski zaman dan generasi telah berganti? Mereka tetap hidup meskipun tubuh berkalang tanah lantaran mereka membaca dan menulis, mewariskan sejarah kepada anak cucu Bangsa Indonesia. Saya begitu antusias mendapati mata mereka berbinar-binar.

Di sela-sela mengajar sebagai guru, di antara penatnya mengerjakan thesis, dan di antara urusan rumah tangga sebagai ibu bagi empat malaikat kecil, menulis membuat hidup saya lebih dinamis, penuh tantangan, dapat mengail banyak pengalaman, menyenangkan sekaligus membantu keuangan keluarga. Saya memang bukan siapa-siapa namun melalui tulisan setidaknya saya sudah menyiapkan secuil kenangan, pengalaman, pencerahan, dan sejarah bagi anak-anak keturunan saya kelak.

Terakhir, saya berterima kasih kepada Kompasiana dan Tanoto Foundation yang menggelar Blog Competition: Pentingnya Guru Menulis. Apresiasi begitu dalam saya haturkan kepada Bapak Sukanto Tanoto yang telah mendirikan lembaga yang banyak berkecimpung di dunia pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan enterpreneurship. Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Anda.

VIDEO PILIHAN