Hermansyah Siregar
Hermansyah Siregar Pegawai Negeri Sipil

Menguak fakta, menyuguh inspirasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Jangan Terlalu Percaya Bakat!

8 Agustus 2018   12:06 Diperbarui: 10 Agustus 2018   15:15 1068 5 2
Jangan Terlalu Percaya Bakat!
Ilustrasi: www.educenter.id

Sedari kecil aku pengin sekali pinter melukis. Rajin beli buku lukis dan berbagai alat untuk melukis. Hasilnya...ternyata jauh dari bagus (mungkin itu yang akan dibilang oleh Pak Tino Sidin). 

Kalau kalian masa kanak-kanaknya tahun 1980-an pasti kenal Pak Tino Sidin yang membawakan acara belajar menggambar sore hari di stasiun televisi satu-satunya di zaman orde baru yaitu, TVRI. Pelukis kawakan ini punya ciri khas tampilan yakni selalu memakai topi flat cap dan kaca mata berbingkai tebal berwarna hitam.

Sketsa yg terus tumbuh krn sering diasah. Dokpri
Sketsa yg terus tumbuh krn sering diasah. Dokpri
Dengan tarikan spidol hitamnya ke atas, ke bawah, kanan dan kiri, diiringi tutur kata yg lembut dan perlahan secara tak sadar sudah terbentuk sketsa gambar sederhana namun indah. 

Aku selalu takjub melihat hasil lukisan Pak Tino Sidin. Dengan teknik lukis dasar, tapi hasilnya di luar imajinasi masa kanakku. Aku coba ulang teknik menarik garis yang baru diajarkannya...sret.. sret... dan hasilnya...kok jelek ya.

Hmm...mungkin aku keliru menirunya atau salah memahami teknik goretan garis tersebut.

Sambil terus menonton acara Pak Tino Sidin di TV hitam putih yang terkadang banyak semut lalu lalang di layar kaca, tanganku memegang spidol hitam sedangkan mataku tak berkedip melotot ke arah tabung cembung itu. Dan hasilnya...masih tetap belum bisa memuaskan selera penikmat lukisan bahkan adik kelasku yg masih ingusan sekalipun. Kecewa? Tentu saja...!

Menjelang akhir acara, Pak Tino Sidin menunjukkan lukisan kiriman anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia. Dan selalu, komentar beliau seperti ini, "Anak-anak sekalian. Ini adalah lukisan temanmu yang bernama X, berasal dari kota Y, duduk di kelas Z. Lukisannya mengenai "bla..bla..bla...BAGUSSS."

Aku sengaja menulis kata "BAGUSSS" dengan huruf kapital karena seringnya kata itu meluncur dari mulut beliau di akhir kalimat sebagai penilaian atas suatu lukisan yang dikirim. 

Akhirnya kata "BAGUSSS" menjelma menjadi trademark-nya Pak Tino Sidin. Orang-orang pada zaman itu kalau memamerkan suatu karya (apapun itu) selalu mengucapkan kata akhir "BAGUSSS" sebagai penutup kata dan hadirin pun ikut tertawa.

Aku pelototi lukisan kiriman anak-anak sebayaku tersebut satu per satu. Dan memang lukisannya bagus, paling tidak lebih bagus dari lukisanku. Pengin banget rasanya kalau lukisanku dikirim ke TVRI dan Pak Tino Sidin bilang "BAGUSSS."

Tiap kali kata "BAGUSSS" terdengar, daun telingaku terasa mulai panas, semakin panas, tambah panas dan memerah bara.

"Ini lagi kiriman dari temanmu...BAGUSSS," suara itu semakin memprovokasiku.

Rasa panas pun mulai merambat menjalar ke arah mata, mata pun mulai panas, semakin panas, tambah panas dan warnanya menjadi merah bara.

Tanpa sadar tangan kananku yang di sela jari-jarinya terselip spidol hitam, seketika refleks bergetar dan terangkat ke atas. Secepat itu pula turun ke bawah melepaskan (baca: membanting, tepatnya) spidol dengan keras ke lantai.

Dengan hembusan napas naik turun, tiba-tiba kakiku mengayun melangkah tegap ke depan menghentak geram ke arah TV.

Telunjuk jari kanan dengan kasar menyentuh tombol on off TV dan menekannya dengan keras. Suara "BAGUSSS" pun mendadak hilang. Ku tarik paksa sliding door papan kanan kiri, menutup tabung layar dan panel TV, lalu menguncinya. Aku pun segera lari ke lapangan bola di belakang rumah berbaur dengan teman-temanku.

Aku mengejar bola kemana pun ia menggelinding. Ku sepak jauh sekuat tenaga tanpa arah. Ku kejar lagi dan tendang kembali. Siapa yang menghalangi aku terabas tak peduli. 

Tak dapat merebut bola, kaki kawan pun aku sambar. Kawanku mengerang terkejang kesakitan, itu sudah risiko bermain bola kaki, yang penting hatiku puas melampiaskan kesal hati.

Ritual sesat tersebut berulang setiap minggu setelah menonton acara Pak Tino Sidin. Di ujung, terdengar suara anak mengerang kesakitan di lapangan bola. Kakinya pincang disambar anak yang sedang kesurupan. 

Lakon buruk tersebut akhirnya berakhir setelah aku sadar dan mahfum tidak punya bakat melukis. Maka dari situ, mulailah mencari hobi lain dan bertemu hobi baru yaitu membaca buku bergambar alias komik.

Uang jajan dipakai bukan untuk jajan makanan, tapi buat baca komik di warung komik. Mojok berjam-jam hingga perut lapar melilit. Habis membaca serial Gundala Putra Petir, lanjut cerita super hero anak negeri lainnya, Godam. Sambung cerita silat Si Buta dari Gua Hantu kemudian Pendekar Gendeng yang namanya dicatut untuk aksi demo Wiro Sableng 212.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2