Mohon tunggu...
Heriyanto Rantelino
Heriyanto Rantelino Mohon Tunggu... Anak Muda Idealis di Tanah Papua

Perantau di Timika, Papua. Kontak 085242441580

Selanjutnya

Tutup

Humor Artikel Utama

Sepucuk Surat Cinta Mace Marta di Timika untuk Pace Thomas di Tembagapura

11 Juli 2019   08:07 Diperbarui: 13 Juli 2019   16:30 0 9 5 Mohon Tunggu...
Sepucuk Surat Cinta Mace Marta di Timika untuk Pace Thomas di Tembagapura
Ilustrasi dokumentasi oleh Foto: Biro Pers Media Kepresidenan / Agus Suparto 

Mace Marta dan Pace Thomas adalah sepasang suami istri yang menetap di Jalan Serui Mekar, Kota Timika, Papua. Namun karena tuntutan pekerjaan sebagai penambang di area PT Freeport Indonesia maka dengan berat hati, Pace Thomas pergi mengais rejeki ke Tembagapura. Mau tak mau, Mace Marta harus tinggal di Kota Timika bersama dua anaknya.

Anak pertamanya sudah kerja di Dinas Perhubungan Mimika dan anak keduanya sudah di kelas 3 SMA. Untuk mengisi waktu luangnya, Mace Marta berjualan pinang di pinggir jalan.

Suatu ketika, tiba-tiba Mace Marta dilanda rindu yang begitu besar ke Pace Thomas. Untuk menumpahkan rasa rindunya yang bergejolak, Mace Marta menulis sebuah surat yang isinya seperti ini

Halo Pace Thomas. Bagaimana kabarmu di Tembagapura? Tiba-tiba saja, sa (saya) begitu rindu ingat ko (kamu) e...! Walau ko turun Sabtu dan Minggu (5 hari kerja, 2 hari off) tapi itu sebenarnya tidak cukup bagi sa. Sa mau kita habiskan banyak waktu untuk cerita banyak, tertawa bersama-sama seperti waktu kita masih SMA dulu.

Sa sebenarnya mau sekali ko lama di Timika, pergi belanja baju bagus-bagus di Diana Supermaket, makan ayam goreng KFC di Galael, pergi sembayang sama anak-anak di Gereja Viadolorossa, pergi renang di Kolam Kuala Kencana, menginap di Hotel Rimba Papua, pi beli Karaka di mama-mama di Pomako, pi mancing di muara, bakar ikan kakap merah, makan pinang sama-sama dan joget seka di rumah. Tapi sa tidak boleh egois, karena ko kerja sebagai ko pu tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Orang bilang kepanjangan Timika itu Tiap Minggu Kacau, tapi sa rasa itu benar karena sa pikiran kacau kalau ko jauh dari sa. Kacau pikirkan ko su makankah, kacau pikirkan ko tidak sakitkah atau kacau pikirkan jangan sampai ada perempuan bagatal yang colek-colek ko di sana.

Orang bilang kepanjangan Timika itu Tiap Minggu Kangen, sa rasa itu benar juga. Sa di Timika, pu kangen ko sekali ini. Kangen cara ko buat sa tertawa, kangen ko pu masakan papeda, kangen ko pu muka,kangen dengar ko pu suara ngorok kalau ko tidur  pokoknya kangen ko semuanya.

Pace Thomas, sa tahu di Tembagapura sana pu dingin apa tapi sejujurnya sa lebih dingin di Timika. Bukan suhunya tapi karena ko yang tidak ada di dekat sa. Kalau saya ke terminal gorong-gorong untuk jemput ko off dari tempat kerja, sa macam mau polo ko langsung saat baru turun dari bus oranye itu. Tapi sa malu karena banyak orang, nanti sa polo ko di rumah saja ee. Hehehe.

Nanti pokoknya kalau ko cuti nanti, tong liburan ke Tual ee tapi naik kapal Tatamailau. Ko pasti ingat kapal itu toh, tempat kita kenalan pertama kali. Sa ingat waktu sa pu barang 2 karton Embal Love dan kacang botol, ko yang bantu angkat dari kapal padahal ko tidak kenal sa waktu itu. Nanti kalau ke Tual, kita bulan madu ke dua ee, kasih tinggal kita pu anak saja.
Dong su besar itu, sebentar juga su mau kawin sama pucuk-pucuk muda Timika kapa. Pokoknya kalau kita Tual, sa ajak ko kenalan sama sa pu keluarga di Kolser baru kita pi jalan-jalan ke Pantai Pasir Panjang, Pulau Baer, Pantai Ngurtafur, Gua Hawang dan banyak lagi.Ko santai saja, karena sa pu keluarga di Kolser itu baik-baik. Tong pu masakan pu enak apa apalagi kalau masakan ikannya.

E..Ko stop minum-minum ee. Ko simpan ko pu uang untuk biayai kita pu anak kedua sekolah nanti. Sa mau sekolahkan di sekolah tempat pu Pak John Rettob dulu sekolah di Curug. Biar bisa pintar kayak pace andalan sa itu.

Kalau dia su selesai sekolah, semoga kita pu anak bisa jadi pilot dan punya pesawat sendiri. Ko tahu toh tiket pesawat sekarang pu mahal apa. Makanya bagus kalau kita pu anak ada usaha penerbangan pesawat macam Susi Air begitu biar kita pu anak dan orang-orang Papua lainnya tidak mengeluh karena naiknya tong akan naik pesawat  murah kita yang namanya Papeda Airways.

Pace, sa baca kemarin portal berita andalanku, SeputarPapua.com, sa lihat ditulis di situ bahwa katanya pemerintah Indonesia sekarang pu saham di Freeport 51 % persen ee.

Sa kira itu su bagus biar adil sama kita pu masyarakat. Tapi ada satu hal yang sahamnya 100% sa punya yaitu ko pu hati. Kalau ko berani bagi sahammu sama orang lain, berarti kontrak karya hati kita putus. Sa tra mau lihat ko pu muka lagi kalau ko berani bagi-bagi ko pu saham hati itu. Itu mutlak sa punya semua.

Pace, Sa pu kata-kata su habis. Pokoknya sioo, sa pu rindu dan kangen sekali ko Pace. Ko tetap ingat sa eee. Ko kerja baik-baik di sana ee. Jaga ko pu kesehatan dan jangan ko banyak pikiran. Sa di Timika setia dan demiiiii, percaya sa tra jalan sama laki laki lain. Ko pu tetap nomor satu di sa pu hati. Salam sama Pace yang pu Freeport ee, pace Tony Wenas.

Info tambahan:
Cerita ini hanya karangan belaka, hanya iseng-iseng buat pace/mace tersenyum. Jangan dibawa ke hati. Jika ada kesamaan nama atau peristiwa itu kebetulan belaka. Hidup jangan terlalu serius, nanti cepat pusing apalagi kalau soal hati yang urusannya setengah mati kalau di pikir. Slow saja.

Penulis:Heriyanto Rantelino, Anaknya Pace Marta dan Pace Thomas
Facebook: Heriyanto Rantelino

Instagram:Ryanlino7
Kontak Whatsapp: 0852-4244-1580 

Ryan, Anaknya Pace Thomas dan Mace Marta
Ryan, Anaknya Pace Thomas dan Mace Marta