Mohon tunggu...
Heri Bertus A Toupa
Heri Bertus A Toupa Mohon Tunggu... Bijak dalam Berpikir dan Sopan dalam Perkataan

Gemar travelling dan membaca - Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

The Best Hero from Papua: Bertarung Nyawa demi Tugas Mulia

12 April 2021   21:39 Diperbarui: 12 April 2021   21:46 114 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
The Best Hero from Papua: Bertarung Nyawa demi Tugas Mulia
Oktovianus Rayo & Yonatan Renden (source:portalpapua.com)

Dunia Pendidikan di Indonesia kali ini telah kehilangan dua orang guru yang berjasa bagi seluruh  masyarakat di tanah Papua. Dua orang guru yang mengajar di  SD  dan SMP yang berasal dari Tana Toraja bernama Oktovianus Rayo (OR) dan Yonatan Renden (YR) telah menjadi korban pembunuhan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak, Papua (kampung Julukoma, distrik Beoga). 

Peristiwa itu terjadi pada pagi hari sekitar jam 9:30 WIT, pada tanggal 8 - 9/4/2021 (source: Kompas.com & Kareba Toraja.com). Diketahui bahwa selain berprofesi sebagai guru, salah satu korban (OR) juga mempunyai usaha sampingan yaitu mengurus kios (toko kecil) dimana beliau tewas tertembak di sana, sedangkan YR sendiri menjadi korban ketika hendak  berangkat mengavakuasi mayat OR.

 Seperti yang diketahui bahwa, sejumlah Aparat Sipil Negara (ASN) yang berada di daerah Papua (di pedalaman atau di kota) dari berbagai institusi mempunyai usaha sampingan dari pekerjaan tetap mereka sebagai aparat negara, seperti: bertani, berkebun, beternak dan berdagang. Salah satunya korban yang mempunyai usaha sampingan dengan membuka kios sederhana dengan menjual segala kebutuhan pokok di pedalaman dengan maksud untuk menambah sumber penghasilan sebagai guru.

Akan tetapi, nasib berkata lain, mereka berdua harus tewas di tangan para pengacau keamanan di Papua. Sungguh mulia jasa - jasanya yang telah mereka buat selama di Papua, beliau ingin masyarakat yang ada di daerah pedalaman mengeyam ilmu dan pendidikan yang setinggi-tingginya agar kelak mereka dapat mengubah Papua menjadi daerah yang sungguh diandalkan di Indonesia. 

Dengan pengorbanannya yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, dunia teknologi dan keluarganya sendiri, sang guru ini harus rela meninggalkan segalanya demi mengembang tugasnya sebagai garda terdepan untuk dunia pendidikan di daerah pedalaman.  Dengan berbekal peralatan seadanya, sang guru ini harus mengajar murid-muridnya di pedalaman dengan tekun dan tak menuntut apa-apa, dibandingkan dengan tenaga pengajar yang tinggal di kota yang hidup dengan enak dan layak, tanpa ada penderitaan sama sekali. Mereka masih bisa membuka sosial media dengan bebas dan jalan-jalan kesana kemari, dibandingkan dengan guru yang tinggal di daerah pelosok harus rela kehilangan signal untuk bersocial media. Bahkan untuk mencapai sekolah saja,para guru yang tinggal di pedalaman harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk sampai di sekolah.

Secara kenyataan, para tenaga pengajar di pedalaman Papua dan di daerah lainnya di Indonesia sangat jauh dari kata sejahtera dan layak. Terlebih lagi para guru yang masih honorer atau kontrak, masih sangat prihatin. Gaji yang mereka terima per bulannya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan ada guru yang tidak menerima gaji mereka selama beberapa bulan. Kalau kita melihat seorang guru yang tinggal di kota dan telah bersertifikasi, tentu hidupnya sungguh sejahtera dan layak yang mana sudah bisa membeli atau mengicil sebuah mobil dari hasil gajinya. 

Selain itu, tidak ada rasa takut sama sekali dalam menjalankan tugasnya, dan dapat  hidup dengan tenang dan aman dalam menjalankan segala bentuk usaha dan aktivitas di masyarakat. Tentunya jauh beda dengan para guru yang tinggal di pedalaman, mereka harus bertaruh nyawa dalam menjalankan tugasnya. Mereka harus berpikir dalam - dalam lagi ketika mereka ditempatkan di daerah yang jauh sekali, tetapi demi tugas mereka sebagai tenaga pengajar yang ingin mencerdaskan anak bangsa, mereka rela berangkat dan tinggalkan segala bentuk kemewahan di hidup mereka.

Sungguh sangat ironis nasib kedua guru ini, mereka harus kehilangan nyawanya di tangan para pihak yang tidak bertanggung jawab di tanah Papua. Nama Papua harus tercoreng akibat ulah para kelompok bersenjata ini. Mereka telah membunuh seseorang yang berjasa dalam di dunia pendidikan. Tidak ada belas kasihan sama sekali terhadap kedua guru ini, mereka harus kehilangan nyawanya bagaikan anak domba yang menuju ke tempat pembantaian.

Melihat situasi yang bergejolak di Papua sekarang, tentunya para tenaga pengajar, perawat dan pekerja lainnya sangat takut untuk ke pedalaman dalam melaksanakan tugasnya sekarang. Mereka rela kehilangan pekerjaan mereka sekarang daripada kehilangan nyawa sendiri, karena mereka takut menjadi korban berikutnya yang mana para pengacau keamanan semakin beringas dalam aksinya. 

Masih teringat sekitar 2 tahun lalu di Nduga, beberapa pekerja kontruksi yang sedang bekerja harus rela dibunuh oleh KKB tanpa ada belas kasihan dari mereka. Bahkan beberapa para korbanya sendiri, teristimewa yang berasal dari Tana Toraja, menjadi tulang punggung dalam keluarga mereka. Para keluarga yang berada di kampung, harus rela kehilangan seorang anak, ayah dari anak - anak yang masih kecil, karena ulah pihak kelompok yang tidak bertanggung jawab & bermoral.

Bukan kali ini saja seorang guru yang telah menjadi korban, tetapi sudah ada beberapa tenaga pengajar yang telah menjadi korban sebelumnya. Mereka harus kehilangan nayawa mereka dalam tugas ditangan para kelompok yang mempunyai visi dan misi serta tujuan tertentu. Bahkan bukan dari pihak tenaga pengajar saja yang telah menjadi korban, dari pihak TNI dan Polisi harus rela juga menjadi korban penembakan ketika melaksanakan tugas mereka dalam menjaga keamanan di setiap daerah di Papua. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN