Sosbud

Idulfitri Momentum Menghilangkan Kebencian

22 Juni 2018   12:58 Diperbarui: 22 Juni 2018   13:03 190 0 0

Jelang perhelatan pemilihan kepala daerah ini, ujaran kebencian terus menyebar di dunia maya. Cara-cara yang tidak baik ini, ternyata masih saja sering digunakan oleh timses pasangan calon, untuk menjatuhkan pasangan calon yang lain. 

Jauh sebelum perhelatan pilkada, ujaran kebencian juga telah merebak. Tujuannya beraneka macam. Ada yang ingin menebar kebencian, ada yang ingin menjelekkan pemerintah, ada yang ingin menjatuhkan elektabilitas pasangan calon, dan berbagai kepentingan lain yang melatarbelakangi kemunculan ujaran kebencian ini. 

Dan baru saja, seluruh umat muslim di Indonesia melakukan perayaan idul fitri. Di hari tersebut, semua piihak saling memberikan maaf dan meminta maaf, atas kesalahan yang selama ini telah dilakukan. Dan tradisi dari dulu itu, masih terus bertahan hingga saat ini.

Jika pada hari lebaran, semua orang bisa meninggalkan kebencian dan saling meminta maaf, semestinya hal itu bisa dilakukan pada momen yang lain. Dalam perhelatan pilkada pun, semestinya juga bisa diterapkan. 

Jika selama ini timses sibuk mencari kejelekan pasangan calon, saatnya saling meminta maaf dan berjanji tidak lagi melakukan menebar kebencian. Pilkada semestinya bisa dilakukan dengan penuh suka cita. Tidak ada bibit kebencian antar sesama. Sehingga pilkada akan melahirkan adu gagasan yang positif, bukan adu kebencian antar sesama.

Penyebaran bibit kebencian di dunia maya, memang memberikan kekhawatiran tersendiri. Munculnya kelompok seperti Saracen atau MCA, yang sengaja menebar kebencian demi mendapatkan keuntungan rupiah, tentu sangat disayangkan. 

Yang lebih ironis lagi, pihak-pihak yang memesan kebencian untuk disebarluaskan tersebut adalah pihak yang berpendidikan, dan pihak yang bakal mendapatkan amanah dari rakyat. Semestinya, mereka yang bertariung dalam pesta demokrasi itu, justru aktif menebar kedamaian dan aktif mencegah potensi terjadinya perpecahan.

Pesta demokrasi harus melahirkan kesejahteraan, bukan kesengsaraan. Demokrasi juga harus melahirkan kedamaian, bukan suasana yang mencekam. Untuk itulah, bibit kebencian harus dihilangkan dari dalam diri kita masing-masing. Ingat, karena kebencian itulah yang kemudian melahirkan intoleransi. Dan karena intoleransi itu pula yang melahirkan bibit radikalisme. Dan bibit radikalisme itulah yang kemudian melahirkan terorisme. Karena itu, jangan remehkan kebencian. Karena kebencian bisa berdampak buruk bagi kita semua.

Dan mari kita jadikan momentum idul fitri ini, sebagai momentum untuk berbenah. Sebagai negara dengan mayoritas masyarakat beragama Islam, semangat idul fitri ini semestinya bisa melekat di seluruh masyarakat Indonesia. 

Dan jika hal ini terjadi, bibit kebencian atas nama apapun semestinya bisa dihilangkan dari negeri ini. Apalagi, Indonesia juga mempunyai adat istiadat yang sangat mengedepankan toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Semangat gotong royong yang masih melekat, juga bisa menjadi upaya untuk meredam merebaknya bibit kebencian.

Mari saling introspeksi dan menjaga negeri dari segala pengaruh buruk. Mari kita jaga Indonesia dari ancaman perpecahan karena provokasi kebencian dan radikalisme. Indonesia sangat kaya akan sumber alam dan budaya. Akan sangat disayangkan jika masyarakatnya saling bertikai, karena masih memelihara bibit kebencian. 

Sebaliknya, negeri ini akan berkembang menjadi negeri yang toleran, seluruh rakyatnya sejahtera, dan kedamaian tercipta, karena seluruh masyarakatnya memeliharan bibit perdamaian. Di tahun politik ini pula, bibit perdamaian ini semestinya terus dijaga oleh semua pihak.