Hendro Santoso
Hendro Santoso Purnakaryawan

Seorang Kakek, hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Piala Thomas 2018, Teladan dari Ahsan dan Hendra Setiawan

26 Mei 2018   11:31 Diperbarui: 26 Mei 2018   11:43 825 3 3
Piala Thomas 2018, Teladan dari Ahsan dan Hendra Setiawan
Ahsan dan Hendra Setiawan (Foto Badmintonindonesia.org)

Tim Piala Thomas Indonesia harus mengakui keunggulan China 1-3 di semifinal pada Jumat (25/5/18) di Impact Arena Bangkok. Hasil ini membuat Indonesia gagal menuju fase final untuk merebut Thomas Cup yang sudah lama tidak pulang ke Tanah Air. Perjuangan mereka yang tidak pernah lelah sangat layak diapresiasi penuh dengan rasa hormat dan kebanggaan.

Data hasil laga dari BWF.tournamentsoftware.com (25/5/18) mencatat bahwa kekalahan Indonesia terjadi di nomor Tunggal ketika Anthony Sinisuka Ginting dikalahkan Chen Long 20-22, 16-21. Jonatan Christie menyerah kepada Shi Yuqi, 21-18, 12-21, 15-21 dan ganda kawakan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan harus mengakui keunggulan Li Junhui/Liu Yuchen dengan 17-21, 21-18, 12-21. Satu-satunya angka kemenangan diraih oleh ganda nomor satu Dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang menang atas Liu Cheng/Zhang Nan, 12-21, 21-17, 21-15. Tunggal ketiga antara Ihsan Maulana Mustofa dan Lin Dan tidak dimainkan.

Saat Indonesia ketinggalan 1-2 sebenarnya pasangan Ahsan/Hendra sangat diharapkan bisa menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan penentuan pemenang ditentukan oleh nomor terakhir yaitu tunggal putra ketiga antara Ihsan dan Lin Dan. Namun ganda Indonesia pemegang Juara Dunia dan Olimpiade ini harus mengakui keunggulan pasangan muda China yang memiliki ranking 4 Dunia, Li Junhui/Liu Yuchen.

Kualitas permainan Hendra/Ahsan masih terlihat sebagai ganda papan atas yang layak berada di jajaran elit ganda dunia. Nampak mereka bisa mengimbangi permainan ganda China peringkat 4 dunia ini. Hanya faktor usia yang menyebabkan Hendra/Ahsan sudah tidak bisa mengimbangi kecepatan permainan ganda China tersebut. 

Ada permohonan maaf dan pengakuan jujur dari ganda Indonesia ini seperti dilansir Badmintonindonesia.org (25/5/18) : "Kami sudah mencoba yang terbaik sebisa yang kami punya. Kami sudah berusaha, walaupun ketinggalan kami tetap berusaha. Tapi memang inilah hasilnya. Saya juga minta maaf sama tim dan seluruh masyarakat Indonesia atas kekalahan ini," kata Ahsan usai pertandingan.  Sementara Hendra mengakui dengan jujur bahwa ganda China ini lebih baik dari Indonesia. "Mereka memang bagus ya. Dan di game ketiganya kami ketekan terus," kata Hendra mengomentari pertandingannya seperti dilansir dalam situs tersebut.

Permohonan maaf dari Ahsan dan pengakuan jujur dari Hendra merupakan cermin yang jelas terlihat dari sikap seorang olahragawan sejati. Mereka, Hendra dan Ahsan adalah olahragawan yang sangat sportif mengakui keunggulan lawan setelah pertandingan usai. Sikap seperti ini patut dicontoh oleh pemain muda kita. Selalu berikan rasa respect kepada lawan baik saat menang maupun kalah.

Jadi ingat kepada Kevin Sanjaya yang suka usil kepada lawan saat bertanding. Sebaiknya Kevin mulai menghilangkan kebiasaan tersebut karena sangat terkesan melecehkan lawan. Bagaimanapun sikap dan etika di lapangan akan memberikan dampak langsung dalam permainan dan profesional pemain.

Pada ajang Piala Thomas ini, akhirnya Indonesia harus terhenti di semifinal dan harus diakui bahwa Tim Thomas Cup harus kembali berbenah. Namun demikian, mereka sudah memberikan yang terbaik bagi Bangsa dan Negara. Perjuangan yang tidak kenal lelah dan tidak mau menyerah adalah kebanggaan bagi Rakyat Indonesia untuk Tim Thomas Cup kita.

Terima kasih untuk para Pahlawan Bulutangkis Negeri ini. Bravo Merah Putih.

#hensa26052018