Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Tidak Ada Prostitusi Tanpa Laki-laki Pembeli

11 Januari 2019   04:43 Diperbarui: 11 Januari 2019   13:30 934 65 53
Tidak Ada Prostitusi Tanpa Laki-laki Pembeli
sumber:sk-desk-johnclip2

Prostitusi adalah pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran. Demikian catatan KBBI. 

Pada prostitusi ada laki-laki selaku pengguna jasa Pekerja Seks Komersial (PSK), ada perempuan selaku PSK, dan ada mucikari bila menggunakan jasa perantara.

Publikasi Kasus Prostitusi Tanpa Laki-laki

Akan tetapi, pada setiap kasus prostitusi online yang dirilis secara resmi oleh pihak kepolisian, umumnya, hanya menampilkan pertama-tama dan yang utama adalah perempuan dan berikutnya sang mucikari.

Tak ayal, hanya wajah si perempuan yang memenuhi tayangan media televisi, cetak, dan online. Lalu, mana oknum pengguna jasa prostitusi online itu, yakni si laki-laki itu? Yang manakah orangnya? Siapakah dia?

Bukankah pada prostitusi ada perempuan dan ada laki-laki? Prostitusi tidak akan pernah menjadi prostitusi tanpa laki-laki!

Sekalipun ada sejuta perempuan pelacur, tetapi tanpa laki-laki pembeli jasa mereka, tidak ada yang namanya prostitusi. Yang ada hanya para pelacur tanpa prostitusi!

Oleh karena itu, bagaimana mungkin merilis terkuaknya sebuah praktik prostitusi online bila manusia yang ditampilkan sebagai bukti pelaku adalah perempuan saja?

Apa maksud pihak kepolisian tidak menampilkan sosok laki-laki si pengguna jasa? Bukankah praktik prostitusi menjadi terbukti karena keduanya tertangkap sedang bersama-sama di dalam kamar hotel?

Dicemaskan adalah jika laki-laki itu bisa tidak menghargai rejeki Allah yang diberikan kepadanya dengan menghabiskan 80 juta rupiah hanya untuk syahwatnya, maka ia pasti akan sanggup membayar lebih daripada itu untuk menutupi malunya!

Persoalan Moralitas Artis atau Moralitas Masyarakat?

Bisa saja ada alasan, bahwa karena yang public figure adalah si perempuan, maka dialah yang diekspos. Tentulah ada maksud pembelajaran di situ dan tujuan spesifik yang hendak dicapai dari upaya pemberantasan perdagangan perempuan melalui prostitusi online serta keuntungan bagi media untuk menarik para pemirsa dan pembaca karena pelakunya adalah seorang artis.

Pertanyaan saya:

Prostitusi itu adalah persoalah tokoh publik atau persoalan moralitas masyarakat?

Prostitusi adalah persoalan moralitas masyarakat lintas status sosial, oleh sebab itu tidak ada alasan apapun untuk tidak menampilkan pihak pengguna jasa PSK, yakni laki-laki yang tertangkap bersama perempuan yang dipublikasikan itu, sebab ini bukan masalah artis semata!

Prostitusi bukanlah perihal perempuan saja, tetapi juga laki-laki! Bila prostitusi itu disebut sebagai penyakit sosial, maka penyakit itu bukan hanya diidap oleh perempuan, tetapi juga laki-laki!

Bila laki-laki itu bisa mengeluarkan uang sebesar 80 juta rupiah untuk seorang artis, maka dapat diduga kuat, bahwa itu bukanlah kali pertama dia melakukan praktik ini.

Akan tetapi, seolah-olah yang hendak dibuat tobat adalah perempuan saja. Sebab dengan mempublikasikan perempuan itu secara terang-terangan, maka ia dibuat makin malu, yang dengan itu ada harapan bahwa ia akan kapok.

Lalu bagaimana dengan laki-laki itu? Kapan laki-laki seperti itu akan kapok jika setiap kali menguak kasus prostitusi pihak aparat kepolisian membedakan perlakuan terhadap oknum laki-lakinya dari si perempuan?!

Jika laki-laki itu tidak dipublikasikan, maka si perempuan seharusnya juga tidak dipublikasikan! Itu adil!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3