Mohon tunggu...
Heni Pristianingsih
Heni Pristianingsih Mohon Tunggu... Pendidik

Mencari inspirasi hidup melalui kisah dan pengalaman

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Rindu Ramadhan: Cara Jitu Memanjakan Keluarga

16 April 2021   06:17 Diperbarui: 16 April 2021   06:46 371 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rindu Ramadhan: Cara Jitu Memanjakan Keluarga
Sumber foto: Ilustrasi Makan bersama.foto/istockfoto

Bulan Ramadhan selalu memberikan nuansa yang berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Sebagai muslim, panggilan hati untuk lebih meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada ALLAH SWT semakin terasa. Selain itu, momen kebersamaan dan kepedulian dengan keluarga dan saudara sesama muslim yang lainnya lebih sering dilakukan dengan adanya sholat Tarawih, jadwal takjil, dan tadarus yang dilakukan baik di masjid maupun musholla di sekitar rumah. Semua itu semata-mata untuk meningkatkan kualitas ibadah kita karena ALLAH.

Bagi saya, diantara sekian kegiatan ibadah yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan, yang paling saya rindukan yaitu ketika harus merencanakan menu dan memasak untuk persiapan makan sahur dan berbuka bagi keluarga. Begitu pula dengan kegiatan Ramadhan tahun ini. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Khususnya saat menyajikan menu makan sahur. Dalam keadaan yang mungkin mata masih terasa berat, kita harus memasak lebih pagi dari biasanya. Selain itu, karena waktunya juga masih terlalu pagi, biasanya orang kurang berselera untuk makan. Oleh karena itu, kita harus bisa memilih menu makanan yang sesuai dan bisa membangkitkan gairah makan. Bukan berarti harus menu yang mahal.

Tantangan yang lain ketika proses memasak. Kita harus bisa mengatur dan memilih menu makanan yang praktis dan tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama untuk mengolahnya. Apalagi sebagai perempuan, kita mungkin memiliki pekerjaan di luar rumah. Membagi waktu yang seimbang antara tugas kerja dan tugas rumah tangga harus dilakukan. Pernah suatu ketika, saya bangun agak kesiangan dan sudah mendekati waktu imsak. Bisa dibayangkan bagaimana gusarnya. Kalau digambarkan mungkin seperti sedang mengikuti tantangan kuliner dengan waktu yang dibatasi hanya beberapa menit saja. Semau kompor dinyalakan, satu untuk merebus air minum dan yang lain untuk membuat mie rebus. Belum lagi harus memotong sayur dan sosis atau pentol bakso sebagai pelengkapnya serta menggoreng telur dadar. Mata yang semula masih terasa berat berubah menjadi terang-benderang. Tegang dan ributnya seperti induk ayam yang sedang bertelur. Inilah yang membuat suasana menjadi spesial dan bahan bercanda akibat bangun kesiangan. 

Selama Ramadhan, saya selalu berpikir tentang menu makanan yang bisa disajikan pada saat makan sahur dan berbuka agar anak-anak saya senang. Menu tidak harus dibuat dari bahan-bahan yang mahal, namun variasi dan nilai gizi menjadi pertimbangan tersendiri buat saya. Mengingat mereka sedang melakukan puasa. Saya merasa bersyukur karena anak-anak tidak pernah rewel meminta membeli makanan dari luar. Selain menghemat biaya, masakan buatan sendiri lebih higienis dan aman. Memasak juga menjadi hiburan tersendiri buat saya untuk mengusir kejenuhan di depan laptop dan melakukan tugas kerja yang lain. 

Bulan yang lalu, saya melihat status WhatsApp teman yang menawarkan sebuah buku masakan. Sebenarnya saya bisa saja mencari berbagai resep masakan dari media sosial. Namun, melihat penampilan dan isi buku yang lengkap dan menarik serta hadiah yang ditawarkan berupa 1 set sendok takar, pembatas buku resep, dan goodie bag yang cantik, tentu saja membuat saya semakin jatuh hati untuk memilikinya. Kebetulan, salah satu hobi saya mengoleksi buku. Pernah suatu ketika, almarhumah ibu saya menegur gara-gara kebiasaan saya membeli buku resep (masakan) tetapi jarang mempraktekkannya. Mungkin karena saya lebih tertarik pada isinya tetapi tidak tertarik untuk mempraktekkan. Namun itu dulu. 

Kabar baiknya, buku yang saya pesan tersebut baru datang kemarin. Momen yang tepat tentunya. Dengan membaca buku resep tadi, saya bisa membuat variasi menu masakan untuk disajikan di bulan Ramadhan ini. Perlu diketahui juga, terkadang buku resep makanan yang harganya mahal belum tentu hasilnya memuaskan jika dipraktekkan. Saya memiliki buku cara membuat kue kering. Keduanya sama-sama membahas tentang resep cheesestick. Hasilnya, resep yang dihasilkan dari buku yang murah lebih terasa nikmat. Kenapa ? Karena resep yang saya dapatkan dari buku yang mahal menggunakan bahan (asing) sehingga rasanyapun menjadi asing di lidah saya. Tapi mungkin ini yang disebut dengan seni memasak.

Berpuasa juga tidak menghalangi kita untuk melakukan kegiatan yang bersifat kreatif sebagai ibu rumah tangga. Dua hari yang lalu, saya diberi pisang Cavendish yang masih mengkal. Penasaran dengan tetangga yang sering membuat kripik pisang tadi maka saya mencoba membuatnya. Saya berpikir bagaimana cara memotong pisang tersebut karena saya tidak memiliki alat potongnya. Akhirnya saya menggunakan peeler atau pengupas kulit buah yang saya punya. Hasilnya cukup lumayan. Hasil serutan daging pisang tipis dan rata sehingga proses menggorengnya juga menjadi cepat. Namun kita harus sedikit telaten agar bentuk kripiknya bagus dan rata. Lebih baik menggunakan sarung tangan plastik untuk menghindari getah pisang. Ketika waktunya berbuka, saya menyajikan kripik pisang itu. Saya buat 2 pilihan rasa, yang satu original dan yang lain saya beri bubuk barbeque. Kripik pisangnya ludes saat itu juga.

Sebagai perempuan, mungkin kita memiliki karir yang bagus di luar rumah. Akan tetapi, menerima pujian dari anggota keluarga dengan mengatakan,"Masakan mama yang terhebat," itu merupakan prestasi sebagai ibu rumah tangga yang luar biasa. Untuk itu, marilah kita menjadikan momen Ramadhan yang spesial ini sebagai ladang ibadah agar hidup kita semakin berkah. Jangan lupa, berikan hidangan yang terbaik bagi keluarga, tetangga, dan kerabat kita. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x