Mohon tunggu...
Hendriko Handana
Hendriko Handana Mohon Tunggu... Orang biasa, menulis suka-suka

Pria berdarah Minang. Seorang family man humble. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga lari. "Tajamkan mata batin dengan mengasah goresan pena"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

"Forgive For Good" dan "Dream"

29 Juni 2020   02:02 Diperbarui: 29 Juni 2020   02:17 1 0 0 Mohon Tunggu...

"Sarwidi kecil yang masih kelas 1 SD di kawasan Kaliurang, tiba-tiba pulang ke rumahnya dan mengambil semua buku pelajaran. Buku-buku itu berlabel namanya. Lantas, ia nekat menambahkan tulisan titel-titel di antara namanya: Prof. Dr. Ir. Sarwidi, M.Sc. Itu Sarwidi, seorang siswa kelas 1 SD."

"Hadri Kusuma, seorang remaja SMA kelas 2, bergegas naik ke atas sofa di dalam rumahnya lantas berteriak keras dan lantang, "Saya harus jadi Profesor! Saya harus jadi Profesor!". Sampai orang tuanya heran. Namun ia kekeuh terus berteriak.

Kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar Alumi (KBA) Menwa UII ini memang berlangsung sudah lewat 2 minggu yang lalu. Ibarat nasi ditaruh beberapa lama, memang sudah dingin. Namun jika nasi disimpan di sebuah magic jar, hangatnya tentu bertahan lama. Ini yang terjadi dengan Halal Bihalal daring yang bertajuk "Silaturrahmi Hangat, Perekat Semangat" ini.

Beragam inspirasi diketengahkan oleh pembicara Ustadz Drs. Imam Mujiono, M.Ag. Selain sebagai seorang dosen dan motivator hebat, beliau adalah mantan aktivis mahasiswa UII pada zamannya. Selain merekatkan silaturahmi, Halal Bihalal ini memberi semangat positif bagi para peserta. Kami mencoba merangkum pemaparan beliau.

KEKUATAN MEMAAFKAN
Momen halal bihalal ini adalah kesempatan yang baik untuk mengeliminasi dosa antar manusia. Kenapa? Karena dosa dan kesalahan dengan sesama manusia tidak bisa diselesaikan dengan taubat, namun harus dengan cara saling memaafkan.

Memang tidak ada perintah untuk meminta maaf dalam Al Quran, yang ada hanya perintah memberik maaf. Akan tetapi, tidak berarti meminta maaf boleh. Justru Rasulullah sangat menganjurkannya melalui hadits-hadits.

Fred Luskin, seorang Direktur Lembaga Forgive - lembaga kepunyaan Stanford University - menulis dalam bukunya "Forgive For Good" bahwa kebiasaan memaafkan itu mempunyai manfaat bagus dalam tiga hal:
1. Bagus untuk pikiran
2. Bagus untuk hati
3. Bagus untuk fisikal

Mari kita simak, bagaimana bisa kebiasaan memaafkan orang lain justru bagus untuk kita diri sendiri?

Pertama, bagus untuk pikiran. Orang yang suka memaafkan mempunyai pikiran jernih dan positif. Pikiran jernih ini akan memunculkan gaya hidup yang positif seperti gemar melakukan hal yang terbaik untuk semua orang, berpikiran terbuka (misalkan terbuka untuk dikritik), dan senantiasa ikhlas dalam mengerjakan apapun.

Kedua, bagus untuk hati. Kebiasaan memaafkan akan mendatangkan kebahagiaan, optimisme dalam kehidupan, percaya diri, dan suka bersinergi. Nah, perusahaan besar di Amerika bahkan memasukkan poin-poin tersebut sebagai bagian syarat dalam perekrutan karyawan: percaya diri, sinergi, intergritas, dan cerdas.

Ketiga, bagus untuk fisikal. Orang-orang yang suka memaafkan cenderung lebih sehat tubuhnya daripada mereka yang pendendam. Biasanya orang pemaaf lebih banyak bergerak karena mereka mempunyai passion/semangat yang di dorong hari hal positif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x