Mohon tunggu...
Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Certified Filmmaker and Script Writer.

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Rencana Kontinjensi

13 September 2022   11:45 Diperbarui: 13 September 2022   12:08 86 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

Dalam sebulan ini saya mendengar kata dalam judul ini beberapa kali atau mengalami situasi dimana kata-kata itu harus diperdengarkan. Pertama di film Mencuri Raden Saleh, kata-kata itu disebut sampai tiga kali. Kedua pas kejadian listrik stadion Dimurtala padam di pertandingan pembuka Persiraja.

Saya pertama dengar kata itu saat Jokowi marah kala listrik Jawa dan Bali padam. "Saya mempertanyakan rencana kontinjensi PLN soal ini," kata Jokowi saat melakukan sidak ke PLN.

Rencana kontinjensi adalah rencana terhadap sesuatu yang dalam keadaan normal tidak akan terjadi, namun dalan kondisi tak normal mungkin akan terjadi.

Saat kejadian di stadion Lampineung itu dan teman-teman mulai menggunjinginya di forum semeja warkop, saya nyeletuk, kalo penyelenggaranya profesional (certified), itu kemungkinan kecil terjadi. Mereka pasti menyiapkan rencana kontijensi dalam penyelenggaraan kegiatan itu. 

Memang namanya manusia, yang sudah profesional pun nggak akan luput dari kekurangan, tapi setidaknya hal vital beresiko fatal sudah terantisipasi. Dan masalah penerangan di pertandingan malam hari adalah perkara paling krusial dalam acara yang harus dipikirkan sedari awal.

 Lalu saya melanjutkan pembahasan tentang paradigma yang kerap terjadi, tentang tabiat orang kita yang ogah mempercayakan sesuatu kepada yang ahli dan terbiasa soal itu. Alasannya; mahal. 

Dan biasanya, rencana kontinjensi abai diterapkan. Dua kalimat "lebih milih yang hemat biaya" dan "tidak menganggarkan sesuatu yang sudah pasti tidak terjadi dalam kondisi normal" adalah dua kalimat yang niscaya selalu bersanding. Makanya ketika mendengar penerangan padam karena genset mati, saya ketawa-ketawa aja.

Ngomong-ngomong soal genset. Saya susah percaya pada genset. Genset itu benda rentan dan suka bikin ulah. Ketika krisis listrik pada 2001-2003, dimana genset adalah anak mudanya di Aceh, saya merasakan benar pengalaman dikerjain oleh benda mati ini berkali-kali. 

Ini sangat mengganggu harga diri saya sebagai orang bernyawa. Karena itu, ketika beberapa tahun kemudian saya dipercaya mengelola sebuah media elektronik yang sangat bergantung pada sistem kelistrikan, saat saya hendak membeli dan melihat benda ini di toko genset Jaya Abadi, saya ngomong ke benda itu, "saya akan beli ko dua bijik." 

Bila satu ngadat, ada satu lagi. Sampe begitunya. Dan keputusan saya waktu itu ternyata tepat dan kelak sangat membantu operasional dan membantu menyelamatkan muka saya dari rasa malu saat ngundang klien penting untuk talkshow.

Sekarang hal itu masih suka kebawa juga. Saya masih suka beli barang yang saya sudah punya dan cenderung nggak dibutuhkan. Kalo ditanya buat apa, "buat cadangan," jawab saya. Makanya, hampir semua alat kerja saya ada cadangannya. Pernah suatu kali, jaman masih ngambil job video wedding, lagi nerbangin drone untuk sebuah wedding pejabat di pantai Lhoknga, drone nabrak pohon dan jatuh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan