Mohon tunggu...
Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal Mohon Tunggu... Videografer, Documentary Maker, Traveler.

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Ketinggalan Pesawat yang Mengubah Arah Hidup

3 Juli 2020   22:19 Diperbarui: 6 Juli 2020   22:12 115 8 1 Mohon Tunggu...

Tulisan ini bukan tulisan biasa. Karena, sifat introvert saya tidak membuat saya mudah menceritakan kisah hidup kepada orang lain, khususnya kisah-kisah pahit di masa lalu. Memang, pada akhirnya, saya dapat lebih terbuka karena setelah saya perhatikan kisah orang lain juga bisa gak kalah pahit dari kisah hidup sendiri. Hehe. 

Setelah hampir 40 tahun hidup, saya baru tersadar ternyata arah hidup saya berubah dari kejadian sederhana, yaitu ketinggalan pesawat. Lucu kan? Saya tidak menyadarinya setelah itu terjadi 21 tahun yang lalu.

Baru kemarin, saya mencoba mengingat-ngingat, apa titik tolak saya sehingga dapat merubah arah hidup dari pemuda lajang tidak kuliah menjadi lebih baik. Maka kemudian saya ingat kejadian ketinggalan pesawat itu dan menyadari bahwa dari sinilah awal mula segala perubahan hidup. Di atas kertas, bila bukan karena kejadian itu yang membuat saya merubah arah langkah, mungkin saya akan berada dalam posisi hidup yang tidak lebih baik dari saat ini. Saya hanya berani bilang diatas kertas, karena pada akhirnya, takdir seseorang siapa tahu. Bisa saja tiba-tiba malah menjadi lebih baik.

Sebelum saya cerita soal ketinggalan pesawat yang mengubah arah hidup, saya harus cerita sedikit sebuah masa yang lampau --ketika saya berumur 14 tahun-- karena hal itu berkaitan. Ketika umur saya 14 tahun, kedua orang tua saya berpisah.

Ayah saya, adalah pegawai rendahan, dan kami tahu pasti isi kantongnya. Pada saat ia berkeluarga saja yang saya rasakan tidak berkecukupan, konon lagi ketika ayah menikah lagi dan punya 2 anak lain dari pernikahan berikutnya. Maka, boleh dikata nyaris ia tidak pernah memenuhi kebutuhan saya dan keluarga setelahnya.

Ibu sayalah jadi single parent dan membiayai sekolah anak-anaknya. Saya tidak usah cerita panjang lebar masa pahit ini.

Ketika saya tamat SMA, ketika mendengar saya dan teman-teman kasak-kusuk mau kuliah dimana, ibu saya suatu saat ngomong, "Saya tidak akan bisa membiayai kuliahmu." Tapi, karena teman-teman semangat, saya juga iseng uji kemampuan, selain pula berharap bisa datang "bala bantuan", saya ikut juga tes penerimaan mahasiswa di Unsyiah (Universitas negeri di Banda Aceh).

Saya lulus di Ekonomi Manajemen. Saya ikuti alur pendaftarannya hingga tes kesehatan, kali aja ada rejeki mendadak yang membuat saya bisa kuliah. Hingga pada titik saya harus melunasi uang masuk/pendaftaran, yaitu --waktu itu 1998-- 350-an ribu, uang itu tidak ada. Nilai segitu lumayan besar bagi saya pada masa itu. Mungkin sekitar 1,5 juta pada saat ini.

Saya rasa ibu saya bisa saja mencarikan uang segitu, tapi mungkin bukan itu masalahnya, masalahnya adalah tagihan-tagihan berikutnya. Jadi mungkin ibu berpikir, daripada berhenti kemudian, ya sama saja. Lebih baik sekalian tidak usah memulai.

Sehari sebelum tenggat pembayaran, saya merenung. Gimana ya bisa dapat uangnya. Teman-teman di radio -waktu itu saya bekerja di stasiun radio-- juga tidak bisa membantu. Ya sudah akhirnya saya pasrahkan saja. Saya merelakan status mahasiswa saya pergi. Sedih, ya jelas. Teman-teman semua kuliah. Kalau nongkrong, semua cerita2 soal kampus. Saya cuma jadi pendengar yang baik.

Saya pun menjalani hari-hari seperti biasa. Sejak 1996 masuk ke dunia radio, saya jalani itu. Uang sebagai penyiar radio waktu itu nyaris tidak ada. Gajinya --kalo kata teman saya-- cuma cukup buat 2 mangkok bakso, terus habis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN