Mohon tunggu...
Hen AjoLeda
Hen AjoLeda Mohon Tunggu... Buruh - pengajar dan pegiat literasi, sekaligus seorang buruh tani separuh hati

menulis dan bercerita tentang segala hal

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Sudah Jatuh dalam Kemiskinan, Tertimpa Stunting Pula

15 April 2024   23:38 Diperbarui: 17 April 2024   17:45 594
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Memeriksa balita di Posyandu. (Sumber: Shutterstock via kompas.com)

Stunting masih menjadi masalah yang serius, karena berkaitan dengan soal mutu sumber daya manusia, kesehatan, kesejahteran dan keberlanjutan hidup masa depan generasi Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan setidaknya telah melakukan intervensi spesifik melalui 2 cara utama yakni intervensi gizi pada ibu sebelum dan saat hamil, serta intervensi pada anak usia 6 sampai 2 tahun.

Upaya ini dilakukan untuk mengejar angka prevelansi stanting yang dipatok Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada 2024, yaitu masing-masing di bawah 20% dan 14% ( https://stunting.go.id, Agustus 2023).

Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk mendukung Program Percepatan Pencegahan Stunting. Dalam lima tahun terakhir, anggaran kesehatan terus mengalami kenaikan. 

Angkanya dari sebesar Rp119,9 triliun pada tahun 2020, menjadi Rp124,4 triliun pada tahun 2021, menjadi Rp134,8 triliun pada tahun 2022, menjadi Rp172,5 triliun pada tahun 2023 dan sebesar Rp186,4 triliun pada tahun 2024 ( https://stunting.go.id, Agustus 2023).

Namun demikian, meskipun pemerintah telah melakukan upaya untuk mencegahnya, prevalensi stunting masih cukup tinggi, mencapai sekitar 21,6% (Kementerian Kesehatan RI). 

Hal ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan besar dalam menangani masalah stanting, terutama karena dampaknya yang luas terhadap kesehatan dan kesehatan anak.

Stunting ditandai dengan pertumbuhan fisik yang terhambat pada anak, memiliki dampak jangka panjang terhadap peningkatan risiko cacat hingga penurunan kognitif dan performa. Bahkan, risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan kanker pada masa dewasa juga terkait dengan stunting pada masa anak-anak.

Anak dengan stunting berisiko mengalami penurunan IQ, memengaruhi prestasi akademis, dan mengurangi peluang pendidikan, pekerjaan, serta pendapatan. Stunting juga terkait dengan risiko infeksi, perkembangan psikomotor terhambat, dan keterlambatan perkembangan anak.

Faktor-faktor yang menyebabkan stunting sangat kompleks. Selain gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil dan balita, lingkungan tempat anak dibesarkan juga memainkan peran penting. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun