Arahayu
Arahayu

Hi! Saya Aristya. Masih belajar menulis sejak tahun 2010 hingga sekarang. Sangat tertarik dengan isu lingkungan, kesetaraan gender, dan pariwisata. Oh iya, silahkan berkunjung ke "rumah" saya yang lain disini: http://hellohayu.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Filistay, Menyulap Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Homestay

9 November 2018   11:38 Diperbarui: 10 November 2018   01:13 864 14 10
Filistay, Menyulap Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Homestay
Gubuk Filistay (dok. pribadi)

Mata saya berlarian ke kanan dan kiri berusaha mencari sebuah bangunan. Pagi itu, saya ditemani oleh Mas Anton, driver online asli Jogja yang juga asing dengan kawasan yang berada tujuh kilometer ke arah selatan dari pusat kota Jogja ini. "Mbaknya sudah ingat (daerah ini)?" tanya mas Anton. Saya menggeleng. 

Hari menjelang tengah malam ketika saya berkunjung ke bangunan tersebut enam bulan yang lalu, untuk pertama kalinya. Lima menit dari gapura merah bertuliskan "Desa Wisata Kasongan", kami seharusnya sudah tiba di lokasi. Namun nyatanya hingga sepuluh menit, kami masih menyusuri gang kecil di Dusun Gesik ini. 

"Di sana, Mas!" saya mendadak menepuk pundak Mas Anton begitu melihat sebuah bangunan bak kastil yang berdinding batu. Tepat di depan bangunan inilah homestay yang saya cari sedari tadi.

Saya berdiri di depan sebuah "gubuk" yang tiangnya terbuat dari bambu dan dikelilingi oleh pipa hidroponik. Di atasnya digantung sebuah papan hijau bertuliskan "Filistay Filitour" dengan tinta merah.

Gubuk ini tampak asri dengan pohon Bambu dan Kersen di sampingnya. Ada sepeda dan empat sepeda motor yang terparkir saat saya melangkah menuju halaman. Berjalan agak ke dalam, saya disambut oleh Mbak Dewi dan patung budha yang tersenyum hangat di depan pintu rumah.

Mbak Dewi dan Mas Josh, pemilik homestay (dok. pribadi)
Mbak Dewi dan Mas Josh, pemilik homestay (dok. pribadi)
This is Their Journey Begin
Mbak Dewi, pemilik Filistay, mengajak saya berbelok ke sisi kanan pintu rumahnya. Ia membuka pintu kayu mungil berpagar bambu. Saya baru sadar bahwa pintu tadi menjadi pembatas antara rumah dan homestay-nya. Di balik pintu, detail sederhana dari ruangan terbuka itu memukau saya.

Kami duduk di "gubuk" yang saya lihat dari luar tadi. Desain ruangan ini masih sama seperti enam bulan lalu. Ada dua bathtub bekas di sana. Mereka menyulapnya menjadi kursi yang sedang saya duduki dan satu lagi disulap menjadi meja sekaligus berfungsi sebagai akuarium. Sungguh lucu sekali perabotan ini!

Gerbang menuju homestay (dok. pribadi)
Gerbang menuju homestay (dok. pribadi)
Meja dan kursi dari bathtub bekas (dok. pribadi)
Meja dan kursi dari bathtub bekas (dok. pribadi)
"Ini dulu tempat orang buang sampah, loh", ujar Mbak Dewi. Tahun 2012 lalu, ketika Mbak Dewi dan Mas Josh, suaminya, pindah ke area ini, mereka bertetangga dengan lahan kosong yang dijadikan tempat pembuangan sampah .

Di sisi lain, kerap kali mereka menemui tetangganya yang membuang sampahnya ke sungai. Siapa yang tidak miris melihat hal tersebut?

Berbekal pengalaman hidup minim sampah yang dilakukan sejak 2008, Mas Josh dan Mbak Dewi pun mulai mendirikan bank sampah di sini. Tujuannya hanya satu: agar tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai. Para ibu PKK pun menjadi target utama dari inisiatif Mbak Dewi.

"Dulu saya datang sendiri ke pengepul, mencatat harga sampah, lalu menginformasikannya ke ibu-ibu PKK. Dengan dalih sampah bisa menjadi duit, ibu-ibu di sini mulai rajin memilah sampah untuk dijual ke pengepul", lanjut Mbak Dewi.

Selang dua tahun kemudian, idealisme untuk hidup bijak mengelola sampah mereka terapkan pada Filistay. Tahun 2014 akhir, homestay dengan konsep yang ramah lingkungan ini pun dibangun.

Jika berkunjung ke sini, kamu akan langsung menilai bahwa homestay ini memang berkonsep ramah lingkungan. Mulai dari bahan bangunan hingga interior kamar dipilih dari barang bekas atau barang yang mudah terurai.

Mbak Dewi menemani saya menyusuri jalan setapak menuju salah satu kamar. Kamar berdinding anyaman bambu ini memiliki 2 kasur yang menghadap keluar dan kamar mandi yang sederhana namun tetap memenuhi standar homestay: ada toilet duduk, pancuran air, dan bersih.

Tapi, yang paling saya sukai adalah wastafel dari ban bekas yang ada di sudut kamar. Ah, tipikal kamar yang unik!

Salah satu kamar di Filistay dan wastafel unik di sudutnya (dok. pribadi)
Salah satu kamar di Filistay dan wastafel unik di sudutnya (dok. pribadi)
Saya beranjak ke dapur dan bertemu Kaca, seorang berkewarganegaraan Ceko yang sedang menginap di sana. Kaca adalah satu dari tiga wisatawan asing yang menginap di sini. Dibanding wisatawan lokal, tamu di Filistay lebih banyak wisatawan mancanegara.

More Tourists Equals More Waste
Jogjakarta memang menjadi salah satu tujuan wisata terpopuler setelah Bali. Tercatat sebanyak 4,7 juta wisatawan lokal dan 397 wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jogja di tahun 2017, menurut Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Sebagai penyumbang devisa tertinggi, industri pariwisata juga dikenal sebagai penyumbang masalah lingkungan terbesar.

"Krisis air, warga di sekitar Malioboro berdampak kekeringan" dalam sebuah headline contohnya. Kawasan Malioboro ini memang kawasan wisata terpadat di Jogja. Tak salah jika banyak besi-besi beton yang berdiri di atasnya untuk ditempati wisatawan.

Saya jadi ingat Pak Nana Mulyana, Dosen Hidrologi dan Pengelolaan DAS IPB di kelas Danone Blogger Academy, 29 September lalu. Beliau menerangkan bahwa pembangunan sebuah hotel pasti memerlukan air dalam jumlah besar. Kebutuhan tersebut dipasok dari air tanah yang komponennya hanya berjumlah 0.64% di bumi ini. Tidak heran jika hal ini bisa berdampak pada kekeringan di sekitarnya.  

Bapak Nana Mulyana di Akademi Menulis DBA (dok. pribadi)
Bapak Nana Mulyana di Akademi Menulis DBA (dok. pribadi)
Tak hanya permasalahan air, begitupun sampah. Sampah makanan hingga sampah plastik masih berada di posisi teratas dalam jenis sampah pariwisata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2