Mohon tunggu...
Helen Adelina
Helen Adelina Mohon Tunggu... Passionate Learner

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value - Einstein

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Serba-serbi WAG dan Cinta Lama Belum Kelar

11 April 2021   17:10 Diperbarui: 11 April 2021   17:25 92 4 0 Mohon Tunggu...

Sejak munculnya Whatsapp Messenger sebagai aplikasi pesan untuk ponsel cerdas, orang-orang beramai-ramai menggunakan aplikasi ini. WA besutan Brian Acton dan Jan Kou ini adalah salah satu aplikasi yang termasuk user friendly dan ramah dikantong. 

Kalau dulu orang-orang mengirim pesan melalui Short Message Service (SMS) melalui jaringan operator komunikasi harus membayar sekitar Rp.200/SMS, dengan WA cukup hanya menggunakan paket internet. Selain itu, WA juga dapat mengirim foto, video, dan file. Dengan WA, para pengguna juga dapat melakukan video call. Inilah keunggulan aplikasi WA.

Selain untuk komunikasi secara perorangan, WA juga dapat digunakan untuk grup sekelompok orang. Sekarang ini, hampir semua orang bergabung dalam grup WA atau yang dikenal dengan sebutan WAG. Dari WAG keluarga inti, keluarga besar, alumni sekolah, karyawan satu departemen, satu divisi atau satu direktorat, grup hobi, grup orang tua siswa, dan grup lainnya. 

Tidak jarang ada grup di dalam grup. Biasanya ini terjadi karena ada rasa sungkan untuk mengeluarkan pendapat pribadi yang mungkin kurang nyaman diutarakan ke grup besar WA. Cukup hanya dengan teman-teman dekat yang juga anggota grup besar.

Ada banyak drama yang terjadi dalam WAG. Mulai yang salah kamar posting dan terpaksa dihapus lagi. Atau admin berselisih pendapat dengan salah satu anggota. Dua-duanya sama-sama ngotot, tidak ada yang mau mengalah. 

Berhubung admin merasa dia memiliki kuasa lebih dibandingkan anggota WAG biasa, penyalahgunaan kuasa pun terjadi. Si “musuh” pun ditendang keluar dari WAG. Ada lagi yang bertindak sebagai drama queen, mengancam akan keluar dari WAG. Eh, dilalah dia punya 2 nomor ponsel yang masuk dalam WAG. Jadi dia masih bisa stalking teman-teman di dalam grup dengan menggunakan nomor ponsel lainnya.

Dan mungkin drama yang paling fenomenal adalah saat pemilu atau pilkada, dimana masing-masing punya jagoan. Segala berita atau rumor tidak jelas berseliweran di WAG, hanya untuk membela jagoan masing-masing dan menjatuhkan pihak lawan. 

Akibatnya, banyak yang memilih keluar dari grup karena merasa tidak nyaman. Terutama bagi orang-orang yang memilih untuk menjadi golput. Lebih repot lagi kalau masalah pemilu dan pilkada dibahas di WAG keluarga. Sesama saudara kandung atau orangtua dengan anak bisa ribut karena beda pilihan. Dan akhirnya ada yang memutuskan untuk keluar. WAG yang semula ditujukan untuk media bersilatuhrahmi, telah berubah menjadi "kancah perang".

WAG keluarga juga memiliki persoalan tersendiri. Persaingan antar saudara kandung atau ikut campurnya ipar dalam urusan keluarga biasanya jadi pemicu masalah di WAG. 

Misalnya ibu dekat dengan si bungsu dan membelikan motor tanpa memberitahu kakak-kakaknya yang tinggal di luar kota. Lalu si bungsu posting motor terbaru di WAG. Kakak kakak-nya pun iri dan merasa ibu tidak adil. Selama ini mereka toh naik angkutan umum waktu sekolah dulu. Dan saat mereka membutuhkan uang dan meminta pinjaman ke si ibu, ibu tidak mau membantu. Akhirnya ada anak yang merasa sakit hati dan keluar dari grup. 

Belum lagi ipar yang mendominasi saudara kandung. Apa-apa mesti atas persetujuan ipar. Akhirnya muncul keributan yang tak bisa dihindari antara saudara kandung dan kakak ipar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN