Mohon tunggu...
Hauraa Dhiyaaulhaqq
Hauraa Dhiyaaulhaqq Mohon Tunggu... Mahasiswa Psikologi di Bandung

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk, semoga bermanfaat!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Quarter Life Crisis dalam Perspektif Psikologi Islam

21 April 2021   19:24 Diperbarui: 21 April 2021   19:31 101 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Quarter Life Crisis dalam Perspektif Psikologi Islam
Dokumentasi pribadi.

Dalam pandangan Islam terdapat istilah "Rijal atau Ummahat". Rijal merupakan tahapan puncak kehidupan manusia dimana segala amal perbuatannya diperhitungkan, serta sifat utamanya ditentukan oleh derajat iman dan ibadahnya. Tahapan puncak ini ditandai dengan "Aqil Baligh" yang dimulai pada usia 12-13 tahun sampai dengan Syahsyun (sebelum masa tua). Perempuan yang telah mengalami aqil baligh ditandai dengan Menstruasi, sedangkan laki-laki ditandai dengan Mimpi Basah. Beberapa aktivitas  yang umumnya dilakukan individu pada tahapan ini adalah sekolah, kuliah, kerja, dan bekeluarga. Pada rentang ini, terdapat suatu kondisi psikologis yang dikenal dengan Quarter Life Crisis.

Fischer (2008: 171) memaparkan bahwa Quarter Life Crisis merupakan periode krisis di awal hinggga pertengahan usia dua puluh tahun yang disebabkan oleh tekanan mengenai kelanjutan hiduoan di masa deoan meliputi permasalahan karier, relasi dan kehidupan sosial. Quarter Life Crisis merupakan periode pergolakan emosional dan perasaan insecure setelah perubahan besar dari masa remaja menuju masa dewasa, biasanya dimulai pada usia 21-28 tahun (Robbins & Wilner, 2001; Blake, 2008; Murphy, 2011:12). Periode Quarter Life Crisis ini sangat umum dialami oleh individu yang berada pada masa peralihan dari tahap perkembangan Emerging Adulthood (Robinson O.C., 2018: 5). Menurut Arnett (dalam Santrock, 2011) Emerging Adulthood adalah masa transisi dari remaja ke dewasa yang terjadi dari usia 18 sampai 25 tahun. Masa Emerging Adulthood ditandai oleh eksperimen dan eksplorasi, banyak individu masih mengeksplorasi jalur karier yang ingin mereka ambil. 

Dalam ajaran agama Islam, seorang muslim berkewajiban untuk menimbang dan memperhitungkan segala segi sebelum ia melangkahkan kaki. Dalam Al-Qur’an surat al-Taubah ayat 50-51 Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: “Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: "Sesungguhnya Kami sebelumnya telah memperhatikan urusan Kami (tidak pergi perang)" dan mereka berpaling dengan rasa gembira. Katakanlah: "Sekalikali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. Secara tersirat dari ayat tersebut, peperangan tersebut menggambarkan ketakutan dan keraguan seseorang sebelum bertindak, bahkan ia mengharapkan hal tersebut tidak terjadi. Dengan pemaparan ayat selanjutnya bahwa seseorang harus menghaapi realita dengan keridaan takdir yang diberikan Allah. 

Menurut Sayyid Qutb ketakutan terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi ini didasarkan pada sikap seseorang yang hanya melihat fenomena lahiriah saja, tidak mencurahkan segenap kemampunya dan enggan untuk maju. Hal tersebut akan bergerak dari takut, menjadi masuk ke dalam kecemasan. Hanna Djumhana Bastaman menjelaskan bahwa kecemasan adalah ketakutan terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi. Perasaan cemas muncul apabila seseorang berada dalam keadaan diduga akan merugikan dan mengancam dirinya, serta merasa tidak mampu menghadapinya. Dengan demikian, rasa cemas sebenarnya suatu ketakutan yang diciptakan oleh diri sendiri, yang dapat ditandai dengan selalu merasa khawatir dan takut terhadap sesuatu yang belum terjadi (Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi Dengan Islam; Menuju Psikologi Islam., 156). 

Perspektif psikologi Islam mengatakan bahwa manusia memiliki Fitrah, Aql, Ruh, Qalb, dan Nafs. Fitrah berkaitan dengan: 

  1. Aqidah (7:172), yaitu dasar berkembangnya keyakinan akan adanya RAB dan tauhid Uluhiyyah. 
  2. Ibadah (51:56, 30:30), yaitu dasar berkembangnya dorongan untuk mengabdi, mentaati dan mematuhi.
  3. Muamalah ( 49:13) sebagai dasar berkembangnya kemampuan relasi sosial dan (3:14) sebagai dasar berkembangnya need/drive dan motive (nafs sebagai syahwat)

Ruh berkaitan dengan:

  1. Kesadaran akan eksistensi diri yg mendorong ke arah tercapainya kesempurnaan hidup (2:48 dan 123).
  2. Kesadaran intelektual (benar – salah).
  3. Kesadaran etik – moral (baik – buruk, jujur – hianat).
  4. Kesadaran aestetika – artistic ( indah-jelek, cantik-buruk)
  5. Kesadaran religious – transcendental (ibadah, penyerahan diri)

Aql berfungsi untuk:

  1. Memahami dan menggambarkan sesuatu (29:43).
  2. Mencegah fahisyah dan kezhaliman (conscience) (6:151).
  3. Mengambilpelajaran & kesimpulan (1:164; 3:190:191).
  4. Dasar berkembangnya Ilmu (2:31).

Qalb berfungsi untuk:

  1. Akal (22:46)
  2. Pemahaman (7:179)
  3. Merenungkan/dzikr (50:37)
  4. Perasaan (2:260, 40:35, 57:16)
  5. Emphati (57:27) 
  6. Rasa Takut (3:51; 8: 2, 12)
  7. Ketentraman hidup (8:10) 
  8. Konsep diri (49:7)
  9. Mengambil pelajaran dari satu kondisi atau situasi (50:37)

Nafs dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Nafs Al Amaroh, yaitu Nafs yang berpotensi untuk “ammaroh bis sui’” (12:53).
  2. Nafs Al Lawamah, yaitu Nafs yang berpotensi untuk melakukan introspeksi/ menegur diri (75:2).
  3. Nafs Al Muthmainnah, yaitu Nafs yang berpotensi untuk mengembalikan diri kpd Tuhan dengan ridha dan diridhai (89:27).
  4. Nafs Al Marhamah, yaitu Nafs yang berpotensi untuk saling mengingatkan dengan kesabaran dan kasih sayang (90:17).

Saat mengalami Quarter Life Crisis maka Fitrah, Aql, Ruh, Qalb, dan Nafs yang ada pada diri manusia terganggu. Maka dari itu, cara menghindari Quarter Life Crisis menurut perspektif Islam adalah:

  1. Kembali mengingat status dan kedudukan manusia.
  2. Kembalikan fungsi dari Fitrah, Qalb, Aql, Ruh dan Nafs.
  3. Berdo'a kepada Allah Ta'ala karena keberhasilan dapat diraih dengan do'a orang beriman.
  4. Tawakal dengan memperhatikan karakter dan kebiasaan kita, kita harus melakukan:
    1. Menerapkan keseimbangan disiplin yang tepat dengan dorongan dan pemberdayaan.
    2. Dengarkan khotbah lalu praktikkan apa yang kita dengarkan sebanyak mungkin dan jadikan pandangan dunia kita sebagai konsep holistik dalam hidup, dengan rasa identitas dan kepemilikan. Akui kesalahan kita dan minta maaf tanpa membuat alasan.
    3. Lengkapi hal di atas dengan iman dan doa. Allah Ta'ala menanggapi orang-orang yang tulus dan membantu mereka dengan caraNya sendiri dan pada waktuNya sendiri
  5. Cintai Al-Quran, berdzikir/mengingat Allah Ta'ala secara terus-menerus, bertaubat, serta belajar dari kepribadian dan adab Nabi Muhammad.

Sumber:
Webinar Nasional MENTALK "Quarter Life Crisis"
Mc: Fikar Aulia Muhammad
Moderator: Angga Januar Ramadhan, S.Psi.
Pemateri: Dinda Dwarawati, S.Psi. M.Psi.

VIDEO PILIHAN