Hastira Soekardi
Hastira Soekardi lainnya

Pengajar, Penulis, Blogger,Peduli denagn lingkungan hidup, Suka kerajinan tangan daur ulang

Selanjutnya

Tutup

Budaya Pilihan

Makan Bedulang ala Belitung

23 Mei 2018   02:49 Diperbarui: 23 Mei 2018   20:53 866 2 2
Makan Bedulang ala Belitung
Sumber gambar: dok pribadi

Waktu ke rumah adat Belitung di bagian kamar utama yang luas ada berbagai macam makanan yang disusun berjejer memanjang. Dan itu dikenal dengan cara makan bedulang

Makan bedulang adalah makan dengan cara bersama-sama. Kalau di Jawa Barat mungkin dikenal dengan nama botram atau bancakan. Makan bedulang makan di atas dulang.

Jadi makanan disajikan di atas dulang di mana sekitar 4 orang duduk di lantai berhadap-hadapan dan di tengahnya terdapat dulang. Dan ini tradisi orang Belitung.

Dulang itu seperti tulam yang berbibir pada tepinya serta terbuat dari kayu. Dalam tradisi ini disajikan makanan tradisional Beltung  dalam satu set perangkat makan bedulang. Tujuan makan bedulang ini untuk kebersamaan dan saling menghargai  antar anggota masarakat.

Sumber gambar: dok pribadi
Sumber gambar: dok pribadi
Cara menyajikannya dengan cara tujuh piring berisi makanan disajikan dalam nampan besar yang dikenal dengan dulang. Di dalamnya terdapat sayur ikan, ikan nila goreng, oseng-oseng, sate ikan mirip pepes, ayam ketumbar, sambal serai, dan lalapan. Dulang itu bentuknya bundar.

Dulu dulang terbuat dari kayu dan sekitar tahun 1950 digunakan dulang yang terbuat dari seng. Munculnya tradisi makan bedulang ini erat hubungannya dengan masuknya Islam ke tanah Belitung.

Proses makan bedulang ini melibatkan empat orang yang duduk berhadapan dengan duduk bersila dan menikmatinya dengan cara tertentu.

Makan bedulang ini bukan hanya upacara tradisi saja seperti kelahiran, sunatan atau pernikahan, juga sebagai sarana komunikasi antar anggota keluarga. Para sesepuh memberi nasihat, memberitahu etika dalam segala hal dalam acara makan bedulang ini.

Sajian dulang ini ditutup dengan yang namanya mentudong sejenis tutup saji. Dan yang harus membukanya adalah pria. Membuka tudung juga ada caranya, yakni pria harus mengambil posisi duduk dengan tumpuan lutut di lantai dan lutut bergeser mendekati tudung, lalu membukanya.

Sumber gambar : dok pribadi
Sumber gambar : dok pribadi
Seperangkat dulang terdiri dari lauk pauk khas Belitung yang ditaruh di piring-piring kecil. Nasi, buah-buahan dan makanan pencuci mulut disediakan terpisah. Dan di sisinya terdapat kobokan dan serbet  yang dilipat empat buat cuci tangan. Tamu yang datang dilayani oleh seorang yang dipanggil dengan Mak Panggong

Mak Panggong ini tugasnya banyak seperti menyiapkan makan bedulang dari memasak, menata bedulang, menuangkan minum, menyiapkan kue dan lain sebagainya. 

Mak Panggong juga dibantu dengan orang yang disebut dengan tukang rage, tukang perikse, tukang isi air, dan tukang angkat dulang. Bedulang ini disesuaikan dengan kemampuan dari tuan rumah yang mengadakan proses makan bedulang dan juga tergantung dengan wilayah tempat tinggal. Makanan di daerah pesisir dengan makanan di daerah pedalaman akan berbeda bahannya tapi dimasak dengan kahs Belitung.

Ternyata untuk makan bedulang saat semua sudah dihidangkan ada etikanya tersendiri. Tamu yang muda akan mengambilkan piring untuk tamu yang lebih tua. Baru kemudain mengambil lauk tapi tangan harus sudah bersih terlebih dahulu. 

Makanan yang sudah diambil harus dihabiskan agar tak mubasir. Dan yang masih ada di dulang tidak boleh dikotori agar bisa kembali dibawa ke dapur. Dan setelah itu dari yang tua mengambil lauknya terlebih dahulu. Dan tidak diijinkan untuk makan pakai sendok , tapi pakai tangan , makanya disediakan kobokan untuk mencuci tangan. Dan kobokannya hanya satu sehingga harus bergilir dari yang tua sampai yang muda. 

Duduknya juga harus bersila.Makan bedulang disebut juga dengan makan begawai. Makan begawai ini mempunyai arti makan di tempat yang punya hajatan. Dan makan bedulang ini semacam ucapan rasa syukur masarakat atas hasil bumi yang melimpah.