Mohon tunggu...
Harry Dethan
Harry Dethan Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi.

Menulis untuk berbagi. Email: harrydethan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saat Malam Tiba, Aku Selalu Bertengkar dengan Diriku

26 Oktober 2020   16:51 Diperbarui: 26 Oktober 2020   17:02 27 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Malam Tiba, Aku Selalu Bertengkar dengan Diriku
Ilustrasi: talkspace.com

Kehidupanku biasa saja dan terlihat normal seperti kebanyakan orang. Setiap kegiatan dan aktivitas di siang hari dapat ku jalani dengan baik, bahkan sangat luar biasa. Tapi saat malam tiba, aku akan menghadapi masa-masa yang cukup sulit.

Perkenalkan, aku adalah kamu yang membaca tulisan ini. Aku adalah kamu yang merasa bahwa malam adalah waktu yang sulit untuk dilalui. Mengapa? Karena saat malam tiba, hanya aku dan diriku lah yang masih tersisa. Interaksi kami berdua kadang berjalan baik. Namun, kebanyakan hanya pertengkaran yang aku dan diriku lewati di hampir setiap malam.

Katanya, waktu tidur yang cukup adalah 8 sampai 9 jam per hari. Dengan begitu, aku bisa memiliki tubuh dan mental yang lebih sehat. Aku juga rindu untuk melakukannya. Tapi sayang, diriku terlalu egois untuk menggunakan waktuku untuk kepentingannya yang kadang tidak terlalu penting.

Karena hal inilah kami berdua sering sekali bertengkar. Masih ku ingat di dalam benak ketika aku dan diriku masih berusia anak-anak. Kami berdua sangat akrab dan hanya memikirkan tentang bermain serta menikmati hari-hari kesenangan bersama orang-orang baik. Tapi saat ini, sesudah aku dan diriku beranjak dewasa, kami berdua nampak cukup berbeda dalam memandang kehidupan.

Aku lebih menginginkan kehidupan yang sederhana dan lurus. Sedangkan diriku berambisi merampas semua yang digenggam oleh dunia, meski ia tahu bahwa itu sulit untuk dicapai. Aku lebih cenderung menikmati apa yang sudah digenggam oleh tanganku. Sementara diriku terus merengek meminta apapun yang ia mau dari tangan orang lain atau yang ia lihat di dunia maya.

Di saat siang, aku dan diriku akan berusaha mengekang ego masing-masing demi menyelesaikan permintaan cakrawala. Kendati demikian, saat malam tiba, kami mulai mempertengkarkan segala sesuatu. Beberapa hal yang sering kami ributkan adalah masa depan, hubungan keluarga atau relasi lain, perasaan bersalah, keinginan untuk memiliki ini dan itu, serta cara mengangkat beban lainnya yang ada di pundak ku dan diriku.

Jika tak dilerai, maka aku dan diriku akan terus mempertengkarkan hal-hal yang sama setiap malam. Beruntungnya, aku dan diriku memiliki sosok Ayah yang selalu bijak dalam menghadapai keegoisan kami berdua. Ia selalu punya cara tersendiri untuk menenangkan rengekan aku dan diriku.

Perihal keinginan kami yang bertolak belakang, ia selalu memenuhinya dengan cara yang adil. Bahkan, pemberian-Nya selalu lebih baik dari apa yang aku dan diriku perebutkan setiap malam. Perihal beban yang kami pikul, Ia selalu peka dan membantu kami memikulnya. Tanpa diri-Nya, sudah pasti pertengkaran ku dan diriku akan berlanjut sampai pukul memukul, bahkan bisa lebih parah lagi.

Nasehat yang paling sering Ia berikan saat melerai keributan yang kami berdua timbulkan adalah: "Minta saja pada Ayah. Ayah tahu yang terbaik, lebih dari yang kamu dan dirimu tahu. Asalkan kamu dan dirimu taat, kalian akan mendapat yang terbaik. Jadi, ayo saling berdamai dan jangan bertengkar lagi, Okey!"

Kalimat itu sudah kami hafal di luar kepala. Tapi aku dan diriku memang anak nakal yang sering melanggar nasehat-Nya. Jika kami tak mematuhi-Nya, sudah pasti setiap malam akan menjadi waktu perkelahian kami. Sebaliknya, saat aku dan diriku taat, kami berdua bisa tidur bersama secara damai dan terlelap.

Semoga saja di malam-malam selanjutnya, aku dan diriku bisa lebih taat. Semoga saja di malam-malam selanjutnya, aku dan diriku bisa tidur lebih nyenyak.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x