Mohon tunggu...
Harrist Riansyah
Harrist Riansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa tingkat akhir yang menempuh pendidikan Ilmu Sejarah yang memiliki minat terhadap isu sosial, ekonomi, dan politik.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Selat Malaka Abad ke-15

7 September 2022   10:00 Diperbarui: 7 September 2022   10:08 221 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peta Siam, Malacca, Kepulauan Nusantara pada tahun 1683. Sumber:  Digital Colletions The New York Public Library

Selat Malaka seperti kebanyakan orang tau pada zaman sekarang ini merupakan salah satu jalur perdagangan yang penting bagi masyarakat dunia terkhususnya orang-orang di Asia karena ini merupakan rute tercepat yang bisa dilalui kapal yang berasal dari Barat (Eropa,Timur Tengah, dan Afrika) dan juga kapal-kapal dari Timur (Jepang, Cina, dan Korea). Namun pentingnya Selat Malaka sebagai jalur perdagangan ini tidak hanya terjadi pada masa modern. tercatat Selat Malaka sudah ramai akan aktivitas pelayaran dan perdagangan pada abad ke-15 yang pada saat itu kapal-kapal yang digunakan masih menggunakan layar dan harus menunggu angin yang tepat untuk bisa melanjutkan perjalanan yang diinginkan.  

Selat Malaka merupakan kawasan perdagangan penting bagi dunia Melayu pada abad ke-15 dibawah pengaruh Malaka. Tampilnya Malaka sebagai pusat perdagangan terkait erat dengan perlindungan politik China, karena kawasan ini menjadi jalur pelayaran dan perdagangan laut China. Tetapi, meskipun demikian, setelah tahun 1430-an Malaka tidak lagi bergantung pada China. Malaka itu sendiri lebih banyak berinteraksi dengan pedagang-pedagang Jawa dan Asia Tenggara lainnya.

Selat Malaka merupakan "titik akhir" bagi angin musim timur yang berhembus antara Januari-April sekaligus membawa arus perdagangan dari timur, dan angin musim barat yang berhembus antara Juli-November sambil membawa para pedagang dari barat. Saat para pedagang ini menunggu angin yang tepat untuk melanjutkan perjalanan mereka, membuat para komunitas yang menghuni sekitar dataran di Selat Malaka memanfaatkan kesempatan ini dengan mendirikan pelabuhan sehingga para pedagang yang tengah singgah ini bisa memperbaiki kapal mereka, mengisi kembali persediaan, mendapatkan komoditas lokal, dan bertukar barang dengan sesama pedagang yang berasal dari berbagai belahan dunia. Dan tidak hanya penduduk dekat pesisir, penduduk pedalaman Sumatera dan Semenanjung Malaya juga menghasilkan berbagai produk berharga, seperti kapur barus, benzoin, kayu gaharu, dan damar. Semua barang itu bernilai tinggi di pasar internasional khususnya Cina.

Pelabuhan-pelabuhan Melayu yang saling bersaing dalam perdagangan cenderung menerapkan peraturan yang sama. Malaka-Melayu mengenakan pajak 6 persen atas barang-barang impor yang berasal dari kapal-kapal yang datang dari negeri-negeri di atas angin, tetapi hanya 1 hingga 2 persen upah timbang atas barang-barang yang diekspor. Kapal-kapal Asia Tenggara dan Asia Timur dibebaskan dari pajak impor dan ekspor tetapi diharuskan menjual 25 persen dari barang-barang impor yang mereka bawa kepada raja seharga 20 persen di bawah harga pasar, sedangkan raja mengeluarkan barang*barang yang diekspor dengan harga 20 persen di atas harga pasar. Dengan demikian sistem ini, yang dikenal dengan nama beli-belian (saling membeli), sama dengan pajak 5 persen atas barang-barang yang diimpor dan diekspor.

Di kota Malaka sendiri dalam mengatur para pedagang yang datang dari berbagi penjuru dunia memiliki yang disebut xabamdare (Syahbandar) untuk berhubungan dengan kapten-kapten jung yang merapat di wilayah masing-masing. Syahbandar ini bertugas untuk melapor kepada bemdara (bendahara), membagi jatah gudang kepada para kapten, membuat laporan mengenai komoditas yang dibawa, apabila kapten kapal tersebut dilengkapi dengan surat-surat maka mereka akan disediakan penginapan. 

Di Malaka terdapat empat Syahbandar, yang terdiri dari Syahbandar Gujarat; Syahbandar untuk wilayah Bunuaqujlim (Narsinga), Bengal, Pegu, Pasai; Syahbandar untuk wilayah Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Tanjungpura (Tanjompura), dan Lucoes; dan Syahbandar untuk wilayah Cina, Lequeos, Chancheo, dan Champa. Tiap orang yang datang ke Malaka akan melapor kepada Syahbandar berdasarkan asal negeri masing-masing, termasuk ketika mereka datang dengan membawa barang dagangan ataupun pesan.

Menurut Anthony Reid dalam bukunya yang berjudul Asia Tenggara dalam kurun niaga, pada mulanya interaksi perdagangan di Selat Malaka dan dikeseluruhan daerah di Asia Tenggara berlangsung damai dan setiap wilayah saling melengkapi kebutuhan masing-masing. Namun itu berubah sejak bangsa Portugis datang pada tahun 1499. karena masuknya kapal-kapal Portugis ke Samudera Hindia. Mereka sebisa mungkin menenggelamkan atau merompak setiap kapal Islam yang mengangkut rempah-rempah. Dan dengan adanya ulah Portugis itu membuat pelaut Islam dan bandar-bandar di Samudera Hindia yang sudah sering mengirim barang-barang dari Asia Tenggara ke Eropa menjadi sangat rendah selama tiga dekade pertama abad ke-16.

Daftar Pustaka:

Andaya, L. Y. (2019). Selat Malaka, Sejarah Perdagangan dan Etnisitas. Depok: Komunitas Bambu.

Cortesao, A. (2018). Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues. (A. Perkasa, & A. Pramesti, Trans.) Yogyakarta: Penerbit Ombak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan