Harmen Batubara
Harmen Batubara purnawira

Suka diskusi tentang Pertahanan, Senang membaca dan menulis tentang kehidupan, saya memelihara blog wilayah perbatasan.com, wilayahpertahanan.com, bukuper batasan .com, harmenbatubara.com, bisnetreseller.com, affiliatebest tools.com; selama aktif saya banyak menghabiskan usia saya di wialayah perbatasan ; berikut buku-buku saya - Penetapan dan Penegasan Batas Negara; Wilayah Perbatasan Tertinggal&Di Terlantarkan; Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan; Mecintai Ujung Negeri Menjaga Kedaulatan Negara ; Strategi Sun Tzu Memanangkan Pilkada; 10 Langkah Efektif Memenangkan Pilkada Dengan Elegan; Papua Kemiskinan Pembiaran & Separatisme; Persiapan Tes Masuk Prajurit TNI; Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah; Cara Mudah Dapat Uang Dari Clickbank; Rahasia Sukses Penulis Preneur; 7 Cara menulis Yang Disukai Koran; Ketika Semua Jalan Tertutup; Catatan Blogger Seorang Prajurit Perbatasan-Ketika Tugu Batas Digeser; Membangun Halaman Depan Bangsa; Pertahanan Kedaulatan Di Perbatasan-Tapal Batas-Profil Batas Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan featured

KTT ASEAN, Memecahkan Masalah Bersama Secara Nyata di Kawasan

7 Mei 2011   02:46 Diperbarui: 14 November 2017   14:53 1424 4 2
KTT ASEAN, Memecahkan Masalah Bersama Secara Nyata di Kawasan
Foto: Kompas.com

Indonesia menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-18, 7-8 Mei 2011 ini. Berbagai persiapan telah dilakukan, baik secara teknis maupun substansi. Selama ini yang kita kenal KTT adalah salah satu ucara seremonial, kongkow-kongkow dan setelah itu selesai. Dapatkah Indonesia keluar dari stigma seperti itu? 

Mari kita lihat secara lebih dekat. Bagaimanapun sudah pasti, Indonesia tak ingin jadi tuan rumah yang bersifat seremonial dan rotasional, tetapi ingin memberi warna kuat bagi pengembangan ASEAN pada masa mendatang. Saat ini Indonesia yang jadi Leadnya, adakah makna yang signifikan bisa disumbangkan?

Dari tiga pilar Asean (politik dan keamanan, ekonomi dan sosial budaya), Indonesia telah mempersiapkan tiga agenda untuk member makna pada tiga pilar Asean tersebut. Pertama, memastikan dan mengonsolidasi pencapaian Komunitas ASEAN 2015. Kedua, memelihara kawasan yang aman dan stabil sehingga negara-negara di kawasan bisa melanjutkan pembangunan. Ketiga, menjadikan ASEAN berperan aktif dalam pemecahan masalah-masalah global, atau dalam istilah populernya memaknai komunitas ASEAN dalam komunitas GLOBAL.

Selama ini yang bisa kita lihat adalah pada target pencapaian akan sasaran agenda; dan hanya terlihat dari pencapaian lahirnya deklarasi, kesepakatan, dan sejenisnya. Bayangkan sudah ribuan kali yang disebut dengan pertemuan ASEAN itu, dan rasanya selama ini hanya itu sajalah indikator keberhasilan ASEAN. 

Dalam perjalanannya yang panjang sejak dibentuk pada 1967, ASEAN masih bergulat dengan upaya menyosialisasikan ASEAN. Pengetahuan dan kesadaran ASEAN di kalangan masyarakatnya dan khususnya Indonesia, juga di sebagian besar negara ASEAN lain, masih lemah. Menurut saya persoalan TKI saja tidak dan belum tersentuh.

Indah dalam kata-kata

Menurut mereka yang terlibat dalam organisasi ini. Sejak berdirinya ASEAN, relevansi dan manfaat bagi masyarakat sudah digulirkan lewat upaya membangun kawasan yang aman, stabil, dan tak bergejolak. Keamanan dan kestabilan adalah salah satu produk yang langsung dirasakan masyarakat. Menurut mereka, bermodal stabilitas dan keamanan, ASEAN kemudian bisa melakukan banyak hal. Keamanan dan stabilitas di kawasan tak serta-merta turun dari langit. 

Karena itu, keamanan bagi seluruh masyarakat ASEAN adalah sebuah bukti relevansi sekaligus prestasi ASEAN yang bersejarah. Para pemimpin ASEAN mampu mengelola kawasan dalam iklim yang damai sehingga masyarakat bisa beraktivitas secara normal. Padahal kalau di teliti secara cermat, begitu banyaknya masalah yang ada di kawasan, masalah yang ada di depan hidung kita.

Apalagi misalnya kita mau melihat dari sisi fisik, hanya saja menurutDjauhari Oratmangun(kompas6/5/2011) hal seperti itu jangan lihat dalam sisi Asean. Menurut beliau dan ini sesuai dengan sifat organisasi, manfaat ASEAN bagi masyarakat memang tidak dipahami sebagaimana kita memberi makna pada suatu ”lembaga sosial”. 

ASEAN yang memberi manfaat bukan harus diartikan berperan sebagai lembaga sosial. Ini ibarat badan regional yang bekerja menyalurkan beragam paket bantuan sosial dan menyantuni kebutuhan masyarakat di 10 negara ASEAN. Pengertian yang keliru seperti itu tidak pada tempatnya mereduksi makna ASEAN yang berpusat pada masyarakat dan membelokkan makna ASEAN bagi peningkatan partisipasi masyarakat.

Permasalahan di Kawasan

Mari kita lihat secara satu demi satu terkait permasalahan yang ada di kawasan. Misalnya, adanya sengketa wilayah perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Secara fakta, Thailand dan Kamboja telah menantang prinsip dasar dari Bali Concord II maupun Treaty of Amity and Cooperation (TAC) yang menentang penggunaan kekerasan dalam mengatasi perbedaan pendapat antar-sesama anggota ASEAN. Harus diakui, High Council yang dirancang dalam Kerangka TAC tidak berfungsi. Jadi, ada kekosongan mekanisme dalam menghadapi konflik antar-sesama anggota ASEAN.

Di bidang ekonomi, selain macetnya perundingan Doha Development Agenda, semua anggota ASEAN menghadapi adanya gejolak terkait membubungnya harga minyak dan gas bumi serta prediksi terjadinya krisis pangan. Banyak studi yang menggambarkan bahwa memberantas kemiskinan dan keterbelakangan sebagai tujuan Target Pembangunan Milenium (MDGs) masih sangat sulit dicapai tahun 2015. 

Sikap dan kerjasama ASEAN dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan pembangunan ini secara langsung telah memengaruhi kohesivitas regional. Rasanya tidak ada yang berbau Asean muncul di sana.

Wilayah di luar ASEAN telah mengalami berbagai perubahan hal ini terlihat dari berbagai peristiwa penting seperti gelombang demokratisasi di Timur Tengah; sengketa Korut-Korsel yang tidak ada ujungnya; terbunuhnya Osama bin Laden, menyatunya atau rujuk politiknya al-Fatah dan Hamas di Palestina pasca jatuhnya Hosni Mubarak; bencana nuklir di Fukushima dan pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) yang berdampak pada ketidakadilan regional.

Kemudian melemahnya tata kelola pemerintahan global pasca “perang dingin” dalam menghadapi munculnya masalah-masalah baru. Ketidak mampuan dan lemahnya organisasi internasional dalam mengatasi aksi-aksi perompak di Somalia. Tidak berfungsinya IMF dan Bank Dunia dalam menyelesaikan krisis keuangan dunia. Melorotnya peran Dewan Keamanan PBB diperlihatkan dalam ketidak mampuannya dalam mengatasi berbagai krisis seperti Korut-Korsel, Palestina, Libya, dan Pantai Gading.

Imbas dari melemahnya inisiatif-inisiatif pasca-Copenhagen, begitu jugaterkait dengan gagasan baru di Cancun, bagaimana caranya agar bisa terus menjaga momentumnya, dan apakah itu masih mungkin? Ditambah lagi berakhirnya masa kerja Kyoto Protokol tahun 2012,kalau sampai menimbulkan kekosongan efektivitas tata kelola pemerintahan dalam perubahan iklim. Maka petaka baru akan muncul.

Belum Membumi

Yang menggembirakan itu, baru ada sebatas angan-angan. Misalnya takkala Ketua Asean ketemu partnernya dari Uni Eropa. Bisa diduga maka yang diomongkan pastilah potensinya masing-masing. Maka yang muncul adalah angka-angka, yang memang secara nyata mengemukakan fakta yang sesungguhnya. 

Misalnya Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kedua ASEAN. Uni Eropa menyerap 10,9 persen dari total ekspor ASEAN. Bagi Uni Eropa, ASEAN merupakan mitra dagang terbesar ketujuh. Selama periode 2002 dan 2009, perusahaan-perusahaan Eropa menanamkan investasi rata-rata sebesar 10,4 miliar dollar AS di kawasan ASEAN setiap tahun.

Setelah krisis finansial terjadi tahun 1998 lalu, penanaman modal langsung ke ASEAN meningkat tiga kali lipat dari 23 miliar dollar AS pada tahun 1988 menjadi 69 miliar dollar AS pada tahun 2007. Pada saat krisis finansial global 2008, aliran penanaman modal langsung tetap kuat hingga 59 miliar dollar AS. Aliran investasi langsung di antara negara-negara ASEAN meningkat lebih kuat dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.

Kemudian dalam fakta perdagangan, mitra dagang terbesar ASEAN adalah China. Kedua pihak sudah menyepakati Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) mulai Januari 2010. Total perdagangan ASEAN dengan China mencapai 161 miliar dollar AS pada tujuh bulan pertama 2010. Angka ini naik 49,6 persen dari tahun sebelumnya.

Ekspor ASEAN ke China sebesar 84,26 miliar dollar AS atau naik 56,1 persen dari tahun sebelumnya. ASEAN mengimpor 76,74 miliar dollar AS dari China atau naik 43,2 persen. Surplus perdagangan ASEAN dengan China tercatat sebesar 7,52 miliar dollar AS. Surplus ini lebih besar dibandingkan surplus sebesar 400 juta dollar AS tahun lalu. Tapi bagaimana dalam kenyataannya. Nyata-nyata Asean itu masih harus dilihat sebagai pasar yang sangat potensial bagi China dan UE.

Namun demikian, dan bagaimanapun Asean kalau dikelola secara benar pasti akan dapat membawa kemaslahatan di kawasan. Seperti kata mereka penggiat Asean tersebut, terbentuknya solidaritas ASEAN akan berdampak positif pada komunitas politik dan keamanan ASEAN. Karena roh dari Komunitas ASEAN adalah rasa kekitaan atau kebersamaan (entah dimana mereka lihat hal seperti itu; contoh nyata justeru seperti konflik batas Thailand-Kamboja atau Indonesia-Malaysia), pembentukan Komunitas ASEAN harus berlangsung dikerjakan secara gotong royong. 

Jangan sampai pelaku bisnis, akademisi, pemimpin informal, dan para pemuda di negara-negara ASEAN tidak merasakan manfaatnya. Tiap-tiap elemen masyarakat didorong agar punya andil dan saling berinteraksi sehingga terbentuk komunitas regional.

Dan kini, berbagai komunitas itu sudah mulai bertumbuhan misalnya seperti ; Komunitas tekstil tradisional ASEAN, Komunitas Wayang ASEAN, Komunitas antar-universitas di ASEAN, dan Komunitas Editor ASEAN, misalnya, adalah unsur-unsur konkret sebagai semen pengikat solidaritas regional.

Kalau soal gagasan, Asia memang gudangnya; hanya saja yang sering di cap itu adalah” kalau orang asia itu mengagas sesuatu, bukan karena mereka hebat dalam bidangnya, tetapi semata-mata karena memang mereka hanya ahli dalam mengagas saja, mereka tidak mampu kalau mengerjakannya secara nyata; kerjanya ya hanya sebatas mengagas-gagas itu saja. Misalnya terkait dengan adanya gagasan membentuk Institut Perdamaian dan Rekonsiliasi ASEAN. 

Gagasan yang hebat kan?, tetapi ya hanya itu sebatas dalam gagasan saja. Untuk “Take Action” nanti dulu. Kini Indonesia jadi lead, masanya untuk tidak hanya menggagas dan berandai-andai tetapi membumikan maslahat Asean itu menjadi sesuatu yang bermakna bagi kawasan. Mulailah dari hal-hal nyata mencari solusi konflik batas diantara sesame anggota Asean; memberikan rasa aman dan bermakna bagi para pekerja antar Asean; khususnya para TKI. Selamat ber-KTT.