Hari Akbar Muharam Syah
Hari Akbar Muharam Syah karyawan swasta

Karyawan di Salah Satu Perusahaan Swasta Nasional. Menulis tentang Jalan-jalan, sosial dan sastra. Pendatang baru di dunia tulis-menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Air Mancur Seharga Rp 50 Milyar dan Pariwisata Purwakarta

19 Januari 2016   00:56 Diperbarui: 28 Januari 2016   22:41 1121 10 8

Air Mancur di Taman Sribaduga, Purwakarta (Sumber Humas Purwakarta melalui Kompas)

Sepekan yang lalu, pemerintah Kab. Purwakarta diwakili oleh Bupati Dedi Mulyadi meresmikan pembangungan air mancur yang sudah dimulai kontruksinya sejak beberapa tahun silam itu. Air mancur yang diklaim sebagai air mancur terbesar di Asia Tenggara ini berdiri kokoh di tengah Taman Sri Baduga yang tak kalah mewah. Air mancur raksasa bertema Kesundaan dan bernafas tradisional ini digadang-gadang dapat menarik wiasatawan, baik domestik maupun internasional untuk datang ke Purwakarta.

Di salah satu media nasional, Bupati menyebutkan bahwa anggaran untuk membangun air mancur berskala besar ini mencapai Rp50 milyar. "Anggarannya Rp 50 miliar selama tiga tahun. Tahun pertama Rp 15 miliar, tahun kedua Rp 15 miliar. Sisanya di tahun ketiga” Tambah Bupati. Namun, statement ini tak  bisa dirinci secara pasti. Dalam pernyataannya, Bupati tidak menyebutkan  sumber dana secara jelas, apakah dari APBD, hibah atau sumber dana halal lain.

Jika dana tersebut merupakan dana APBD, maka Purwakarta termasuk Kabupaten yang cukup hebat, mengapa? karena dengan berani membelanjakan Rp15M per tahun atau setara 0,8% dari APBDnya hanya untuk membangun sebuah air mancur. Dana Rp15M per tahun atau total Rp50M dalam 3 tahun dapat dibelanjakan untuk membangun jalan desa berkilometer jauhnya, membangun belasan sekolah hingga membuat puluhan fasilitas sumur bor di desa-desa yang langganan kekeringan air.

Pemerintah memang tengah mendongkrak sektor pariwisata terutama dari segi kebudayaan dan tata kota. Selain air mancur,  semua identitas bangunan di kota diselaraskan dengan ragam ornamen bernafas Sunda dan tradisional. Patung, sarung pohon hingga janur dengan biaya tak bisa dibilang kecil, rapat-rapat dipasang untuk menghiasi kabupaten yang dihuni tak lebih dari 900ribu jiwa ini.

Acara besar berskala internasional berkali-kali digelar dengan tajuk silih berganti setiap tahun, pun telah menghabiskan dana yang tak sedikit. Dalam setiap perhelatan itu, slogan Dangiang Galuh Pakuan yang kira-kira artinya spirit Galuh Pakuan ditempel besar-besar di setiap sudut di Purwakarta.

Intrik mistik mengenai Nyi Roro Kidul dan kereta kencana keramat yang sempat menuai kontroversi pun dituang dalam racikan strategi ini, tak lain untuk memunculkan kesan agung, mistis dan menarik. Ya, masyarakat Indonesia memang selalu menggandrungi hal-hal mistis.

Namun usaha ini terkesan artifisial. Purwakarta yang sebenarnya terbilang memiliki keeratan yang tak teramat dekat dengan kerajaan-kerajaan Sunda, apalagi Legenda Nyi Roro Kidul seperti dipaksakan mengambil tajuk tourism marketing dengan mengangkat kerajaan Galuh Pakuan-beserta segala atribut didalamnya seperti nama Siliwangi dan Sri Baduga Maharaja- sebagai brand Icon. Masyarakat Sunda Purwakarta secara khusus nyaris tak memiliki latar belakang dan kedekatan dengan atribut-atribut tersebut.

Hal ini senada dengan apa yang  diungkap A. Sobana Hardjasaputra dalam penelitian ilmiahnya bertajuk Sejarah Purwakarta. Sobana menyebutkan bahwa kebudayaan Purwakarta adalah kebudayaan Sunda yang lebih dekat dan erat dengan kebudayaan Islam. Hal ini disebabkan karena perkembangan peradaban masyarakat Purwakarta Baru muncul setelah perkembangan Agama Islam tumbuh di Tanah Air. Peradaban Purwakarta tak setua Sumedang bahkan Bogor yang jauh telah terbentuk saat hegemoni Kerajaan-kerajaan sunda masih berpengaruh di tatar Jawa Barat.

Dalam bab Lain, Sobana menyebutkan bahwa Berdasarkan kajian beberapa dokumen sejarah Purwakarta, Masyarakat Sunda Purwakarta bahkan sama sekali tak pernah disebut dalam naskah kuno kerajaan Sunda, baik Galuh, Padjadjaran maupun Sumedang. Purwakarta sebelum menjadi Kabupaten adalah bagian dari wilayah Sindangkasih, sebuah wilayah kecil di bawah kekuasaan teritori Karawang.

Bagian awal perjalanan sejarah Sindangkasih (Purwakarta) adalah bagian dari sejarah Karawang. Sejak kapan di daerah Karawang terdapat tempat (pemukiman) bernama Sindangkasih, belum diketahui secara pasti. Hal itu disebabkan sumber sejarah yang memuat data tentang asal-usul Sindangkasih belum ditemukan, atau memang tidak ada. Pun Karawang sebagai nama tempat disebut-sebut dalam sejarah daerah Jawa Barat setidaknya baru sejak pertengahan abad ke-15. Papar Sobana dalam Bab mengenai cikal bakal Purwakarta.

Berkecil hati, tentu bukan saatnya demikian. Purwakarta sebagai kabupaten yang kaya secara tofografi tentu memiliki objek wisata lain yang lebih menjanjikan,  Wisata alam! Tak dipungkiri, sebagai wilayah yang terhampar luas di daerah perbatasan kawasan landai pantai utara dengan kawasan berbukit daerah Priangan, Purwakarta menyimpan begitu banyak pesona alam yang sebagian besar masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.

Daerah  bukit-bukit andesit di sekitar Jatiluluhur, kompleks intrusi Gunung Cupu hingga Gunung Aseupan menyimpan keelokan yang belum banyak terekspos. Belum lagi sungai dan air terjun nan jernih di bawah kaki gunung Burangrang yang fasilitasnya banyak yang belum memadai. Meski angin segar datang dari pernyataan kepala Bappeda Purwakarta yang menyebutkan akan mengalokasikan dana Rp 5 milyar untuk wisata Gunung Parang pada 2016 mendatang. Namun, bagaimana nasib tempat wisata lain yang sudah saya sebutkan tadi?

Potensi yang saya sebutkan di atas belum lagi potensi wisata budaya seperti kampung budaya di Tajur yang menurut hemat saya belum mampu terpasarkan sebaik kampung Naga di Tasikmalaya ataupun Kampung Baduy di Banten. Pun jika Purwakarta akan mengangkat tema wisata sejarah, akan lebih menjanjikan jika mengangkat tema sejarah dari sudut pandang lain.

Tema  heroik mengenai pertempuran-pertempuran yang pernah terjadi di Purwakarta, sejarah bangunan peninggalan Belanda hingga pahlawan dan ulama-ulama yang telah membangun Purwakarta tentu akan terasa lebih nyata dan terukur secara histori. Jelas ikon-ikon itu akan lebih terkesan natural dan memang memiliki hubungan emosional yang lebih erat dengan wilayah yang telah genap berusia 184 tahun ini.

Pembangunan air mancur seharga puluhan milyar menurut saya bukan srategi yang baik. Masyarakat Jakarta dapat dengan mudah menemukan air mancur serupa ini di bundaran HI, Monas bahkan di Grand Indonesia, pun masyarakat Bandung akan dengan mudah melihat aksi serupa di Cikapundung, meski dengan skala yang lebih kecil.

Masyarakat Plered atau Maniis- yang jaraknya belasan kilometer dari Kota Purwakarta- akan merasa jengah juga jika setiap akhir pekan menghabiskan waktu dengan memandangi air mancur yang sama. Pun bagi saya, yang sehari-hari tingga di Jakarta, mengunjungi air mancur yang sama berulang-ulang nampaknya agak sedikit membuat Saya bosan.

Membangun air mancur sebagai destinasi utama-tanpa destinasi wisata kota pendukung lainnya - menurut saya bukan ide yang cemerlang. Dubai dan Singapura membangun air mancur hanya sebagai penarik minat, bukan wisata utama. Karena wisata utama yang menyumbangkan pendapatan melimpah adalah wisata belanja dan hiburan kota yang mumpuni. Kedua kota maju ini memang didukung dengan fasilitas urban yang telah dibangun dengan amat baik, apakah Purwakarta siap dengan segala fasilitas kotanya?

****

Begitulah kebijakan, ditebar bak komoditas dagang. Laku atau tidaknya, populer atau tidaknya kembali lagi pada respon masyarakat, suka atau tidak suka. Namun terlepas dari suka atau tidaknya masyarakat, tentu derajat kebermanfaatan sebuah kebijakan atau program sebenarnya dapat diukur secara kualitatif dan objektif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2