Mohon tunggu...
Hari Akbar Muharam Syah
Hari Akbar Muharam Syah Mohon Tunggu... Karyawan

Karyawan di Salah Satu Perusahaan Swasta Nasional. Menulis tentang Jalan-jalan, sosial dan sastra. Pendatang baru di dunia tulis-menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Buku, Celah Kecil Melihat Dunia yang Maha Luas

28 Oktober 2014   05:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:29 65 0 0 Mohon Tunggu...

Satu demi satu huruf itu terangkai, membentuk kata yang kian bermakna, di atas kertas usang berwarna abu-abu dan sampul berangka tahun 1980. Adalah 'Bumi Manusia' buku non fiksi  pertama yang saya baca dari awal hingga akhir tanpa merasa jengah sedikitpun. Buku hasil tangan dingin Pramoedya Ananta Toer ini sempat menjadi kontroversi karena begitu banyak menengahkan hal-hal tabu yang diangkat kedalam sebah kisah roman yang mengharu biru, prostitusi, perlawanan dan kebebasan mendominasi ide dalam buku ini. Buku yang ditulis saat Pramoedya dipenjara di Buru ini benar-benar memberi sedikit celah menuju dunia yang maha luas, bergerak lincah menyusuri masa lalu dan melesat menerawang masa depan, membuka' jendela' baik penulis sendiri, maupun bagi jutaan pembaca di luar penjara Buru

Meski lusuh, buku ini mampu memberi imaji pada pembacanya mengenai kuatnya perlawanan pribumi terhadap penjajahan. Meski ditulis dengan tinta monocrome, buku ini mampu melukiskan jutaan ragam warna saat Pramoedya menggambarkan indahnya perkebunan besar milik seorang Belanda di Wonokromo, Boerderij Buitenzorg. Meski disusun tahun 1975, buku ini mampu membawa kita kembali pada awal abad 19 dengan suasana yang seolah-olah benar-benar tercipta di sekeliling pembaca, dengan apik penulis mampu menghadirkan suasan gersang saat perkebunan tebu mendominasi Jawa, saat tanam paksa menghadirkan selaksa penderitaan pada pribumi dan saat Belanda mengeruk semua kekayaan Nusantara dan membawanya ke negaranya di Eropa jauh sana. Sungguh menghadirkan masa silam ke tengah benak pembaca.

Lain lagi dengan buku Sherlock Holmes besutan Sir Artur Conan Doyle yang selama ini tidak pernah ketinggalan saya baca. Meski saya membacanya di ruang tidur, Sir Arthur mampu mengajak saya melanglang jauh ke Britania Raya pada awal abad 18, menyusuri jalanan kumuh Kota London dan Manchaster, bertualang dengan penjahat-penjahat Rusia hingga turut memusuhi sang antagonis, Profesor Moriarti. Buku ini mampu mengajak kita berdialog dengan alam sadar Sherlock Holmes bahkan membantu detektif ini memcahkan masalah. Sir Arthur mampu membuat pembaca ikut berfikir dan berdiskusi dengan alur, dengan idenya yang begitu cerdas meletup-letup. Mengajarkan pembaca tentang bagaimana menganalisa masalah, mengurai fakta hingga menghasilkan kesimpulan yang tak terbantahkan.

Jika kedua buku fiksi itu saja dapat membuka sedikit celah wawasan horizon pengetahuan kita, apalagi dengan puluhan buku ilmiah dan buku pelajaran yang pasti pernah kita baca saat duduk di bangku sekolah dulu. Dari buku-buku ilmiah itu kita mampu mendalami identitas manusia beserta lingkungan sosialnya, melakukan beragam perhitungan dan melahirkan banyak formula, mengenal alam raya beserta isinya. Dengan buku, kita mampu mendapatkan gambaran utuh mengenai makhluk sebesar matahari hingga jasad renik dan wujud sekecil atom. Dengan pengetahuan yang diserap dari buku, manusia bukan sekadar membaca, tapi mampu membaca tanda Tuhan dan menjadi mafhum akan kewajibannya di atas dunia ini. Dengan helai demi helai halaman buku, manusia mampu melihat dan memanfaatkan   jutaan warna dan rupa sumber daya yang sudah diamanahkan oleh Tuhan untuk alam, manusia itu sendiri beserta makhluk seisi dunia.

VIDEO PILIHAN