Hariadhi
Hariadhi Desainer, Penulis

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cegah Stunting, Pak Jokowi Hadiahkan 20 Sepeda untuk Suku Anak Dalam di Hari Anak Nasional

27 Juli 2018   14:58 Diperbarui: 27 Juli 2018   15:15 793 2 3
Cegah Stunting, Pak Jokowi Hadiahkan 20 Sepeda untuk Suku Anak Dalam di Hari Anak Nasional
Screenshot Google


Kok bisa mengatasi gizi buruk pake sepeda? Emang sepeda bisa dimakan?

Jadi begini ceritanya.. setelah berkali-kali keluar masuk dan bantu Suku Anak Dalam, saya dan teman relawan lainnya jadi makin mengerti sebab 2015/16 kemarin Suku Anak Dalam kelaparan. 

Atas pertolongan relawan di Jambi, Pery Monjuli, saya berhasil menemui Jenang (kepala suku besar penghubung) Suku Anak Dalam di Air Hitam, Sarolangun Jambi. Jenang Jala Ludin namanya. Jika teman-teman search di Google, ada berbagai versi Jenang Suku Anak Dalam akibat kesembronoan pemerintah mencampuri adat istiadat mereka. Tapi itu bagian dari masa lalu yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi. Tapi yang jelas Jenang Jala Ludin ini cukup bertanggung jawab dengan tugasnya, mengurusi segala keperluan Suku Anak Dalam, terutama yang berhubungan dengan dunia luar.

Sebelum saya masuk pun, saat saya bertanya kepada warga setempat, seorang Ibu pedagang di Pasar, anggap saja namanya Bunga, mengingatkan dengan muka prihatin. "Wah sekarang SAD itu lah idak bisa cuma dikasi rokok. Sudah mulai pintar mereka!" Saya jadi terheran-heran, "Lho kok masyarakat tertinggal bisa lebih maju malah dianggap problem? Bukannya bagus kalau mereka jadi lebih pintar?

Setelah diberi briefing singkat oleh Jenang, barulah saya paham bahwa Suku Anak Dalam Jambi selama ini menjadi korban eksploitasi, dijadikan pajangan dan tontonan, serta objek untuk dikasihani oleh warga pendatang. Secara rutin mereka diberikan bantuan konsumtif, seperti beras, kopi, rokok, ikan, tapi ujungnya dijadikan bahan foto-foto. Selesai diberikan, ya sudah, pulang, merasa sudah beramal besar. Padahal itu semua menghasilkan bencana dahsyat yang ujungnya adalah kelaparan di Suku Anak Dalam.

Ya, bantuan-bantuan itu secara perlahan mengubah pola konsumsi makanan dan gaya hidup Suku Anak Dalam. Dari pemburu dan pengumpul makanan (hunter and gatherer) jadi mulai bergantung kepada hasil pertanian yang mereka sendiri kesulitan memproduksinya. Mereka yang selama ini terbiasa mencari sendiri makanan di hutan, mulai duduk-duduk di pinggir jalan, menunggu kapan bantuan berikutnya datang.

Dan seperti juga yang dihadapi Butet Manurung di sekitar Tebo dan TNBT, bahasa adalah kendala utama Suku Anak Dalam..sulit sekali mengajari mereka membaca karena cara bicara dan spelling mereka jauh beda dgn kita. Butuh ahli bahasa yg jago. Mengajari mereka harus serius, harus yang segigih Butet. Tak bisa sekali lewat lalu berharap mereka pintar semua.

Selain itu ada stigma terhadap Suku Anak Dalam yang tidak adil seperti malas, banyak maunya, tidak mau maju, bahkan bau tak mau mandi. 

Sebelum saya masuk, ibu-ibu sekitar mengingatkan "Hati-hati kalau dekat sama mereka, banyak yang berbulan-bulan tidak mandi, sehingga dari jarak 10 meter saja baunya nempel." Sebuah cap stempel yang kejam, yang membuat mereka selalu ditekan sebagai pihak yang inferior. Padahal saat saya temui, mereka sudah mandi sore, dan bedakan, walaupun tetap tinggal di hutan dan hidup di tenda alam, beratapkan dahan dan dedaunan.

Lebih lanjut, dengan kesulitan mereka berbahasa indonesia, jangankan baca dan tulis, sementara mereka mulai berubah gaya dan tuntutan hidupnya, membuat mereka mulai butuh uang. Apalagi sumbernya kalau bukan tanah mereka?

"Banyak yang tidak mengerti ditawari kontrak, lalu tanda tangan, lepaslah tanah tempat mereka berpindah-pindah," kata Jenang.

Ya memang dengan kondisi gaya hidup sudah berubah, butuh uang, kelaparan, tak mengerti cara menanam, lalu datanglah oknum-oknum yang tawarkan mereka uang dengan keharusan menandatangani kontrak-kontrak tertentu yang mereka sulit baca.

Maka tergadailah sepetak demi sepetak lahan mereka, yang mereka sendiri tak mengerti. Hutan mulai terkonversi jadi kebun sawit. Mereka ingin menuntut balik, tak mengerti hukum. Cuma bisa gigit jari saat hutan mereka menghasilkan uang dari sawit.

Jadilah sekarang hutan mereka yang harusnya memberikan sumber makanan berganti jadi prahara.  Awalnya mereka tinggal di hutan, sekarang perlahan tergeser menjadi di tepi-tepi kebun sawit dan karet, tanpa boleh memungut apa-apa. Tanahnya yang awalnya subur, ikan dan buah di mana-mana, sekarang cuma ada sawit dan karet yang mereka juga dilarang disentuh. Bahkan dicuri pun keduanya tak bisa dimakan. Bagaimana mau berdagang? Membaca dan berhitung saja sulit.

Bahkan pemda pun ogah ngurusin jalan masuk akses mereka sudah belasan tahun terakhir. Saya udah coba offroad di sana pake Toyota Calya. Alhamdulillah beberapa kali kakinya nyangkut dan selip. Tapi beruntung mobil ini cukup tangguh.

Luar biasa bikin ingin nangis, berasa bukan Indonesia!

Tapi mereka beruntung memiliki Jenang dalam struktur adatnya. Jenang adalah semacam kepala suku tertinggi yang dihormati semua temenggung (kepala suku lebih kecil) yang anehnya justru diangkat dari warga non Suku Anak Dalam. "Saya ini lulusan SMEA, dan memang punya passion tinggi mengajar anak-anak itu," Betul! Karena jenangnya dipilih dari warga luar, maka mereka lebih maju pemikirannya dan bisa mengajari Suku Anak Dalam untuk berbenah diri, memperbaiki nasib.

Dulu jenang sering dianggap remeh, sekedar penghubung Suku Anak Dalam dengan dunia luar. Padahal posisinya vital dan sangat disegani. 

Setiap ada masalah di SAD seperti konflik lahan, kemalangan, sakit, dan lain-lain, pasti baik aparat maupun warga SAD akan mengadu kepada Jenang. "Sayangnya saya tidak memiliki pengakuan sebagai Jenang, sehingga sulit bagi saya mengupayakan bantuan dari perusahaan-perusahaan. Saya hanya butuh itu saja! Selembar surat yang menyatakan saya adalah Jenang Suku Anak Dalam. Karena toh yang sebenarnya sibuk mengurusi mereka ini saya. Kalau kesulitan dan kemalangan mengadunya pun ke saya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3