Keamanan

Video Santri dan Aksi Pengamanan Polisi

17 Mei 2018   08:09 Diperbarui: 17 Mei 2018   08:09 732 0 0
Video Santri dan Aksi Pengamanan Polisi
dok.pribadi

Beredarnya video pemeriksaan barang bawaan seorang santri yang membawa kardus dan tas tebal oleh anggota Polisi dengan cara memerintahkan untuk membuka barang-barang bawaan tersebut secara jarak jauh sekira 10 meter dengan posisi siaga, telah mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat.

Kejadian ini berselang sehari setelah peristiwa terkutuk yang "memukul" masyarakat Surabaya dengan aksi teror (ledakan bom bunuh diri) secara berurutan.

Menurut kawan saya anggota Brimob yang saya kenal memberi tahu bahwa keadaan di Jawa memang lagi disiagakan satu. Hal-hal yang mencurigakan, baik perorangan maupun barang, harus diperlakukan secara seksama. Agar tidak terjadi peristiwa yang sama: sosok mencurigakan mendekati kerumunan, dan tiba-tiba meledak.

Kembali ke santri tadi.

Kabar yang sampai ke saya, si santri tadi hendak pulang karena pesantrennya libur di bulan puasa. Dia mau posonan (tradisi ngaji kilat) ke pesantren lain, namun pingin pulang dahulu ke rumah.

Dia patut kesal. Karena dipermalukan di tengah jalan layaknya teroris yang terjaring. Makanya, dia kurang begitu kooperatif. Ya karena kesal saja. Tapi dalam hati sebenarnya dia tidak ada masalah.

Bagi santri seperti saya atau Anda yang pernah mengalaminya, pulang liburan sudah barang tentu membawa bekal berupa kardus dan tas yang dijejali pakaian (dan beberapa kitab). Di Kudus masih nampak santri yang beginian.

Setelah mendapati isi kardus dan tas si santri tadi, petugas Brimob pun menurunkan senjata laras panjangnya. Mereka meminta maaf karena telah memperlakukannya tidak layak di muka umum. Dan akhirnya diajak ngopi dan ngobrol.

Di media sosial saya tidak menemukan cibiran pada aparat kepolisian. Banyak yang memaklumi. Beberapa santri dan kiai pun permisif dengan tindakan aparat.

"Kita sedang waspada. Teroris dapat menyamar menjadi apa saja. Harga keamanan itu jauh lebih mahal daripada kekesalan yang dialami santri ataupun siapa saja yang mengalami penggeledehan yang sama."

Begitu. Dan sudah. Tidak ada aksi yang berlebihan.

Tapi...

Hanya akun-akun yang tidak berafiliasi ke NU (yang namanya pesantren salaf jelas Nahdliyin lah) yang berupaya keras menggiring kejadian tadi dengan sangat zalim: aparat polisi mendiskriminasi Islam, pemerintah sedang terjangkit Islamophobia (ketakutan pada Islam), Brimob anti-Islam, dan  #2019GantiPresiden.

Tidak perlu untuk melihat peristiwa santri tadi; tindakan kepolisian sudah benar, dan jangan sampai Anda terbawa ke opini prematur yang sesat. Hanya diperlukan akal sehat untuk menilai suatu kejadian. Jangan sampai terpropokasi.....